KOMPAS, RABU, 30 JULI 2014 – RUBRIK OPINI
Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
Biasanya dimulai saat bangun pagi di mana korban merasa tak enak badan. Tak ada nafsu makan, kepala pusing, tenggorokan sakit, demam, dan menggigil.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuh korban tidak beda dengan penyakit lain yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Namun, ternyata penyakit ebola jauh lebih agresif. Belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Ebola secara perlahan-lahan mulai menyusup dari hutan ke kota dan menembus batas-batas wilayah negara. Ebola membuat ratusan dokter frustasi dalam upaya menyelamatkan korban, tetapi masih selalu gagal menaklukkan penyakit ini.
Tampilkan postingan dengan label Zoonosis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zoonosis. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Agustus 2014
Selasa, 11 Februari 2014
Analisis kebijakan program pembebasan brucellosis di Indonesia (belum final)
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Brucellosis pada sapi (bovine brucellosis) merupakan suatu penyakit reproduksi yang disebabkan oleh kuman brucella, yang menyebabkan keguguran (abortus), anak sapi lahir lemah dan beratnya ringan, perpanjangan jarak beranak (calving interval), dan penurunan produksi susu pada induk sapi potong dan sapi perah. [1] Penyakit ini dapat menular ke manusia (zoonosis) dengan menimbulkan gejala berupa demam intermiten, berkeringat, sakit kepala, lemah, nyeri sendi dlsbnya (tidak spesifik, mirip dengan penyakit lain yang juga menimbulkan demam). [2, 14]
| Petugas sedang melakukan uji brucellosis di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe C Dinas Peternakan Kabupaten Blitar http://dinaspeternakankabupatenblitar.blogspot.com |
Rabu, 27 Maret 2013
Daging satwa liar: Faktor budaya, sosio-ekonomi dan potensi sumber penyakit zoonosis
"In the past couple years, a new mode of transmission for zoonotic diseases has emerged. Human handling and consumption
of bushmeat, defined as “the use of wild animals for food, ranging from cane rats to gorillas,” has been cited as a source for several zoonotic diseases in Africa." [5]Jumat, 17 Agustus 2012
Perspektif sosio-ekologis zoonosis
“The resurgence and epidemiology of zoonoses are complex and dynamic, being influenced by varying parameters that can roughly be categorized as human-related, pathogen-related, and climate/environment-related; however, there is significant interplay between these factors.”
Bruce A. Wilcox and Duane J. Gubler (2005). Disease Ecology and the Global Emergence of Zoonotic Pathogens. Special Issue. Environmental Health and Preventive Medicine 10, 263–272
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Sepanjang sejarah manusia, pola kesehatan dan penyakit telah melampaui transisi dramatis yang merefleksikan perubahan-perubahan sosial dan ekologis. [1] Dimulai sejak sepuluh ribu tahun yang lampau, perubahan epidemiologis pertama yang berkaitan dengan kemunculan penyakit terjadi selama peralihan dari perburuan ke pertanian. Bersamaan dengan pemukiman penduduk yang semakin permanen dan meluas, domestikasi hewan dan perubahan diet manusia serta organisasi sosial telah meningkatkan kemunculan zoonosis. [2]
Rabu, 25 Juli 2012
Deforestasi, satwa liar dan ancaman kemunculan zoonosis
"With the interweaving of forests, pathogens and the development of human civilization, deforestation and other land use changes have an important part in the emergence of disease."
B.A. Wilcox and B. Ellis (2006)
Unasylva, an International Journal of forestry and forest industries Vol. 57, 224
FAO of the United Nations
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Kemunculan tiba-tiba penyakit seperti severe acute respiratory syndrome (SARS), diikuti dengan timbulnya dampak penyakit yang merusak seperti Ebola baik bagi komunitas manusia dan satwa liar, serta dampak biaya sosial dan ekonomi yang besar sekali akibat virus-virus seperti human immunodeficiency virus (HIV) telah mendesak kepentingan kita untuk lebih memahami ekologi penyakit menular. [1] Kepentingan yang didorong oleh suatu kenyataan yang terjadi saat ini dimana perubahan lingkungan dapat memicu kontak yang lebih intens antara manusia dengan satwa liar dan akibatnya meningkatkan kemungkinan pertukaran penyakit menular yang merugikan baik bagi manusia maupun satwa liar itu sendiri.
