Tampilkan postingan dengan label Avian influenza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Avian influenza. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2019

Kompartemen Bebas AI dan Implikasinya

TROBOS Livestock - EDISI 239/TAHUN XX/AGUSTUS 2019

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos*

Free compartment of avian influenza
Salah satu alternatif perdagangan dalam situasi adanya penyakit avian influenza (AI) bagi negara manapun di dunia adalah adanya subpopulasi hewan domestik yang dapat dipisahkan baik melalui regionalisasi (zoning) atau kompartementalisasi. Saat ini dapat dikatakan virus H5 atau H7 dan setiap highly pathogenic avian influenza (HPAI) lainnya merupakan penyakit unggas yang paling penting di dunia, karena menyebabkan disrupsi pasar domestik dan internasional.

Senin, 02 Mei 2016

Sebaran Flu Burung Setelah H5N1

KOMPAS, SABTU, 9 APRIL 2016 – OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Belakangan ini kita menyaksikan virus flu burung masih berjangkit di beberapa daerah. Kita tidak menyadari selama dua tahun terakhir di seluruh dunia telah muncul subtipe-subtipe baru selain H5N1.

Masalahnya ada 18 tipe H dan 11 tipe N yang berbeda. Kombinasi apa pun mungkin saja terjadi, dan ada galur berbeda dalam setiap subtipe virus, seperti H5N2, H5N3,H5N6, H5N8, H7N2, H7N3, H7N6, H7N8, H7N9, H9N2, dan H10N8. Di antaranya wabah H5N2 dan H7N9 jadi berita utama media internasional.

Rabu, 08 Mei 2013

Ancaman tersembunyi H7N9

K O M P A S, JUMAT, 3 MEI 2013 – RUBRIK OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Kasus pertama infeksi virus influenza A(H7N9) pada manusia dilaporkan terjadi di Provinsi Henan, di wilayah tengah daratan China, pada 14 April 2013.

Kasus itu sesungguhnya sangat mengagetkan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa kita perlu menaruh perhatian besar terhadap peristiwa ini.

Sabtu, 26 Januari 2013

Super flu itik

KOMPAS, SELASA, 15 JANUARI 2013 - RUBRIK OPINI
 
Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
 
Virus flu burung H5N1 varian 2.3.2 ternyata sangat ganas untuk itik. Sebelas provinsi dilaporkan sudah tertular dalam waktu enam bulan sejak kasus kematian massal itik di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, September 2012.
 
Chairul Nidom, ahli biomolekuler dari Universitas Airlangga, mengatakan bahwa penyebaran virus jenis baru untuk Indonesia ini tidak terprediksi dan bergerak sangat cepat (Kompas, 28 Desember 2012).
 

Sabtu, 07 Juli 2012

Telusur virus H5N1 pada babi

Sumber: nature.com
“…. Our data suggest that pigs are at risk for infection during outbreaks of influenza virus A (H5N1) and can serve as intermediate hosts in which this avian virus can adapt to mammals.”
Nidom et al. (2010). Emerging Infectious Diseases, Volume 16, Number 10 — October 2010

“And, because pigs can harbour multiple strains of the influenza virus, they are good incubators for mutants — including those that might make H5N1, for example, more contagious.” 
Richard Webby (2012). Nature, Volume 483 – 29 March 2012

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Pentingnya dilakukan telusur virus influenza pada babi terutama di negara-negara yang memiliki banyak peternakan babi dikemukakan kembali akhir-akhir ini oleh seorang peneliti virus influenza, Richard Webby (2012) dari St. Jude Children’s Hospital, Memphis, Amerika Serikat. [1] Meskipun identifikasi virus H5N1 sebenarnya sudah diketahui sejak awal munculnya pandemi highly pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 unggas di Asia. Virus H5N1 pada babi pertama kali ditemukan di Provinsi Fujian dan di empat lokasi lainnya di China selama 2001-2003. [2, 3]

Minggu, 13 Mei 2012

Monitor terus populasi itik: “Kuda Troya” virus H5N1

Sumber: skyduckindonesia.blogspot.com
“…… more than 70% of the world’s ducks are raised where H5N1 is endemic

