Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) telah melakukan perubahan persyaratan suatu negara untuk dinyatakan bebas rabies untuk menyesuaikan dengan “Rencana Strategis Global (Global Strategic Plan)” yang telah menetapkan sasaran untuk membebaskan rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing (dog-mediated human rabies) pada tahun 2030.
Rencana strategis gobal ini dituangkan ke dalam suatu dokumen berjudul: "Zero by 30: the global strategic plan to end human deaths from dog-mediated rabies by 2030" oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), bersama dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), dan Aliansi Global Pengendalian Rabies (GARC).
Tampilkan postingan dengan label Rabies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabies. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Oktober 2019
Kamis, 16 Mei 2019
Rabies: penyakit tropis yang terabaikan
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara telah melakukan tindakan untuk memperkuat upaya-upaya pengendalian rabies - meningkatkan skala program-program vaksinasi anjing, membuat bahan biologik untuk manusia baik profilaksis ‘post-exposure’ dan ‘pre-exposure’ agar lebih mudah diakses, dan mengikutsertakan masyarakat dalam pengendalian rabies.
84,7% dari populasi manusia hidup dengan risiko tertular rabies. Rabies pada anjing telah berhasil dieliminasi di Eropa Timur, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang. Di Amerika Latin, 28 dari 35 negara telah melaporkan tidak ada kematian manusia akibat anjing tertular rabies.
![]() |
| Regional.Kompas.com |
84,7% dari populasi manusia hidup dengan risiko tertular rabies. Rabies pada anjing telah berhasil dieliminasi di Eropa Timur, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang. Di Amerika Latin, 28 dari 35 negara telah melaporkan tidak ada kematian manusia akibat anjing tertular rabies.
Konsumsi daging anjing dan bahaya rabies
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Tidak ada data pasti mengenai seberapa besar jumlah
daging anjing yang dikonsumsi di Indonesia, tetapi secara kasar sekitar 7% dari
populasi Indonesia yang sekitar 260 juta jiwa mengonsumsi daging anjing. Penelitian
tahun 2015 yang dikutip dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa sekitar
730.000 anjing masuk paling tidak ke ibukota Jakarta dari Jawa Barat setiap
tahun untuk dikonsumsi.
![]() |
| Bangkokpost.com |
Dalam brifing kampanyenya, Koalisi Indonesia Bebas Daging Anjing (Dog Meat Free Indonesia) menyatakan terdapat
sekitar 1 juta ekor anjing yang dibunuh setiap tahunnya di Indonesia. Mereka ditangkap
dan dicuri untuk diangkut ke seluruh wilayah Indonesia, guna memenuhi permintaan
daging anjing. Banyak hewan peliharaan keluarga yang dicuri, serta banyak juga yang
ditangkap dari jalanan dan perkampungan untuk diperdagangkan secara ilegal (DFMI, 2017).
Jumat, 28 September 2018
Memberantas Rabies
KOMPAS - SENIN, 10 SEPTEMBER 2018 - OPINI
Penyakit rabies sudah dikenal sejak awal peradaban manusia, pada masa Babylonia 2300 tahun sebelum masehi, bahkan sejak zaman Yunani kuno.
Naskah kuno mengenai rabies dijumpai pada abad ke-5 oleh Democriticus dan Hippocrates (dikenal sebagai Bapak Kedokteran). Begitu juga artefak dan naskah kedokteran terkait rabies banyak dijumpai di Persia, India, China, Perancis, Inggris dan Spanyol.
Rabies 95 persen ditularkan melalui gigitan anjing dan lebih dari separuh penduduk dunia saat ini masih khawatir tertular penyakit ini. Lebih dari 55.000 orang meninggal dunia setiap tahun di seluruh dunia, dengan 90 persen kematian di Afrika dan Asia.
Tri Satya Putri Naipospos
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Penyakit rabies sudah dikenal sejak awal peradaban manusia, pada masa Babylonia 2300 tahun sebelum masehi, bahkan sejak zaman Yunani kuno.
Naskah kuno mengenai rabies dijumpai pada abad ke-5 oleh Democriticus dan Hippocrates (dikenal sebagai Bapak Kedokteran). Begitu juga artefak dan naskah kedokteran terkait rabies banyak dijumpai di Persia, India, China, Perancis, Inggris dan Spanyol.