Unasylva, an International Journal of forestry and forest industries Vol. 57, 224
FAO of the United Nations
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Kemunculan tiba-tiba penyakit seperti severe acute respiratory syndrome (SARS), diikuti dengan timbulnya dampak penyakit yang merusak seperti Ebola baik bagi komunitas manusia dan satwa liar, serta dampak biaya sosial dan ekonomi yang besar sekali akibat virus-virus seperti human immunodeficiency virus (HIV) telah mendesak kepentingan kita untuk lebih memahami ekologi penyakit menular. [1] Kepentingan yang didorong oleh suatu kenyataan yang terjadi saat ini dimana perubahan lingkungan dapat memicu kontak yang lebih intens antara manusia dengan satwa liar dan akibatnya meningkatkan kemungkinan pertukaran penyakit menular yang merugikan baik bagi manusia maupun satwa liar itu sendiri.
Minggu, 17 Juni 2012
Kemunculan zoonosis: Dimensi orang, hewan dan lingkungan
| Microbial View |
"Emerging Infectious Diseases: Confronting the Triple Threat - Humans, Animals, and the Environment"
Dr. Lonnie J. King
College of Veterinary Medicine, Michigan State University, East Lansing, Michigan 48824-1314, USAOleh: Tri Satya Putri Naipospos
Pada dasarnya ada banyak faktor dan kekuatan pendorong yang saling berkonvergensi atau saling bergabung untuk menciptakan era munculnya penyakit baru dan penyakit lama yang muncul kembali (emerging and re-emerging diseases). Kekuatan pendorong seperti globalisasi, teknologi, restrukturisasi sistem pertanian, konsumerisme, dan isu-isu sosial kontemporer yang telah membawa kita memasuki abad ke-21 bukan hanya dengan kecepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya tapi juga menambah kompleksitas yang sudah ada sebelumnya. [1]
Sabtu, 09 Juni 2012
Zoonosis, perjalanan dan wisata
“The movement of populations shapes the pattern and distribution of infectious diseases globally”
Wilson, M.E. (2003)
The traveler and emerging infections: sentinel, courier, transmitter. Journal of Applied Microbiology Symposium Supplement, v. 94, p. 1S-11S
Perjalanan global telah berevolusi secara dramatis selama dua abad terakhir ini, dengan eskalasi kecepatan, jarak dan volume yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karena distribusi geografis penyakit adalah dinamis dan dipengaruhi oleh faktor-faktor ekologi, genetik dan orang, maka perjalanan memungkinkan orang untuk berinteraksi dengan mikroba dan memperkenalkan patogen ke lokasi dan populasi baru. Kenaikan jumlah orang yang melakukan perjalanan dan mobilitas spasialnya telah mengurangi hambatan geografis dan meningkatkan potensi penyebaran penyakit menular termasuk zoonosis. [1]
Sabtu, 28 April 2012
Penyakit hewan, zoonosis dan pengendalian penyakit: Dampaknya terhadap pengentasan kemiskinan
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Wabah penyakit hewan seringkali jadi ancaman nyata bagi subsektor peternakan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, baik dari sudut pandang dampak ekonomi penyakit itu sendiri maupun tindakan yang dijalankan untuk mengurangi risiko penyakit. [1] Dampak penyakit hewan tersebut bersifat multi-dimensional dan tidak selalu mudah dipahami dengan baik, sehingga memperumit efektivitas respon kebijakan. [2]
Di negara-negara berkembang seperti juga Indonesia, ternak berperan sebagai bagian penting dari kesejahteraan rumah tangga dan dalam kondisi tertentu berfungsi sebagai jalan keluar pengentasan kemiskinan. Dalam konteks dimana ternak berkontribusi terhadap pangan, pendapatan, tenaga kerja, aset, dan berbagai fungsi sosial, dampak penyakit hewan terutama terhadap kemiskinan sulit diabaikan begitu saja. [3, 4, 5]
Wabah penyakit hewan seringkali jadi ancaman nyata bagi subsektor peternakan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, baik dari sudut pandang dampak ekonomi penyakit itu sendiri maupun tindakan yang dijalankan untuk mengurangi risiko penyakit. [1] Dampak penyakit hewan tersebut bersifat multi-dimensional dan tidak selalu mudah dipahami dengan baik, sehingga memperumit efektivitas respon kebijakan. [2]
