EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Rabu, 22 Juni 2011

Selamat tinggal Rinderpest!

Source: Popular Science (2011)
 The Food and Agriculture Organization of the United Nations had formally announce rinderpest’s eradication in June 2011, making it the second scourge, after smallpox, to be intentionally wiped off the face of the Earth

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Dalam bulan Juni 2011 ini, dunia menyaksikan suatu peristiwa sangat bersejarah terutama bagi ilmu kedokteran hewan yaitu rinderpest dideklarasi menjadi satu-satunya penyakit hewan menular ganas yang berhasil dibasmi dari muka bumi. Keberhasilan ini membuat rinderpest menjadi penyakit ke-dua setelah penyakit cacar (smallpox) pada manusia yang berhasil diberantas tuntas tahun 1979 lalu.

Tiba saatnya bagi dunia untuk mengucapkan selamat tinggal rinderpest, oleh karena tidak ada lagi penyakit hewan menular ganas yang biasa menyerang sapi yang dikenal sejak zaman Romawi. Rinderpest disebut juga ’pes sapi’ (cattle plaque) yaitu suatu penyakit infeksi viral sangat mematikan bagi sapi, kerbau dan hewan-hewan berkuku genap (ungulata) termasuk juga satwa liar.

Di abad ke-18, penyakit ini menyebar sangat luas mulai dari Eropa, Sub-sahara Afrika, Timur Tengah, sampai ke Asia Tengah dan Asia Tenggara. Rinderpest telah menyebabkan bencana kelaparan jutaan orang dengan membunuh jutaan ekor sapi di Eropa, Afrika dan Asia. Meskipun tidak mempengaruhi manusia secara langsung, akan tetapi dampak penyakit sangat signifikan terhadap produksi ternak dan musnahnya sebagian besar populasi ternak dan satwa liar [1, 2, 9].

Keganasan rinderpest ditunjukkan secara khusus dimana 7 dari 10 ekor sapi yang tertular penyakit ini akan mati [7]. Begitu juga penyakit ini menjalar sangat cepat seperti ibaratnya kebakaran apabila tidak ada upaya pemadaman sama sekali. Jika dalam satu kelompok ada 100 ekor ternak, maka dalam waktu 10 hari seluruh ternak akan mati [8].

Sejarah rinderpest

Rinderpest dianggap berasal dari Asia dan menyebar melalui sapi tertular yang diperdagangkan atau dibawa pasukan tentara yang melakukan invasi ke negara lain. Dari literatur diketahui bahwa rinderpest sudah ada di Mesir sejak 5 ribu tahun lampau. Pada abad ke-4, suku bangsa Hun di Asia yang sering bercocok tanam dengan berpindah-pindah lokasi dianggap membawa penyakit ini ke Eropa [11].

Penyakit ini menyebar seiring dengan kejatuhan kerajaan Romawi dan ditaklukkannya kaum Kristen Eropa oleh Charlemagne. Kemudian virus terus terbawa mengikuti invasi balatentara Mongol Jenghis Khan dari Asia Tengah ke Eropa dan juga oleh para kolonialis yang menjajah Afrika pada abad ke-13.

Jadi sejak zaman purba sebenarnya sudah terjadi perang biologis, dimana pasukan tentara Asia menyebarkan sapi-sapi jenis Grey Steppe yang resisten terhadap virus rinderpest dan mampu mengeluarkan virus berbulan-bulan setelah itu dan menularkannya ke ternak lain. Penyebaran ini memicu terjadinya epidemi yang sengaja dimaksudkan untuk menciptakan kelaparan, ketidakstabilan bahkan kematian di negara-negara yang diinvasi [1, 5, 11].