Rabies 95 persen ditularkan melalui gigitan anjing dan lebih dari separuh penduduk dunia saat ini masih khawatir tertular penyakit ini. Lebih dari 55.000 orang meninggal dunia setiap tahun di seluruh dunia, dengan 90 persen kematian di Afrika dan Asia.
Rabu, 05 September 2018
Rabies: ciri penyakit peradaban tertinggal
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos (Bangkok, 2008)
Resah dan panik, itulah situasi yang terjadi begitu konfirmasi rabies
atau penyakit anjing gila berjangkit di pulau Bali. Secara historis belum
pernah ada rabies di pulau Bali dan ini berarti jumlah provinsi tertular rabies
di Indonesia semakin bertambah. Menimbulkan pertanyaan: mungkinkah Indonesia
terbebas dari rabies?
Memang rabies bukan penyakit yang
dianggap sama dahsyatnya dengan flu burung yang berpotensi menimbulkan kematian
berjuta orang apabila terjadi pandemi, tetapi rabies tetap dianggap satu
ancaman yang mengerikan bagi dunia. Rabies adalah penyakit yang sejarahnya sudah
sangat tua, sudah ada sejak mulainya peradaban dunia.
Selasa, 23 April 2013
Model eradikasi rabies di Pulau Bali, Indonesia dan di Pulau Bohol, Filippina (belum final)
“From Greek myths to zombie flicks, from the laboratory heroics of
Louis Pasteur to the contemporary search for a lifesaving treatment, Rabid is
a fresh, fascinating, and often wildly entertaining look at one of mankind’s
oldest and most fearsome foes.”
Sumber:
Rabid: A Cultural History of the World's Most
Diabolical VirusWasik Bill, Murphy Monica
Pp 275. ISBN-978-0670023738
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Suatu tulisan karangan Abi Cantor dengan judul “Rabies: From Babylon to Bali” di jurnal ‘The Lancet Infectious Diseases’ menyatakan bahwa rabies merupakan sumber teror selama ribuan tahun, wujud penderitaan dan pergolakan yang menimbulkan kemarahan manusia, dan dampak sangat mengerikan yang terjadi sejak zaman Babylonia sampai kemudian rabies menjangkiti Bali, Indonesia. [1]
Minggu, 18 September 2011
Dinamika populasi anjing: Ladang pembibitan rabies
![]() |
| http://www.sergapntt.com/2011/09/anjing-dewanya-orang-flores.html |
The fight against rabies in Indonesia is far from over. The country’s failure to curb rabies is the history of an "Incurable Indonesian Wound". [1]
(Professor A.A. Ressang, the late senior veterinary public health scientist from the University of Indonesia, now Bogor Institute of Agriculture, 1963)
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Setelah hampir 14 tahun lamanya berjangkit di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kita dihenyakkan kembali pertengahan 2011 ini dengan perkembangan kasus rabies yang mencemaskan di pulau tersebut. Sejak pertama kali rabies muncul pada 1997 sampai 2011, korban tewas akibat rabies mencapai 215 orang dari 28.386 kasus gigitan anjing. [2] Pertanyaannya, mengapa luka rabies tak kunjung sembuh? Apakah dinamika populasi anjing di pulau tersebut bisa memberikan pembelajaran teknis tentang bagaimana kita memerangi rabies?
Sabtu, 02 April 2011
Rabies di muka rumah kita
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Mengingat dampaknya yang mengerikan bagi manusia, kisah tentang rabies selalu menjadi plot cerita atau tema nyata dalam banyak fiksi. Pertama kali yang mengangkat kisah rabies dalam bentuk film adalah film drama televisi Swedia masih hitam putih berjudul “Rabies” diproduksi tahun 1958 dan disutradarai almarhum Ingmar Bergman, seorang pengarah, penulis dan produser film berkebangsaan Swedia terkenal pada zamannya. Sepanjang sejarahnya yang panjang, virus rabies dikenal karena sifat alamiahnya yang neurotropik (menyerang sel syaraf), sehingga rabies menjadi simbol kegilaan, irasional atau suatu wabah penyakit hebat yang tidak pernah dapat dihentikan [1, 2, 3].