![]() |
| Sumber: Gomong.com |
Minggu, 18 Maret 2012
Pertanian dan Kesehatan: Hubungan inter-sektoral yang tak pernah putus
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Dunia menyadari bahwa meningkatnya ancaman dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit berasal dari hewan atau zoonosis di wilayah Asia dan Pasifik nampak semakin nyata dengan munculnya wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada tahun 2004. Potensi geografis yang dijangkau oleh ke-dua wabah penyakit ini, begitu juga dampak sosio-ekonomi dan respon tindakan yang dijalankan telah mengubah lansekap atau bentangan kesehatan manusia. [1]
Metafora globalisasi, urbanisasi, dan ekspansi populasi yang selama ini membentuk lintasan pembangunan Asia juga cenderung merusak kelestarian lingkungan dan kesehatan hewan. Konvergensi dari kecenderungan ini – berbarengan dengan faktor-faktor determinasi budaya, seperti pola makan dan praktek-praktek pertanian tradisional – telah menghubungkan secara erat kesehatan dengan satwa liar, manusia dan hewan domestik. [1]
Dunia menyadari bahwa meningkatnya ancaman dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit berasal dari hewan atau zoonosis di wilayah Asia dan Pasifik nampak semakin nyata dengan munculnya wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada tahun 2004. Potensi geografis yang dijangkau oleh ke-dua wabah penyakit ini, begitu juga dampak sosio-ekonomi dan respon tindakan yang dijalankan telah mengubah lansekap atau bentangan kesehatan manusia. [1]
Metafora globalisasi, urbanisasi, dan ekspansi populasi yang selama ini membentuk lintasan pembangunan Asia juga cenderung merusak kelestarian lingkungan dan kesehatan hewan. Konvergensi dari kecenderungan ini – berbarengan dengan faktor-faktor determinasi budaya, seperti pola makan dan praktek-praktek pertanian tradisional – telah menghubungkan secara erat kesehatan dengan satwa liar, manusia dan hewan domestik. [1]
Minggu, 03 Juli 2011
Manusia, hewan, patogen dan planit kita
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Pada dasarnya kita cenderung merasa bahwa dunia disekitar kita terbentuk oleh karena budaya dan industri lebih dari sejarah alam itu sendiri. Padahal perlu disadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan biologik yang meliputi semua spesies hidup di planit ini. Semua spesies bukan hanya manusia, akan tetapi juga hewan, tanaman, jamur dan patogen berbagi prinsip biokimiawi dasar yang sama dalam hal metabolisme, reproduksi dan pertumbuhan. Satu hal yang sejak dahulu kala juga difikirkan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. [1, 2]
Dunia mengenali bahwa penyakit-penyakit yang baru muncul dan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) yang berpotensi pandemik terjadi secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dan sebagian besar bersumber dari hewan (zoonosis).
Baik habitat alam maupun lingkungannya yang dikendalikan manusia seperti sistem produksi pertanian dan rantai suplai pangan adalah habitat dimana patogen dapat muncul, bersirkulasi, berubah secara dinamis, dan kadangkala bisa berpindah ke induk semang yang spesiesnya berbeda. [1]
Pada dasarnya kita cenderung merasa bahwa dunia disekitar kita terbentuk oleh karena budaya dan industri lebih dari sejarah alam itu sendiri. Padahal perlu disadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan biologik yang meliputi semua spesies hidup di planit ini. Semua spesies bukan hanya manusia, akan tetapi juga hewan, tanaman, jamur dan patogen berbagi prinsip biokimiawi dasar yang sama dalam hal metabolisme, reproduksi dan pertumbuhan. Satu hal yang sejak dahulu kala juga difikirkan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. [1, 2]
Dunia mengenali bahwa penyakit-penyakit yang baru muncul dan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) yang berpotensi pandemik terjadi secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dan sebagian besar bersumber dari hewan (zoonosis).