Tanda klinis erosi pada mulut sapi.
Sumber: http://www.vet.uga.edu/
Akibat dari invasi ini, timbul pandemi besar Afrika (Great African Rinderpest Pandemic) yang membunuh 90% populasi sapi mulai dari Ethiopia sampai ke Tanjung Harapan di ujung Afrika Selatan. Musnahnya hampir seluruh populasi sapi menyebabkan meninggalnya 30% penduduk Ethiopia dan 60% suku Maasai di Kenya dan Tanzania akibat kelaparan hebat. Juga 50% hewan berkuku genap liar mati, membentuk kondisi yang cocok untuk pengembangbiakan lalat Tzetze dan penyebaran penyakit Trypanosoma Afrika (sleeping sickness) [1, 5, 11].

Pada abad ke-18, diperkirakan rinderpest telah memusnahkan 200 juta ekor sapi di Eropa barat yang memprovokasi kerusuhan sosial sebelum timbulnya revolusi Perancis. Sebagai respon dari dampak kerusakan yang ditimbulkan wabah rinderpest ini, Perancis mendirikan sekolah kedokteran hewan pertama di dunia di Lyon pada tahun 1761 sebagai upaya merintis pendidikan untuk pengendalian penyakit ini.

Begitu juga bencana epidemi rinderpest di Inggris pada tahun 1865-1867, mendorong negara ini membangun kelembagaan kesehatan hewan nasional (State Veterinary Services) pertama di dunia tahun 1865. Hal ini secara tidak langsung memicu Amerika Serikat membentuk Bureau of Animal Industry sebagai biro terdepan dari United States Department of Agriculture (USDA) dalam memelopori upaya perlawanan terhadap rinderpest.

Keresahan yang timbul akibat masuknya rinderpest ke Belgia tahun 1920 mendorong dilangsungkannya suatu konferensi di Paris pada tahun berikutnya. Sebagai konsekuensinya didirikanlah Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organization for Animal Health atau Office Internationale des Epizooties) tahun 1924 untuk mensiasati kesulitan yang dihadapi dalam melakukan tindakan-tindakan terkait batas-batas internasional sebagai upaya menghadang ancaman rinderpest yang terus berlanjut [1, 5, 11].

Penyebaran penyakit yang terus meluas setelah Perang Dunia ke-2 dan upaya pengendaliannya juga merupakan salah satu alasan utama dari dibentuknya Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization) dari Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) pada tahun 1945 [9, 11, 12].

Dalam sejarahnya, virus rinderpest tidak pernah menyeberang melalui Samudra Atlantik untuk sampai di Amerika atau Australia/Selandia Baru, meskipun dilakukan importasi sapi [9, 12]. Satu-satunya introduksi rinderpest ke Amerika Selatan adalah melalui sapi yang diimpor dari Belgia ke Brazil pada tahun 1920. Kontinen ini tetap bebas rinderpest sampai saat ini dan begitu juga Oceania [12, 13].

Rinderpest di Indonesia

Wabah rinderpest di Indonesia pertama kali terjadi tahun 1879 dan berlanjut sampai tahun 1880 [4]. Literatur mengatakan bahwa asal wabah dintroduksi oleh sapi-sapi Eropa yang diimpor dari negeri Belanda selama penjajahan di akhir abad ke-19. Dampak wabah rinderpest tersebut sangat hebat karena memusnahkan 90% populasi ternak sapi [1, 5]. Upaya bagaimana sulitnya wabah rinderpest di Jawa Barat dikendalikan di zaman Hindia Belanda diceritakan oleh seorang Belanda bernama G. Derwes yang dapat dibaca dibawah ini [6].