Tentunya harus disadari bahwa rabies sampai saat ini belum ada obatnya. Begitu korban sudah memperlihatkan gejala klinis, maka dapat dikatakan bahwa 100% kematian akan terjadi. Akan tetapi korban rabies masih bisa diselamatkan apabila vaksin anti rabies (VAR) diberikan sesegera mungkin setelah kejadian penggigitan oleh hewan tertular rabies. Para ilmuwan mengatakan tingkat bertahan hidup terhadap serangan rabies secara nominal hanya sekitar 8% [4]. Sampai saat ini hanya ada 6 kasus rabies pada manusia di seluruh dunia yang diketahui bertahan hidup setelah muncul gejala klinis [5].
Mengingat dampaknya yang mengerikan bagi manusia, kisah tentang rabies selalu menjadi plot cerita atau tema nyata dalam banyak fiksi. Pertama kali yang mengangkat kisah rabies dalam bentuk film adalah film drama televisi Swedia masih hitam putih berjudul “Rabies” diproduksi tahun 1958 dan disutradarai almarhum Ingmar Bergman, seorang pengarah, penulis dan produser film berkebangsaan Swedia terkenal pada zamannya. Sepanjang sejarahnya yang panjang, virus rabies dikenal karena sifat alamiahnya yang neurotropik (menyerang sel syaraf), sehingga rabies menjadi simbol kegilaan, irasional atau suatu wabah penyakit hebat yang tidak pernah dapat dihentikan [1, 2, 3].
Tentunya harus disadari bahwa rabies sampai saat ini belum ada obatnya. Begitu korban sudah memperlihatkan gejala klinis, maka dapat dikatakan bahwa 100% kematian akan terjadi. Akan tetapi korban rabies masih bisa diselamatkan apabila vaksin anti rabies (VAR) diberikan sesegera mungkin setelah kejadian penggigitan oleh hewan tertular rabies. Para ilmuwan mengatakan tingkat bertahan hidup terhadap serangan rabies secara nominal hanya sekitar 8% [4]. Sampai saat ini hanya ada 6 kasus rabies pada manusia di seluruh dunia yang diketahui bertahan hidup setelah muncul gejala klinis [5].
Minggu, 05 September 2010
Rabies dan budaya suku di Indonesia
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
![]() |
| Sumber: [24] |
Lalu lintas perdagangan anjing terutama diperjualbelikan untuk kepentingan dikonsumsi dagingnya atau untuk kegiatan berburu di Indonesia sangat bergantung kepada sosio-ekonomi dan budaya dari suatu wilayah atau suku tertentu. Keterkaitan antara tingginya kasus rabies, lalu lintas perdagangan anjing dan konsumsi daging anjing sebagaimana kebiasaan suku-suku tertentu harus diakui secara implisit maupun eksplisit sesungguhnya memiliki pengaruh satu sama lain. Tulisan ini tercetus dari membaca tulisan sejawat Ison Idris di Kompasiana, 24 Juni 2010 [1].
Sampai saat ini rabies masih tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat pada umumnya di negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Penyakit ini sudah dikenal sejak 5 ribu tahun lampau dan secara historis kaitan antara kasus gigitan anjing tertular rabies dengan kasus rabies pada manusia sudah disadari sejak lama. Menurut sebagian besar data, anjing bertanggung jawab terhadap 94% kasus rabies pada manusia.
Minggu, 30 Mei 2010
Rabies, zoonosis dan anjing jalanan
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Satu per satu daerah tertular rabies di Indonesia bertambah dan korban yang meninggal karena rabies di daerah padat anjing tak kunjung usai. Setelah pulau Bali, terakhir berjangkit di pulau Nias yang letaknya di samudera Hindia sebelah barat pulau Sumatera bulan Februari 2010 lalu. Penjalaran rabies tidak bisa dihentikan dengan pemberian vaksin anti rabies pada manusianya secara terus menerus, selama ancaman dari gigitan hewan penular rabies masih tetap ada.
Perubahan paradigma yang berlaku di seluruh dunia berupa pergeseran fokus dari pencegahan pasca gigitan (post-exposure prophylaxis) pada manusia kepada upaya melenyapkan rabies pada sumbernya yaitu hewan – memberikan tanggung jawab yang amat besar ke pundak dokter hewan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan pengendalian dan vaksinasi pada anjing merupakan strategi yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah kejadian rabies pada manusia.