Guan Yi

Source:
Monitor outbreaks in domestic ducks. Nature, Vol. 483, 29 March 2012

Kamis, 29 Maret 2012

Implikasi teknis dan epidemiologis kebijakan vaksinasi massal avian influenza

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
 
Sumber: USAID
Sejak kemunculannya pada akhir 2003, highly pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 telah menular ke 63 negara di seluruh dunia dan dikaitkan dengan lebih dari 350 kasus orang meninggal serta kematian dan pemusnahan ratusan juta ekor unggas. Di beberapa negara tertular, virus H5N1 bisa dieliminasi melalui intervensi yang cepat dan menentukan oleh sistem kesehatan hewan nasionalnya. Namun di beberapa negara pula, virus sudah menjadi endemik pada sistem ekologi dan produksi unggas, mengarah kepada kemungkinan bangkitnya infeksi kembali pada unggas dan manusia apabila upaya pengendalian berjalan kendor. [1]

Sejumlah negara dimana virus HPAI H5N1 saat ini dianggap endemik, meliputi China, Mesir, Indonesia dan Vietnam, semuanya memasukkan kebijakan vaksinasi sebagai bagian dari strategi pengendalian nasionalnya. [1] Populasi unggas nasional di China, Mesir, Indonesia dan Vietnam berturut-turut 14,6-16,4 milyar, 534-599 juta, 1,3-1,4 milyar dan 323-534 juta ekor. China dan Indonesia memulai kampanye vaksinasi massal pada tahun 2004, Vietnam tahun 2005 dan Mesir tahun 2006. [5] Tulisan ini bertujuan mengkaji implikasi teknis dan epidemiologis kebijakan pengendalian HPAI yang dilakukan melalui kampanye vaksinasi nasional berdasarkan literatur yang ada.

Minggu, 30 Oktober 2011

Sirkulasi domestik dan evolusi virus H5N1 di Asia Tenggara

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Film “Contagion” yang dipertunjukkan tahun ini, karya terbaru Steven Soderbergh, seorang sutradara Amerika Serikat terkenal pemenang Academic Award, seakan memperingatkan dunia kembali akan ancaman besar yang bisa muncul akibat pandemi penyakit menular yang ditularkan dari hewan. Meskipun tidak terlalu jelas sampai akhir cerita, bahaya patogen apa sebenarnya yang ingin digambarkan dalam film tersebut. Tapi banyak mengaitkannya dengan flu burung (bird flu) sebagai virus pembunuh yang terus mengintai dan membayangi dunia. [1, 2]

"I haven't seen the film yet but bird flu is the real killer lurking in the shadows," says 
Professor Robert Webster, the world's leading expert on bird flu.

Kamis, 14 April 2011

Penyakit Flu burung? Sudah biasa!

KOMPAS, SENIN 12 APRIL 2011 - RUBRIK OPINI

Oleh Tri Satya Putri N

Penyakit flu burung mah sudah biasa. Itulah reaksi masyarakat menghadapi maraknya kasus kematian unggas di sejumlah wilayah Tanah Air.

Padahal, ada empat korban dikonfirmasi meninggal dunia akibat flu burung dalam kurun tiga bulan pertama 2011. Meningkatnya intensitas kasus lebih dikaitkan dengan musim dan perubahan iklim di tengah makin berkurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap dampak flu burung dan banyaknya isu nasional lain yang tak kalah pentingnya.

Selasa, 08 Februari 2011

Sinopsis virus flu burung H5N1

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Flu burung (avian influenza) telah menjadi endemik pada populasi unggas di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun telah dilakukan berbagai intervensi oleh pemerintah dan organisasi internasional. Penyebaran meluas dari virus flu burung H5N1 sampai saat ini masih dianggap ancaman global terhadap kesehatan manusia. Sampai akhir tahun 2010 lalu, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus manusia dan tingkat fatalitas tertinggi.