Cerita pemberantasan wabah rinderpest di zaman penjajahan Hindia Belanda
      Pada tahun 1879, Jawa Barat diserang secara serius oleh wabah rinderpest. Wabah pes sapi ini dimulai di Ujung Kulon dan menyebar ke timur hingga hampir seluruh Jawa Barat tertular penyakit ini. Gejalanya berupa leher sapi bengkak dan kehilangan nafsu makan, diikuti dengan kematian dalam waktu 3 hari kemudian. Sejumlah dokter hewan dikirim dari Eropa untuk membantu, tetapi mereka tidak sanggup mengatasi wabah yang sangat menular dan belum ada obatnya ini.
      Pada saat wabah sudah menembus Priangan Timur dilakukan upaya dalam skala besar untuk memadamkan wabah. Pada saat itu diputuskan untuk membangun dinding pemisah dari selatan ke utara dengan maksud membagi Pulau Jawa menjadi dua. Dua pagar paralel untuk mengisolasi Jawa Barat dari bagian Pulau Jawa lainnya dibangun dengan maksud membuat baris sanitasi dimana sapi dari Jawa Barat tidak diizinkan berada di dalam areal diantara ke-dua pagar tersebut.
      Satu pagar dibangun mulai dari Cikandang di Kabupaten Kandangwesi di pantai selatan menuju ke arah timur laut melalui Rajamandala, Sirap dan Manayasa sampai ke Cimanuk, di sebelah barat Dermayu sepanjang 180 paal = 270 km. Satu pagar lainnya berjarak 3 paal ke arah timur dan ujung utara menyusuri sepanjang Dermayu. Pagar terbuat dari tiang bambu sepanjang 5 meter. Setiap kali ada jalan kereta api atau jalan raya kecil bersilangan dengan pagar tersebut, maka dibuatlah satu pintu masuk. Setiap pintu masuk dikawal oleh dua orang tentara. Jalur lalu lintas ditutup sama sekali. Setiap orang yang ingin melalui pintu masuk harus didisinfeksi sebelumnya menggunakan cairan karbol yang disebut ’kobokan’ (air pencuci).
      Dua batalion tentara melakukan konsinyasi untuk memberikan bantuan, dibawah komando seorang kolonel tentara, dua letnan kolonel, dan sejumlah kapten dan letnan. Begitu juga lima orang tenaga sipil (disebut: controleur veepest) ditugaskan disana untuk mengendalikan penyakit tersebut. Untuk para tentara tersebut, dibangun rumah-rumah pondokan temporer yang dihuni masing-masing oleh 50 orang. Keseluruhan operasi yang dilaksanakan dengan sangat bersusah payah tersebut memerlukan biaya tidak lebih dari fl. 500.000.
      Di setiap kabupaten, seorang camat ditugaskan untuk mengawasi pelaksanaan dari tindakan yang direncanakan tersebut. Secara keseluruhan, lebih dari 50 orang (disebut: kumitir veepest atau gecommitteerde voor de veepest) ditugaskan untuk membantu. Orang-orang tersebut direkrut dari antara para magang dan jurutulis desa. Mereka hanya ditugaskan untuk mengawasi setiap ternak yang terkena penyakit harus segera dimusnahkan, dipotong kecil-kecil dan dikuburkan dalam liang yang dalam. Dilarang keras untuk mengonsumsi dagingnya. Setiap pemilik ternak diberikan kompensasi sebesar fl. 25.
Sumber: Drewes G. (1985). The Life-Story of an old-time Priangan Regent as told by himself. In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 141, No. 4, Leiden, 399-422.

Mengingat pada saat itu kelembagaan kesehatan hewan (Civil Veterinary Services) di zaman Hindia Belanda tidak bertindak cepat dan belum ada peraturan perundangan tentang wabah, maka baru setelah hampir 30 tahun kemudian penyakit tersebut berhasil diberantas [1, 5]. Pada dasarnya upaya pengendalian rinderpest di Indonesia seperti halnya di negara-negara lain di Asia Tenggara dilakukan dengan vaksinasi dan pengendalian lalu lintas ternak. Kasus rinderpest terakhir dilaporkan tahun 1907 [10].

Sebenarnya Civil Veterinary Services (CVS) di Jawa pada masa pemerintah Hindia Belanda didirikan pada tahun 1853 yaitu 26 tahun sebelum timbul wabah rinderpest pertama kali. Pada abad ke-19, tugas utama diarahkan hanya melaksanakan survei ternak termasuk kesehatannya. Disamping fakta jumlah dokter hewan pada masa itu jauh dari cukup dan masalah komunikasi, CVS tidak dapat berfungsi optimal oleh karena hambatan infrastruktur.