Baik habitat alam maupun lingkungannya yang dikendalikan manusia seperti sistem produksi pertanian dan rantai suplai pangan adalah habitat dimana patogen dapat muncul, bersirkulasi, berubah secara dinamis, dan kadangkala bisa berpindah ke induk semang yang spesiesnya berbeda. [1]
Minggu, 12 Juni 2011
Indonesia: salah satu ‘hotspot’ zoonosis di Asia Tenggara?
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Indonesia terletak di Asia Tenggara yang dianggap sebagai salah satu ’wilayah panas’ di dunia (global hotspot) dari penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) dan yang muncul kembali (re-emerging infectious diseases), termasuk yang berpotensi menimbulkan pandemi (lihat Gambar 1). Penyakit-penyakit menular tersebut memiliki implikasi luar biasa hebatnya terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi suatu negara. Seperti flu burung H5N1 yang berdampak ekonomi sangat merugikan bagi industri perunggasan.
Indonesia terletak di Asia Tenggara yang dianggap sebagai salah satu ’wilayah panas’ di dunia (global hotspot) dari penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) dan yang muncul kembali (re-emerging infectious diseases), termasuk yang berpotensi menimbulkan pandemi (lihat Gambar 1). Penyakit-penyakit menular tersebut memiliki implikasi luar biasa hebatnya terhadap kesehatan masyarakat dan ekonomi suatu negara. Seperti flu burung H5N1 yang berdampak ekonomi sangat merugikan bagi industri perunggasan.
| Gambar 1: Wilayah panas (hotspot) zoonosis di dunia |
Rabu, 05 Januari 2011
Medik Konservasi dan Ecohealth sebagai pendekatan transdisiplin dalam kesehatan hewan
Peringatan Ulang Tahun ke-5 Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS). Seminar Setengah Hari dengan tema “Pendekatan Ecohealth dalam Pengendalian Emerging dan Re-emerging Infectious Diseases” diselenggarakan di Bogor, 8 Januari 2011
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Pendahuluan
Penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) dikenal sebagai salah satu ancaman nyata terhadap kesehatan manusia dalam 30 tahun belakangan ini. Penyakit-penyakit baru muncul tersebut baik meluas secara cakupan geografis; berpindah dari satu spesies hospes ke yang lain; meningkat dalam dampak atau keganasannya; mengalami perubahan patogenesis; atau disebabkan oleh patogen yang berevolusi. [1]
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Pendahuluan
Penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases) dikenal sebagai salah satu ancaman nyata terhadap kesehatan manusia dalam 30 tahun belakangan ini. Penyakit-penyakit baru muncul tersebut baik meluas secara cakupan geografis; berpindah dari satu spesies hospes ke yang lain; meningkat dalam dampak atau keganasannya; mengalami perubahan patogenesis; atau disebabkan oleh patogen yang berevolusi. [1]
Senin, 01 November 2010
Perdagangan satwa liar dan risiko penyakit zoonosis
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Kebanyakan penyakit-penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) disebabkan oleh agen patogen yang sifatnya dapat menular ke manusia (zoonosis). Jumlah dan proporsi penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan khususnya satwa liar meningkat secara subtansial dalam beberapa dekade belakangan ini. [1]
Pada kenyataannya ancaman terhadap kesehatan global dan faktor risiko munculnya penyakit-penyakit menular tersebut bukan hanya dipicu oleh perubahan iklim, kemiskinan sampai kepada isu-isu keamanan global, akan tetapi juga oleh perdagangan satwa liar. Perdagangan global satwa liar menimbulkan mekanisme penularan yang bukan hanya menyebabkan wabah penyakit pada manusia, akan tetapi juga mengancam peternakan, perdagangan internasional, kehidupan pedesaan, populasi alamiah satwa liar dan kesehatan ekosistem. [2, 3]
Kebanyakan penyakit-penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) disebabkan oleh agen patogen yang sifatnya dapat menular ke manusia (zoonosis). Jumlah dan proporsi penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan khususnya satwa liar meningkat secara subtansial dalam beberapa dekade belakangan ini. [1]
![]() |
| Perdagangan satwa liar di Menado (Taken from J. Otte presentation) |
Rabu, 21 Juli 2010
Keterkaitan hewan-manusia dan industri ternak: Perlunya biosekuriti dan biokontainmen
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos*)
Memahami keterkaitan hewan-manusia (animal-human interface) adalah elemen penting untuk mengevaluasi dan memprediksi risiko munculnya penyakit zoonosis, begitu juga dalam hal merancang program pencegahan dan deteksi dini berbasis kejadian (evidence base).
Transformasi produksi ternak di berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan negara-negara maju lainnya di abad ke-20 lalu telah menghasilkan sejumlah besar operasi industri skala besar yang melibatkan kepadatan ternak yang tinggi. Industri ternak yang pada dasarnya menjadi sumber sebagian besar protein hewani bagi penduduk dunia (1).
Berbagai organisasi internasional maupun ilmuwan dunia mengungkapkan adanya bukti-bukti ilmiah tentang keterkaitan antara intensifikasi produksi ternak dan risiko kesehatan global (4). Sebagai contoh dari keterkaitan ini antara lain munculnya penyakit Nipah pada tahun 1999, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2002 dan begitu juga Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang disebabkan oleh H5N1 pada tahun 2003.
Memahami keterkaitan hewan-manusia (animal-human interface) adalah elemen penting untuk mengevaluasi dan memprediksi risiko munculnya penyakit zoonosis, begitu juga dalam hal merancang program pencegahan dan deteksi dini berbasis kejadian (evidence base).
Transformasi produksi ternak di berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan negara-negara maju lainnya di abad ke-20 lalu telah menghasilkan sejumlah besar operasi industri skala besar yang melibatkan kepadatan ternak yang tinggi. Industri ternak yang pada dasarnya menjadi sumber sebagian besar protein hewani bagi penduduk dunia (1).
Berbagai organisasi internasional maupun ilmuwan dunia mengungkapkan adanya bukti-bukti ilmiah tentang keterkaitan antara intensifikasi produksi ternak dan risiko kesehatan global (4). Sebagai contoh dari keterkaitan ini antara lain munculnya penyakit Nipah pada tahun 1999, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2002 dan begitu juga Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang disebabkan oleh H5N1 pada tahun 2003.
Jumat, 02 April 2010
LANGKAH ANTISIPATIF PENYAKIT EKSOTIS DAN ZOONOTIS DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
WARTAZOA, Vol. 14, No. 2, Th. 2004, p. 61-64
DOWNLOAD FILE
Kata kunci: Penyakit eksotis dan zoonotis, perdagangan internasional
DOWNLOAD FILE
TRI SATYA PUTRI N.H.
Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan
Jl. Harsono R.M. No. 3, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan
Jl. Harsono R.M. No. 3, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
ABSTRAK
Kesadaran akan manfaat peranan perdagangan internasional bagi kesejahteraan penduduknya mendorong sejumlah negara, termasuk Indonesia, membentuk organisasi ekonomi regional/internasional yang memiliki kepentingan untuk membangun kekuatan ekonomi bersama. Beberapa kerjasama ekonomi yang menonjol antara lain ASEAN Free Trade Area (AFTA), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan General Agreement on Tariff and Trade (GATT). Melalui integrasi ekonomi, diharapkan hambatan-hambatan perdagangan (trade barrier), baik yang bersifat tariff barrier maupun non tariff barrier, yang mungkin ada di antara sesama negara anggota dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan, sehingga lalu lintas perdagangan barang (termasuk perdagangan hewan dan produknya) dan jasa serta investasi antar negara di dalam suatu kawasan menjadi semakin lancar. Dari aspek kesehatan hewan, meningkatnya lalu lintas hewan dan produknya akan membawa risiko masuknya penyakit hewan ke wilayah Indonesia. Indonesia yang telah dinyatakan bebas terhadap 13 dari 15 penyakit hewan menular menurut daftar A dan beberapa penyakit menurut daftar B dari OIE (Office Internationale des Epizooties) perlu mengantisipasi melalui reorientasi kebijakan dengan menepati kesepakatan perjanjian Sanitary and Phytosanitary untuk keamanan pangan dan perlindungan kesehatan hewan dan tumbuhan. Untuk komoditas petemakan dan produknya, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan telah menerbitkan keputusan dengan nomor 71/TN.690/Kpts.DJP/Deptan/2000 tentang pemasukan hewan dan produknya melalui prosedur baku. Selain itu perlu dilaksanakan analisis resiko, harmonisasi, transparansi dan perlakuan yang sama terhadap produk dalam negeri. Untuk mempertahankan status kesehatan hewan, diperlukan monitoring, surveilans, sistem pelaporan yang optimal, kampanye peningkatan kepedulian masyarakat, dan tindak karantina. Kata kunci: Penyakit eksotis dan zoonotis, perdagangan internasional
KEBIJAKAN PENANGGULANGAN PENYAKIT ZOONOSIS BERDASARKAN PRIORITAS DEPARTEMEN PERTANIAN
Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis, p. 23-27
Balai Penelitian Veteriner
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
Bogor, 15 September 2005
DOWNLOAD FILE
TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
Direktur Kesehatan Hewan
Direktorat Jenderal Peternakan
Kata kunci: Emerging zoonoses, re-emerging zoonoses, kebijakan, penanggulangan, Indonesia
Balai Penelitian Veteriner
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
Bogor, 15 September 2005
DOWNLOAD FILE
TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
Direktur Kesehatan Hewan
Direktorat Jenderal Peternakan
ABSTRAK
Zoonosis didefinisikan sebagai penyakit infeksi yang dapat ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia. Saat ini dikenal emerging zoonoses yang merupakan penyakit zoonosis yang baru muncul seperti Avian Influenza dan re-emerging zoonoses yang merupakan penyakit zoonosis yang sudah pernah muncul di masa-masa sebelumnya dan mulai menunjukkan peningkatan seperti rabies. Penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan menular strategis di Indonesia yaitu rabies, anthrax, avian influenza, salmonellosis dan brucellosis. Untuk mengakomodir semua permasalahan dan isu-isu mutakhir yang ada terutama berkaitan dengan ‘emerging and re-emerging zoonoses’, maka sudah saatnya seluruh peraturan perundangan yang berkaitan dengan bidang penyakit zoonosis yang ada di Indonesia dikaji ulang dan direvisi. Ada 4 subsistem yang sangat penting peranannya untuk pengendalian dan pemberantasan zoonosis yaitu sistem surveilans dan monitoring nasional, kewaspadaan dini dan darurat penyakit (early warning system and emergency preparedness), informasi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner. Untuk memberdayakan pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam mengantisipasi munculnya ’emerging dan reemerging zoonoses’, maka perlu ditetapkan sejumlah agenda untuk memperkuat kapasitas dan strategi kemitraan antara pemerintah dan swasta antara lain dengan penelitian terintegrasi antara kesehatan manusia dan kesehatan hewan, pendirian pusat penelitian penyakit zoonosis, surveilans yang terstruktur pada hewan domestik, satwa liar, dan manusia, pembentukan tim respon kesehatan dan kesehatan hewan, pembangunan infrastruktur, pembangunan tenaga kerja, dan peningkatan koordinasi dan penguatan fokus bagi kelembagaan yang terkait dengan penanganan masalah penyakit zoonosis.Kata kunci: Emerging zoonoses, re-emerging zoonoses, kebijakan, penanggulangan, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)