Di seluruh dunia, 15 negara melaporkan adanya kasus flu burung pada manusia. Pada tahun 2010, hanya 5 negara melaporkan kasus manusia yaitu Kamboja, China, Mesir, Indonesia dan Vietnam. Pada tahun 2009, Mesir menjadi negara dengan kasus tertinggi. Tahun 2010, Mesir kembali menjadi tertinggi dengan 25 kasus, diikuti dengan Indonesia dengan 9 kasus, Vietnam 7 kasus, China 2 kasus dan Kamboja 1 kasus. Tidak ada negara lain di luar ke-5 negara tersebut yang melaporkan kasus manusia pada tahun 2009. Bangladesh melaporkan wabah terakhir tahun 2008 (World Health Organization, 2011).

Minggu, 15 Agustus 2010

Kepak sayap yang patah: Tek kotek kotek

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tek kotek kotek
Anak ayam turun sepuluh
Mati satu, turun sembilan……..

[lagu yang biasa didendangkan anak-anak di Majalengka, Jawa Barat – dikutip dari “The Political Economy of Avian Influenza in Indonesia” – Paul Forster, Working Paper 17, Brighton; STEPS Centre].

Meskipun tidak terlalu jelas kenapa lagu anak-anak Indonesia ini dikutip pada awal tulisan Paul Forster, akan tetapi mungkin juga tidak terlalu salah kalau dikatakan lagu ini menjadi satu cerminan kehidupan sosio-ekonomi dan budaya kebanyakan penduduk pedesaan di Indonesia yang sangat bergantung kepada unggas terutama ayam.

Jumat, 21 Mei 2010

Apakah flu burung gagal menjadi pandemi?

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos*)

Pada April 2009, perhatian dunia beralih dari flu burung H5N1 dan terfokus kepada pandemi flu H1N1. Meskipun dalam perjalanannya ternyata dampak pandemi influenza H1N1 2009 tidak separah sebagaimana dikhawatirkan dan tidak sehebat seperti skenario pandemi H5N1 yang menarik perhatian dunia sejak 6 tahun terakhir. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana dunia ke depan menafsirkan ancaman pandemi flu burung?

Sebagian masyarakat dunia mempertanyakan apakah ancaman pandemi memang dianggap terlalu berlebihan atau sebagian lagi memperkirakan pandemi hanyalah soal waktu tetapi akan terjadi dalam kadar lebih ringan. Tidak seorang ahlipun dapat menjawab pertanyaan ini dengan mudah dan gamblang.

Namun sebelum bisa bernafas lega, adalah jauh lebih bijak apabila masyarakat dunia tetap mengingat bahwa sumber ancaman pandemi H5N1 belumlah bisa dikatakan berakhir meskipun dibayangi oleh pandemi H1N1.

Senin, 05 April 2010

Bendung penularan ke manusia

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tidak terkendalinya wabah flu burung di Indonesia, dikatakan karena pemerintah salah dalam melakukan penilaian dan respon sejak awal, sehingga kini wabah sudah terlanjur menyebar sedemikian rupa dan sudah tak bisa dikendalikan lagi. Pernyataan yang cukup menyudutkan setelah Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus flu burung pada manusia tertinggi di dunia.

Dengan kecenderungan peningkatan kasus flu burung pada manusia dan sebagian besar memiliki riwayat terpapar dengan unggas yang sakit atau mati, maka dapat dikatakan bahwa virus flu burung masih bersirkulasi pada populasi unggas dan sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik itu melalui kotoran maupun air.

Penyebaran virus diasumsikan lebih disebabkan oleh perdagangan unggas hidup antar daerah/pulau. Unggas yang dilalu lintaskan sebagian besar berasal dari peternakan komersial baik skala besar dan menengah. Begitu virus flu burung dijumpai pada ayam kampung, para ahli mengatakan bahwa virus tersebut akan bertahan lama di lingkungan dan tetap menjadi sumber penularan bagi hewan lainnya.

Minggu, 04 April 2010

Pengendalian penyakit pada sumbernya

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Keterlambatan Indonesia mengetahui dan mengakui sejak awal tentang berjangkitnya penyakit Avian Influenza (AI) pada unggas menunjukkan bahwa kemampuan pemerintah Indonesia dalam melakukan sistem peringatan dini (early warning system) dan respon cepat (rapid response) masih sangat lemah. Avian influenza (AI) kini terlanjur menyebar dan sulit dikendalikan, bahkan Indonesia juga dituding sebagai sumbu pemicu pandemi global.