Kadangkala CVS salah menilai situasi secara menyeluruh, seperti contohnya pada saat terjadinya wabah rinderpest tahun 1879 sehingga terjadilah katastrofi. Pada waktu itu perundangan pemerintah Belanda tentang penyakit hewan menular yang diterapkan di wilayah Hindia Belanda. Sektor pertanian terkena dampak dari larangan lalu lintas sapi, sapi menderita akibat kekurangan pakan, dan pemilik ternak menderita kerugian finansial dan gangguan emosional. Meskipun sulit diperhitungkan secara tepat pengaruh dari tindakan penanganan yang diterapkan selama wabah berlangsung, terdapat indikasi bahwa dampak diperburuk akibat campur tangan pemerintah [14].

Metoda pemberantasan

Pada tahun 1711, Dr. Giovanni Lancisi, seorang dokter pribadi Paus Clement XI mengembangkan dan memperkenalkan suatu strategi pemberantasan penyakit melawan rinderpest dengan cara penyembelihan ternak (stamping out), pengawasan lalu lintas, penguburan bangkai ternak dengan kapur, serta dikenakan penalti yang sangat drastis yaitu hukuman mati bagi pemilik ternak yang membangkang.

Seorang dokter hewan, Dr. Thomas Bates dari rumah tangga kerajaan Inggris di London memperkenalkan strategi tersebut di England, akan tetapi dengan pemberian kompensasi untuk pemilik ternak [17]. Strategi yang dikenal sebagai prinsip Lancisi tersebut sampai sekarang masih dianggap relevan untuk banyak penyakit hewan menular lainnya. Meskipun pada saat pelaksanaan tindakan ini dianggap brutal, tetapi berhasil secara cepat menghentikan wabah. Cara ini kemudian banyak diadopsi oleh negara-negara di Eropa [11].

Meskipun pengawasan lalu lintas ternak dipahami sebagai kunci dalam pengendalian, tetapi kendornya pengawasan impor di Inggris menyebabkan kejadian rinderpest berlanjut di akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-19. Dalam masa dua tahun setelah pembentukan State Veterinary Services (SVS) di Inggris, dengan menerapkan prinsip Lancisi sebagaimana disebutkan diatas secara baik dan dibarengi dengan pengawasan impor secara ketat, maka penyakit tersebut berhasil diberantas [11].

Pada tahun 1920-an, Dr. J.D. Edwards mengattenuasi virus rinderpest dengan menumbuhkannya dengan serial pasase berulang kali menggunakan jaringan ikat asal kambing dan menghasilkan virus terattenuasi yang bisa memberikan kekebalan seumur hidup. Kemudian pada tahun 1957, Dr. W. Plowright dan Dr. R. Ferris membuat terobosan dalam pembuatan vaksin dengan menumbuhkan virus rinderpest di kultur sel ginjal anak sapi. Virus menjadi stabil, terattenuasi, dan tidak infeksius lagi setelah serial pasase ke-90. Vaksin kemudian diproduksi secara murah dan mudah diuji potensi dan keamanannya. Vaksin baru ini secara cepat menjadi pilihan untuk menggantikan vaksin yang lama [17].

Pada pertengahan 1980-an, Dr. J. Mariner berhasil menjawab tantangan yang berkaitan dengan masalah rantai dingin (cold chain) dalam menggunakan vaksin rinderpest di lapangan. Dengan cara mengadaptasi virus pada sel VERO dan memperbaiki proses pembekuan kering untuk mereduksi residual cairan, maka dapat dihasilkan vaksin yang stabil dalam cuaca panas (thermostable). Vaksin yang diberi nama ’Thermovax’ ini memudahkan untuk digunakan di banyak negara yang seringkali cuacanya sangat panas, akan tetapi potensi vaksin masih bertahan sampai satu bulan atau bahkan bisa lebih. Produksi vaksin ini sangat memperlancar upaya pemberantasan rinderpest, karena vaksinasi dapat menjangkau wilayah-wilayah terpencil [18].