Tanggung jawab ini sungguh berat dan menjadi tantangan yang luar biasa bagi dokter hewan, mengingat pemahaman pemerintah dan masyarakat tentang nilai dan pentingnya aspek kesehatan hewan masih jauh dari yang diharapkan. Sudah banyak bukti di negara-negara lain rabies bisa diberantas, asalkan ada program jelas dengan sumber daya dan dana yang jelas. Akan tetapi seringkali dokter hewan di Indonesia menjadi tidak berdaya oleh karena kebijakan pengendalian dan pemberantasan rabies tercurah kepada penanganan situasi darurat korban, akan tetapi akar pencetus masalah kurang mendapatkan perhatian serius.
Satu per satu daerah tertular rabies di Indonesia bertambah dan korban yang meninggal karena rabies di daerah padat anjing tak kunjung usai. Setelah pulau Bali, terakhir berjangkit di pulau Nias yang letaknya di samudera Hindia sebelah barat pulau Sumatera bulan Februari 2010 lalu. Penjalaran rabies tidak bisa dihentikan dengan pemberian vaksin anti rabies pada manusianya secara terus menerus, selama ancaman dari gigitan hewan penular rabies masih tetap ada.
Perubahan paradigma yang berlaku di seluruh dunia berupa pergeseran fokus dari pencegahan pasca gigitan (post-exposure prophylaxis) pada manusia kepada upaya melenyapkan rabies pada sumbernya yaitu hewan – memberikan tanggung jawab yang amat besar ke pundak dokter hewan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan pengendalian dan vaksinasi pada anjing merupakan strategi yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah kejadian rabies pada manusia.
Tanggung jawab ini sungguh berat dan menjadi tantangan yang luar biasa bagi dokter hewan, mengingat pemahaman pemerintah dan masyarakat tentang nilai dan pentingnya aspek kesehatan hewan masih jauh dari yang diharapkan. Sudah banyak bukti di negara-negara lain rabies bisa diberantas, asalkan ada program jelas dengan sumber daya dan dana yang jelas. Akan tetapi seringkali dokter hewan di Indonesia menjadi tidak berdaya oleh karena kebijakan pengendalian dan pemberantasan rabies tercurah kepada penanganan situasi darurat korban, akan tetapi akar pencetus masalah kurang mendapatkan perhatian serius.
Senin, 03 Mei 2010
Minggu, 11 April 2010
Stop pembunuhan anjing di Bali: Vaksin oral untuk anjing jalanan?
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Bali memang cuma pulau kecil diantara pulau-pulau lainnya di Indonesia, merentang 75 km dari utara ke selatan dan 142 km dari timur ke barat dengan penduduk sekitar 3,5 juta orang. Akan tetapi Bali juga menjadi tempat tinggal dari 600 ribu ekor anjing jalanan (stray dog) yang menjadi bagian penting dari kehidupan ritual dan mitologi masyarakat Hindu Bali. Persis seperti yang digambarkan dalam sebuah film dokumenter “Island of the Dogs”.
Anjing jalanan Bali memiliki sejarah panjang semenjak 12 ribu tahun yang lalu, dengan dimulainya imigrasi manusia dari China ke Indonesia. Keragaman genetik anjing jalanan Bali menunjukkan bahwa ada korelasi dengan Asia Timur. Tidak mengherankan sifatnya yang agresif kemungkinan genetiknya yang hampir-hampir mendekati dingo di Australia, bahkan juga dengan anjing dari timur Chow-chow.
Peranan anjing dalam kehidupan masyarakat Bali, sama seperti halnya di Flores. Rasio anjing berbanding manusia di Bali yaitu 1 : 8,27 atau kepadatan 96 ekor per km2, sedangkan di Flores 1 : 2,5, tertinggi di Kabupaten Ende 1 : 3,3 dan terendah di Kabupaten Lembata dan Sikka 1: 2,1.
Bali memang cuma pulau kecil diantara pulau-pulau lainnya di Indonesia, merentang 75 km dari utara ke selatan dan 142 km dari timur ke barat dengan penduduk sekitar 3,5 juta orang. Akan tetapi Bali juga menjadi tempat tinggal dari 600 ribu ekor anjing jalanan (stray dog) yang menjadi bagian penting dari kehidupan ritual dan mitologi masyarakat Hindu Bali. Persis seperti yang digambarkan dalam sebuah film dokumenter “Island of the Dogs”.
Anjing jalanan Bali memiliki sejarah panjang semenjak 12 ribu tahun yang lalu, dengan dimulainya imigrasi manusia dari China ke Indonesia. Keragaman genetik anjing jalanan Bali menunjukkan bahwa ada korelasi dengan Asia Timur. Tidak mengherankan sifatnya yang agresif kemungkinan genetiknya yang hampir-hampir mendekati dingo di Australia, bahkan juga dengan anjing dari timur Chow-chow.
Peranan anjing dalam kehidupan masyarakat Bali, sama seperti halnya di Flores. Rasio anjing berbanding manusia di Bali yaitu 1 : 8,27 atau kepadatan 96 ekor per km2, sedangkan di Flores 1 : 2,5, tertinggi di Kabupaten Ende 1 : 3,3 dan terendah di Kabupaten Lembata dan Sikka 1: 2,1.
Minggu, 14 Maret 2010
PEMBUNUHAN ANJING DI FLORES TAK MENYELESAIKAN MASALAH!
K O M P A S, KAMIS, 1 MARET 2001 (HALAMAN 30) – Rubrik Nasional
Tri Satya Putri N Hutabarat
RIUH rendah berita ancaman rabies yang melanda Pulau Flores, rupanya hanya berputar sekitar Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sampai sekarang belum dianggap sebagai bencana nasional meskipun telah menimbulkan kematian manusia sebanyak 96 orang sampai dengan saat ini.
Tidak terasa masalah rabies sudah berjalan tiga tahun dan cukup menjadi beban bagi Pemerintah Pusat maupun bagi Pemerintah Daerah NTT sendiri. Hampir setiap hari berita rabies di surat-surat kabar lokal seperti Flores Pos, Pos Kupang menjadi konsumsi masyarakat setempat dan menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai pihak, mulai dari eksekutif maupun legislatif.
Tri Satya Putri N Hutabarat
RIUH rendah berita ancaman rabies yang melanda Pulau Flores, rupanya hanya berputar sekitar Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sampai sekarang belum dianggap sebagai bencana nasional meskipun telah menimbulkan kematian manusia sebanyak 96 orang sampai dengan saat ini.
Tidak terasa masalah rabies sudah berjalan tiga tahun dan cukup menjadi beban bagi Pemerintah Pusat maupun bagi Pemerintah Daerah NTT sendiri. Hampir setiap hari berita rabies di surat-surat kabar lokal seperti Flores Pos, Pos Kupang menjadi konsumsi masyarakat setempat dan menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai pihak, mulai dari eksekutif maupun legislatif.
Minggu, 07 Maret 2010
Vaksinasi rutin cegah rabies: mungkinkah Indonesia bebas?
Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
Empat orang anak telah meninggal dunia dengan gejala rabies di Bali, sehingga masyarakat khususnya di Semenanjung Bukit Jimbaran menjadi resah dan panik. Itulah situasi yang terjadi begitu konfirmasi rabies atau penyakit anjing gila berjangkit di Bali. Secara historis belum pernah ada rabies di Bali dan ini berarti jumlah provinsi tertular rabies di Indonesia bukannya semakin berkurang.
Pertanyaan lalu timbul, mungkinkah Indonesia terbebas dari rabies? Memang rabies bukan penyakit yang dianggap sama dahsyatnya dengan flu burung yang berpotensi menimbulkan kematian berjuta orang apabila terjadi pandemi, tetapi rabies tetap dianggap satu ancaman yang mengerikan bagi dunia. Rabies adalah penyakit yang sejarahnya sudah sangat tua, sudah ada sejak mulainya peradaban dunia.
Empat orang anak telah meninggal dunia dengan gejala rabies di Bali, sehingga masyarakat khususnya di Semenanjung Bukit Jimbaran menjadi resah dan panik. Itulah situasi yang terjadi begitu konfirmasi rabies atau penyakit anjing gila berjangkit di Bali. Secara historis belum pernah ada rabies di Bali dan ini berarti jumlah provinsi tertular rabies di Indonesia bukannya semakin berkurang.
Pertanyaan lalu timbul, mungkinkah Indonesia terbebas dari rabies? Memang rabies bukan penyakit yang dianggap sama dahsyatnya dengan flu burung yang berpotensi menimbulkan kematian berjuta orang apabila terjadi pandemi, tetapi rabies tetap dianggap satu ancaman yang mengerikan bagi dunia. Rabies adalah penyakit yang sejarahnya sudah sangat tua, sudah ada sejak mulainya peradaban dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)