Secara umum diketahui bahwa penyakit hewan menular yang mampu melintasi batas wilayah atau benua yang disebut penyakit hewan ‘transboundary’ (salah satunya adalah Avian Influenza) merupakan ancaman global yang harus diantisipasi oleh setiap negara termasuk Indonesia.

Begitu juga secara global penyakit-penyakit yang baru muncul dan yang muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) yang terjadi pada dekade terakhir ini sebagian besar adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonotic diseases), seperti SARS, Nipah virus, rabies, anthrax, West Nile, Avian Influenza (AI) dlsbnya.

Sabtu, 03 April 2010

The Indonesian Response Plan to Avian Influenza

This CME-certified monograph presents the proceeding of this international conference below can be read at: www.rosejasperfox.net/PDF/2007INF_SP.pdf

Presented at the Second Annual Seasonal and Pandemic Influenza Conference 2007 which took place 1-2 February 2007 in Arlington, Virginia, U.S.A.

Tri Satya Putri Naipospos, DVM, MPhil, PhD
National Committee on Bird Flu Control and Pandemic Influenza Preparedness
Jakarta, Indonesia

ABSTRACT

In Indonesia, outbreaks of highly pathogenic avian influenza (HPAI) in poultry were first noticed in August 2003. Initial cases were not contained and the HPAI H5N1 virus has since spread progressively to, and is now considered endemic in, 216 districts in 30 out of 33 provinces throughout the archipelago. Since July 2005, of 79 confirmed cases, 61 have been fatal (77% case fatality). Human cases have occurred in 9 provinces, and a high percentage of cases (46%) occurred in cluster.

The government of Indonesia prepared its National Strategic Plan in November 2005, which consists of coordinated animal and human response. Focus has been given to the importance of communications with the public about measures to prevent or reduce the risk of infection and the likelihood of a human pandemic. Besides that, the government has moved to control disease in animals and carried out integrated active surveillance.

The animal response is mainly focusing on improved farm biosecurity, vaccination in infected areas, and selective culling with compensation in endemic areas. Several key implementations that need to be addressed are the phase-out of high-risk farming system practices, improved surveillance and reporting from the commercial poultry subsector, improved effectiveness and feasibility of mass vaccination in the backyard poultry sector, and increased use of culling.

The human response is concentrating on services for treatment and care of HPAI patients in 44 reference hospitals. It also involves preparing for a possible outbreak in the human population and investigating those deaths that have occurred. The surveillance for humans occurs through both routine and additional surveillance activities.

The most important constraints to the control response at the moment relate to limited collaboration between the Ministry of Health and the Ministry of Agriculture, the lack of a BSL3 lab, and frequent shortages of laboratory reagents, which limit overall diagnostic capacity.

Poultry vaccination: A key tool in the control of Avian Influenza

This article below can be read on line at: http://www.dpu.org.tw/images/About/File/217_1.pdf.

Presented at the International Symposium "The Challenge and Implication on Avian Influenza on Human Security: Sharing Problem, Sharing Solution". Session 1: Controversies in Vaccination on Poultry and Human to Prevent the Spread of Avian Influenza. Proceedings. July 13-14, 2006. Puri Agung, Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Indonesia.

Tri Satya Putri Naipospos
Introduction

Avian Influenza (AI) is a disease of poultry characterized by lethargy and respiratory signs caused by type A influenza virus infections. Most of AI viruses are low pathogenic which associated with mild or severe clinical signs, egg production loss, mortality and financial loss, depending on the virus, the host, secondary infections and environmental factors. All Highly pathogenic avian influenza (HPAI) cases is caused by H5 or H7 subtypes and usually associated with high morbidity and mortality in commercial flocks (Halvorson 2004).

The number of outbreaks of HPAI in the last few years has been unprecedented: Hong Kong (1997, 2001-2003), Italy (1999), Chile (2002), the Netherlands (2003), Canada (2004), and the continuing outbreaks in East and Southeast Asia (2003-2005). In early 2006, recent AI outbreaks occurred in Europe, the Middle East and Africa have caused dramatic swings in poultry consumption, increased trade bans and sharp price declines.