Upaya pemberantasan global

Perang terhadap rinderpest sesungguhnya dilakukan oleh berbagai organisasi (multi organizations). Inter-African Bureau of Epizootic Diseases memulai upaya pertamanya untuk memberantas rinderpest secara menyeluruh di Afrika pada tahun 1950. Pada awalnya diperoleh kesuksesan dengan menggunakan vaksin yang dibuat sebelumnya, akan tetapi setelah itu terjadi kegagalan dalam mengatasi kelambanan vaksinasi dan pengamatan. Pandemi kemudian merebak lagi setelah itu [9].

Suatu program pengendalian terkoordinasi secara internasional yang disebut “Pan-African Rinderpest Campaign” (PARC) dimulai tahun 1986 dengan 35 negara mulai dari pantai timur sampai ke pantai barat benua Afrika, dari Sudan sampai ke Tanzania turut berpartisipasi. Tidak semua dari negara-negara ini tertular rinderpest, tetapi dilibatkan dalam pengendalian lintas batas (border control) dan mendapatkan semua kesempatan yang bisa digunakan menjaga kebebasan wilayah negaranya. Sasarannya bukan hanya pemberantasan rinderpest, akan tetapi juga mengedukasi penggembala ternak secara umum untuk meningkatkan produksi ternak dan merawat padang rumput. Metoda yang digunakan bermacam-macam mulai dari poster, radio, dan film untuk mengedukasi dan meningkatkan tingkat kesadaran mereka agar tidak mengulang kesalahan yang dilakukan pada program sebelumnya [9].

PARC menjalankan kampanye program vaksinasi masal dan surveilans, baik untuk populasi sapi domestik dan satwa liar serta membangun jejaring komunikasi agar sekaligus bisa mencapai para penggembala ternak yang tinggal di wilayah terpencil. World Bank, OIE, dan FAO mendukung program ini melalui pendanaan, pelatihan, advis, pelayanan, dan sumberdaya lainnya [9]. Meskipun PARC berhasil membebaskan sejumlah wilayah dari rinderpest di benua Afrika, tetapi tahap pemberantasan belum dicapai [15].

Sementara kampanye berjalan cukup efektif di Afrika, virus rinderpest masih tetap endemik di India dan Timur Tengah. Untuk itu FAO belakangan memulai suatu upaya global yang disebut ”Global Rinderpest Eradication Programme” (GREP) pada tahun 1994 sebagai suatu platform koordinasi yang menargetkan dunia bebas rinderpest tahun 2010. Sekaligus sebagai upaya untuk memverikasi status bebas dari negara-negara yang tidak ada lagi laporan kasus rinderpest. GREP didukung juga oleh OIE dan International Atomic Energy Agency (IAEA) [2, 9].

Pada awalnya GREP fokus kepada pemetaan penyebaran geografis rinderpest dengan pemahaman lebih baik tentang epidemiologi rinderpest dan membantu negara-negara dalam mengatasi kedaruratan (emergencies) [20].

Dengan kampanye vaksinasi yang terpadu dan terkoordinasi didukung oleh jejaring laboratorium diagnostik, maka secara drastis kasus-kasus rinderpest di seluruh dunia dapat ditekan. Untuk memberantas rinderpest ini, dibangunlah jejaring tenaga kesehatan hewan berbasis masyarakat (community animal health worker) yang diharapkan ke depan bisa memperkuat infrastruktur kelembagaan kesehatan hewan nasional dari negara-negara tertular dalam upaya mengendalikan penyakit-penyakit hewan lintas batas (transboundary animal diseases) lainnya [2]. Vaksin ’thermostable’ yang digunakan oleh para tenaga kesehatan hewan ini merupakan kunci keberhasilan upaya pemberantasan rinderpest [18].

Pada tahun 1989, OIE merancang ”OIE Rinderpest pathway” dengan tiga tahapan untuk negara-negara anggota yang ingin diakui status bebas rinderpestnya secara resmi. Masing-masing negara anggota diharuskan untuk menyampaikan detil data yang menunjukkan bukti yang bisa menjamin kebebasannya. Kemudian ’pathway’ ini diimplementasikan paralel dengan GREP yang dikelola oleh FAO [18, 19].

Peta yang dibuat FAO
untuk menggambarkan
perkembangan GREP
GREP memetakan penelusuran penurunan drastis tingkat kejadian rinderpest dari tahun 1980-an sampai 1990-an, hingga tinggal 3 kantong penyakit pada tahun 2001 yaitu di Pakistan, Sudan dan Somali Ekosistem. Selanjutnya virus rinderpest berhasil dibatasi hanya di kantong terakhir yaitu Somali Ekosistem, suatu area yang meliputi selatan Somalia dan area yang bersebelahan di Ethiopia dan Kenya (lihat peta). Surveilans serologis menyimpulkan bahwa rinderpest secara tuntas sudah berhasil dihilangkan dari kantong terakhir tersebut tahun 2007. [20]

Berdasarkan tidak ada lagi wabah baru dan bukti epidemiologis yang konsisten, FAO yakin bahwa eradikasi global telah berhasil dicapai. Kasus terakhir rinderpest yang diketahui adalah di Kenya pada tahun 2001 [2]. Vaksinasi terakhir dilakukan tahun 2006 dan virus dinyatakan punah dari populasi pada Oktober 2010. FAO memperkirakan terjadi peningkatan produksi 70 juta ton daging dan 1 milyar ton susu sebagai hasil dari kampanye tersebut [9].

Keberhasilan dan target berikutnya

Keberhasilan membebaskan rinderpest secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah kedokteran hewan yang pada gilirannya akan menyelamatkan kehidupan dan mata pencaharian jutaan keluarga di dunia [7]. Pembebasan ini juga akan memperkuat ketahanan pangan, memfasilitasi perdagangan, dan mengentaskan kemiskinan, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dimana mayoritas penduduk negara-negara berkembang bermukim [15].

FAO menyatakan sangat yakin bahwa virus rinderpest telah berhasil dihilangkan dari Eropa, Asia, Timur Tengah, Semenanjung Arab dan Afrika yaitu wilayah-wilayah yang dahulunya mengalami wabah [7]. Dr. Juan Lubroth, Chief Veterinary Officer FAO mengatakan bahwa dunia beruntung dengan ditemukannya vaksin rinderpest sehingga revolusi hijau (green revolution) akan tetap bisa berlangsung. Revolusi yang dimungkinkan karena tersedianya ternak-ternak kerja yang digunakan untuk membajak tanah atau mengangkut hasil panen ke pasar [8].

Selanjutnya Dr. Lubroth mengatakan: “Cukup luar biasa bahwa kita bisa sampai pada apa yang kita raih hari ini. Rinderpest adalah penyakit yang mutlak menyebabkan malapetaka bagi pertanian kita selama berabad-abad." Dr. Lubroth menambahkan: “Tetapi kalau kita pandang dari sisi lain, sebenarnya solusinya mudah. Kita memiliki pengetahuan teknis (know-how), kita punya vaksin. Yang tidak kita miliki adalah pertama, investasi yang memadai dan bertarget; kedua, mekanisme koordinasi global yang kohesif. Begitu kita memiliki semua itu, maka keberhasilan memecahkan masalah hanyalah soal waktu.” [20]

Dr. Bernard Vallat, Direktur Jenderal OIE mengatakan bahwa pembebasan ini bukan hanya suatu terobosan besar dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kebijakan kerjasama diantara organisasi internasional dan dengan masyarakat internasional secara keseluruhan. Selain itu menjadi suatu keberhasilan dari kelembagaan kesehatan hewan nasional di banyak negara dan segenap profesi dokter hewan [19].