Current situation with highly pathogenic avian influenza (HPAI) in Indonesia, with special emphasis on control at village level

This article below can be read on-line at: http://www.aciar.gov.au/publication/PR131

Village chickens, poverty alleviation and the sustainable control of Newcastle disease
Publication Code: PR131
ISBN: 978 1 921531 75 0 (print) 978 1 921531 76 7 (online)
Author(s): Alders R.G., Spradbrow P.B. and Young M.P. (eds)

Presented at the International Conference - AusAID Southern Africa Newcastle Disease Control Project, Dar es Salaam, Tanzania, 5 – 7 October 2005.

Tri Satya Putri Naipospos*

Abstract

Indonesia has both a modern, commercial poultry industry and very large numbers of village poultry. The first outbreak of highly pathogenic avian influenza (subtype H5NI) in 2003 was initially misdiagnosed as Newcastle disease. The disease spread widely, with the first human death being recognised in June 2005. Strategic control processes were introduced in January 2004. These included improved biosecurity, vaccination in infected and high-risk areas and selective culling. There is an emphasis on control at village level.

Senin, 22 Maret 2010

Penyakit Hewan Menular dan Dampaknya terhadap Perdagangan Global

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Dalam dekade terakhir, sejumlah peristiwa wabah penyakit hewan menular berulangkali mengganggu perdagangan ternak dan daging sehingga menciptakan ketidakpastian di masa depan. Penyakit sapi gila (BSE) dan flu burung, dua penyakit yang paling menyebabkan gangguan perdagangan dan ketiga, penyakit mulut dan kuku (PMK) bahkan dianggap bagai hantu yang membayangi pasar ekspor.

Gangguan perdagangan yang berkaitan dengan penyakit hewan menular selain sangat merugikan industri ternak di negara pengekspor, juga berpotensi mempengaruhi industri pangan dan konsumen di negara pengimpor. Seringkali kebutuhan daging yang terpengaruh akibat penghentian impor tidak dapat diganti secara mendadak oleh produsen dalam negeri atau negara pengekspor lain. Begitu juga jika konsumen mengurangi pembelian, karena khawatir akan dampak bagi kesehatannya.

Minggu, 21 Maret 2010

Berantas ”Avian Influenza” dengan Vaksinasi - Pilihan Strategi yang Tepat dan Benar?

K O M P A S, RABU, 23 JUNI 2004 (HALAMAN 28) – Rubrik ILMU PENGETAHUAN

Tri Satya Putri Naipospos

Pada akhir bulan Maret 2004, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling buruk dalam menangani wabah avian influenza atau flu burung, bahkan dituding tidak berbuat apa-apa dibandingkan dengan sembilan negara Asia lainnya yang juga dilanda wabah yang sama. Pernyataan tersebut tentunya tidak menggembirakan, tetapi di satu sisi telah berhasil mendorong pemerintah dan dunia perunggasan Indonesia untuk terus-menerus mengkaji ulang dan memantau seluruh upaya dan kebijakan yang telah dipilih dalam penanggulangan krisis avian influenza (AI) yang berlangsung sejak pertengahan tahun 2003 yang lalu.

Minggu, 14 Maret 2010

Haruskah hewan berkorban untuk manusia setelah penyakit SARS dan flu burung mewabah di Asia?

Tri Satya Putri Naipospos

Salah satu kebiasaan manusia yang hidup di dunia ini adalah melimpahkan tanggung jawab dan mengalihkan kesalahan kepada hewan yang ”voiceless” (tidak mampu bersuara apa-apa) apabila terjadi sesuatu yang buruk menimpa mereka. Hewan tidak akan protes, bahkan mereka juga tidak mampu mengajukan keberatan.

Pemusnahan terhadap musang dalam jumlah cukup besar di China untuk membasmi SARS (severe acute respiratory syndrome), yang secara paralel diikuti dengan pemusnahan besar-besaran terhadap ayam di sejumlah negara Asia untuk memberantas penyakit flu burung mengindikasikan bahwa memang binatang menjadi ’biang keladi’ daripada munculnya penyakit menular yang ditakuti manusia.