Para ahli penyakit hewan berpendapat bahwa penyakit mulut dan kuku (PMK) bisa dijadikan target berikutnya untuk diberantas secara global. Meskipun sampai saat ini lebih dari 100 negara di dunia masih berstatus endemik atau sporadik PMK, akan tetapi upaya pembebasan rinderpest global ini bisa dijadikan pembelajaran bagi dunia internasional pada umumnya dan dunia kedokteran hewan pada khususnya. Pemberantasan PMK tentunya diperkirakan akan lebih sulit, karena sampai sekarang belum ditemukan vaksin yang benar-benar ampuh dan praktis sebagaimana halnya dengan vaksin rinderpest [16].

Referensi:
1. http://www.thestar.com/news/sciencetech/article/997679--cattle-plague-rinderpest-wiped-out
2. http://www.fao.org/ag/againfo/resources/documents/multimedia/popup/grep.html
3. http://news.yahoo.com/s/usnw/20110602/pl_usnw/DC13373_1
4. Boomgaard P. (2002). From Subsistence Crises to Business Cycle Depressions, Indonesia 1800-1940. Royal Institute of Linguistics and Anthropology (KITLV) Leiden, The Netherlands. Paper written for the Conference on Economic Growth and Institutional Change in Indonesia in the 19th and 20th Centuries, Amsterdam, 25-26 February 2002 (draft). http://www.iisg.nl/research/ecgrowthboomgaard.pdf
5. http://veterinarianinnaples.com/a1241918-dreaded-cattle-plague-disease-eradicated.cfm
6. Drewes G. (1985). The Life-Story of an old-time Priangan Regent as told by himself. In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 141, No. 4, Leiden, 399-422.
7. http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-11542653
8. http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-13473227
9. http://microbewiki.kenyon.edu/index.php/Rinderpest_Virus
10. Rushton J., Pilling D., and Heffernan C.L. (2002). A literature review of livestock diseases and their importance in the lives of poor people. In: Perry B.D., Randolph T.F., McDermott J.J., Sones K.R., and Thornton P.K. Investing in Animal Health Research to Alleviate Poverty. A report commissioned by the UK Department for International Development, on behalf of the Inter-Agency Group of Donors Supporting Research on Livestock Production and Health in the Developing World. International Livestock Research Institute, Nairobi, Kenya.
11. http://www.iah.ac.uk/disease/rinderpest1.shtml#20thCentury
12. http://www.au-ibar.org/index.php/en/focus-areas/rinderpest?format=pdf
13. Rweyemamu M.M., Roeder P.L., Benkirane A., Wojciechowski K., and Kamata A. (1995). Emergency prevention system for transboundary animal and plant pests and diseases: The livestock diseases component. In: World Animal Review 50 Years. FAO, Rome, Italy.
http://www.fao.org/DOCREP/V8180T/v8180T0v.htm
14. Barwegen M. (2008). The effects of the interference of the Civil Veterinary service (CVS) of Java after the outbreak of rinderpest in 1878. Argos (38):356-62. [Article in Dutch]. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20642139
15. Roeder P. (2002). Rinderpest and the Global Rinderpest Eradication Programme. Cattle Practice. BCVA 2002.
16. http://www.guardian.co.uk/global-development/2011/jun/22/eradicating-livestock-diseases
17. Otte J., Roland-Holst D., and Rich K.M. (2001). Assessing the Global Costs and Benefits of Rinderpest Eradication – Historical Background and Methodological Issues. Microsoft PowerPoint Presentation at AU-IBAR, Nairobi, 4 April 2011.
18. FAO (2011). Freedom from the World Number 1 Cattle Plaque: Rinderpest. EMPRES Transboundary Animal Diseases Bulletin No. 38. Special issue Rinderpest.
19. OIE (2011). No more deaths from Rinderpest. OIE’s recognition pathway paved way for global declaration of eradication by FAO member countries in June. Press release.
http://www.oie.int/for-the-media/press-releases/detail/article/no-more-deaths-from-rinderpest
20. http://newswatch.nationalgeographic.com/2009/11/30/rinderpest_cattle_virus_eradicated/

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations di Vientiane, Laos

0 Komentar: