EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 03 Juli 2011

Manusia, hewan, patogen dan planit kita

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Pada dasarnya kita cenderung merasa bahwa dunia disekitar kita terbentuk oleh karena budaya dan industri lebih dari sejarah alam itu sendiri. Padahal perlu disadari bahwa kita adalah bagian dari kesatuan biologik yang meliputi semua spesies hidup di planit ini. Semua spesies bukan hanya manusia, akan tetapi juga hewan, tanaman, jamur dan patogen berbagi prinsip biokimiawi dasar yang sama dalam hal metabolisme, reproduksi dan pertumbuhan. Satu hal yang sejak dahulu kala juga difikirkan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. [1, 2]

Dunia mengenali bahwa penyakit-penyakit yang baru muncul dan muncul kembali (emerging and re-emerging diseases) yang berpotensi pandemik terjadi secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dan sebagian besar bersumber dari hewan (zoonosis).

Baik habitat alam maupun lingkungannya yang dikendalikan manusia seperti sistem produksi pertanian dan rantai suplai pangan adalah habitat dimana patogen dapat muncul, bersirkulasi, berubah secara dinamis, dan kadangkala bisa berpindah ke induk semang yang spesiesnya berbeda. [1]

Dengan demikian pemahaman mengenai keterkaitan antara manusia, hewan, patogen dan lingkungan di planit kita dirasakan semakin penting dan kritis, mengingat pengetahuan tentang kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan hewan atau kesehatan lingkungan. Gangguan terhadap lingkungan dapat mengarah kepada penularan patogen dari hewan ke manusia, atau evolusi patogen yang memiliki sifat baru sebagai respon terhadap perubahan lingkungan, atau menjadi ’reservoir’ bagi patogen yang memiliki sifat virulensi berbeda yang dapat bertahan di lingkungan, dan siap untuk memasuki siklus kehidupan manusia atau hewan pada waktu yang cocok. [3]

Faktor-faktor pendorong

Faktor-faktor pendorong timbulnya penyakit baru dapat diklasifikasikan menjadi tiga bergantung kepada lingkungan dimana penyakit tersebut terjadi yaitu (1) lingkungan dimana manusia hidup; (2) di dalam sistem pangan dan pertanian; atau (3) di dalam ekosistem alam.

Di lingkungan dimana manusia hidup, adanya perubahan permintaan konsumen, urbanisasi, kepadatan populasi manusia dan hewan, kedekatan antara manusia dan ternak, perubahan demografi, peningkatan mobilitas, tingkat kemiskinan, dan memburuknya status kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan, kesemuanya bertindak sebagai faktor pendorong penyakit-penyakit zoonosis yang baru muncul dan muncul kembali.

Di dalam sistem pangan dan pertanian, baik jumlah ternak, konsentrasi spasial produksi ternak, keberadaan kawasan dengan campuran biosekuriti yang berbeda-beda, pertumbuhan ekspor produk asal hewan, vaksinasi dan pemakaian obat yang tidak tepat, maupun eksploitasi sistem usaha ternak merupakan faktor-faktor pendorong yang menonjol.

Di dalam eksosistem alam, pengaruh pelanggaran habitat yang dilakukan manusia dan pemanfaatan lahan yang merugikan, seperti deforestasi, perburuan, dan perdagangan hewan hidup dan daging hutan liar membawa konsekuensi besar dalam hal fragmentasi habitat, kehilangan biodiversitas, dan perubahan iklim. [1]

Kenyataan diatas memperkuat kebutuhan para ahli untuk memahami secara lebih menyeluruh faktor-faktor pendorong dalam lingkup keterkaitan manusia dan hewan, dan terutama mempertimbangkan kesehatan seluruh lingkup ekosistem untuk membangun peringatan dini (early warning) dan sistem respon dalam melakukan deteksi, pencegahan, dan pengendalian penyakit-penyakit zoonosis yang baru muncul dan muncul kembali.

Pendekatan ’One Health’ berkaitan erat dengan pemahaman tentang faktor-faktor pendorong tersebut dan bagaimana konsep ini dapat dioperasionalkan pada keterkaitan hewan-manusia-ekosistem. Suatu tantangan yang memerlukan solusi dan kerjasama global dalam menghadapi penyakit zoonosis yang berpotensi wabah atau pandemi yang pada gilirannya akan memberikan dampak yang sangat luas di tingkat negara, regional, dan internasional. [1]

”One Health”

Konsep ”One Health” bukanlah sama sekali baru. Pada tahun 1964, seorang ahli epidemiologi veteriner Calvin Schwabe menciptakan suatu terminologi ”One Medicine” untuk menangkap keterkaitan antara kesehatan dan kesehatan hewan, serta realita medik dalam mencegah dan mengendalikan penyakit-penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis). ”One Medicine” sekaligus mengisyaratkan pentingnya kesadaran untuk mengenali bahwa risiko penyakit zoonosis bukan hanya mengancam manusia, tetapi juga suplai pangan dan ekonomi. [1]

Mengingat keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan dan lingkungan tersebut, maka pemikiran rasional tentang perlu adanya bentuk-bentuk kebijakan dan aksi terkoordinasi di antara berbagai institusi yang bertanggung jawab terhadap kesehatan masyarakat, ilmu medik, dan kesehatan hewan menjadi sangat intuitif. [1]

Belakangan digunakan terminologi ”One Health” (Satu Kesehatan), dan selanjutnya terwujud konsep lebih luas yang disebut ”One Health One World” (OWOH) atau dalam bahasa Indonesia menjadi “Satu Kesehatan Satu Dunia”. Sebutan OWOH saat ini merepresentasikan hubungan yang terjadi dan tidak bisa dihindarkan antara kesehatan dan kesehatan hewan serta kesehatan ekosistem yang dihuni semua spesies. [1]

”One Health” adalah suatu paradigma yang mencakup kesehatan manusia, hewan, dan lingkungannya dan mengenali bahwa kesehatan dari masing-masing ranah tersebut saling berkaitan satu sama lain. ”One Health” merupakan konsep yang inter-disiplin dan mempersatukan disiplin-disiplin tersebut, sehingga menghubungkan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan. [3]

Penerapan pendekatan ”One Health” secara sistematis berpotensi besar untuk mengurangi ancaman terhadap kesehatan global, mengingat lebih dari 60% penyakit-penyakit yang baru muncul disebabkan oleh penularan patogen dari hewan (zoonosis), dan 75% dari penyakit-penyakit zoonosis tersebut bersumber dari satwa liar. Penyakit-penyakit dan patogen yang mengilustrasikan pentingnya perspektif ”One Health” meliputi Q fever, Hanta virus, SARS, virus West Nile, virus Nipah, Cholera, Malaria dan Dengue. [4]

Manfaat dari sinergi inter-disiplin ”One Health” ke depan akan menghasilkan nilai tambah dan strategi yang lebih menjanjikan dalam memperkuat sistem kesehatan. Sekarang ini konsep ”One Health” berada dalam tahapan pengembangan yang dinamis, meskipun pada dasarnya mekanisme kerjasama zoonosis klasik atau tradisional yang dahulu sudah dilaksanakan akan tetap menjadi bagian penting dari konsep ini. Konsep ini disarankan bukan hanya menjadi pendorong bagi para pemimpin dalam beropini dan mencari solusi, akan tetapi juga bagi para penentu kebijakan dalam menerapkan konsep kebijakan ”One Health” secara global, regional, nasional dan lokal. [5]

Kerjasama global

Sementara di satu sisi prospek pandemi global yang disebabkan flu burung H5N1 belum mengarah kepada terwujudnya realisasi ’One Health’ sebagaimana diharapkan, akan tetapi di sisi lain telah berhasil menciptakan berbagai upaya pemecahan masalah internasional yang sangat luas dan kerjasama global yang belum pernah terjadi sebelumnya. [1]

Pentingnya dan urgensinya kerjasama global dalam menghadapi ancaman flu burung dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) pada awal kemunculan flu burung di Asia. Hal yang kemudian mendorong terbentuknya United Nations System Influenza Coordination (UNSIC) pada tahun 2005, suatu platform koordinasi yang sangat dibutuhkan dalam respon global.

Pembentukan ini diikuti dengan penyelenggaraan suatu seri pertemuan tingkat tinggi antar negara anggota PBB dan organisasi internasional yang bertujuan untuk mengarahkan, menciptakan dan mempertahankan momentum kerjasama global tersebut. Pertemuan yang kemudian disebut International Ministerial Conference on Animal and Pandemic Influenza, pertama kali diawali di Ottawa, Kanada (Oktober 2005), kemudian secara berturut-turut di Beijing, China (Januari 2006), Bamako, Mali (Desember 2006), New Delhi, India (Desember 2007), Sharm el-Sheikh, Mesir (Oktober 2008), dan Hanoi, Vietnam (2010).

Seperti diketahui, fokus kerjasama global untuk flu burung H5N1 mencakup koordinasi internasional, kerjasama multi-sektor, penguatan kapasitas dan strategi komunikasi yang diharapkan bisa diaplikasikan secara umum untuk penyakit-penyakit zoonosis baru muncul. Titik berat pengendalian diarahkan kepada sumber penyakit zonosis yaitu hewan (control at source) dengan tujuan mengurangi sedapat mungkin risiko penularan ke manusia. Termasuk juga formulasi kebijakan kesehatan hewan yang menyediakan advokasi bagi masyarakat peternakan agar standar-standar kesehatan hewan dan kesehatan dapat diterapkan dalam memelihara, menangani, dan mengangkut hewan yang berpotensi menularkan flu burung.

Disamping itu, disepakati juga bahwa komunitas internasional akan mendukung masing-masing negara tertular flu burung dalam membangun rencana strategik nasional lima tahunan yang terintegrasi antara kesehatan dan kesehatan hewan, terutama untuk pelaksanaan surveilans dan respon. Hal-hal lain yang juga disepakati menyangkut notifikasi wabah yang cepat, pemusnahan unggas dengan penyediaan kompensasi yang memadai bagi peternak dan praktek vaksinasi dan vaksin unggas yang baik.

Kerjasama global sangat esensial untuk mengkoordinasikan rencana dan respon ke depan terhadap kesiagaan darurat kesehatan masyarakat (public health emergencies), termasuk untuk penguatan kapasitas di seluruh dunia untuk mendeteksi, menilai dan merespon setiap kejadian penyakit baru muncul dan yang muncul kembali. [1]

Satu hal yang positif dari munculnya pandemi flu burung ini adalah para dokter dan dokter hewan membuat sejarah dimana ke-dua profesi ini merasa bergantung satu sama lain dan berfikir untuk memperkuat kerjasama dalam memberantas flu burung. Ke depan, momentum kerjasama antara ke-dua profesi ini diharapkan akan terus berlanjut dalam menghadapi penyakit-penyakit zoonosis baru muncul dan yang muncul kembali. Suatu tantangan yang harus dihadapi oleh ke-dua profesi ini khususnya di Asia Tenggara (juga bagi Indonesia) kalau kita melihat peta dunia yang memperlihatkan "wilayah panas" zoonosis dibawah ini.

Peta dunia yang memperlihatkan "wilayah panas" (hotspot) zoonosis
Sumber: Jones et al (2008). Nature 451, 990-993 [10]

Bantuan internasional

Pada dasarnya, pemikiran yang menjadi landasan bantuan internasional oleh negara-negara kaya adalah agar negara tersebut dapat ”ikutserta memerangi penyakit baru muncul di wilayah dimana penyakit tersebut berjangkit, sehingga tidak meluas ke wilayah lain di dunia atau sebelum sampai ke wilayah negaranya”. Pemikiran ini juga dilandasi fakta bahwa penyakit menular secara global tidak mengenal batasan negara, sehingga lebih efektif dan efisien apabila penyakit tersebut diberantas di negara asalnya sebelum menulari negara-negara kaya yang sesungguhnya memiliki sistem penolakan penyakit jauh lebih baik.

Sejak munculnya pandemi global flu burung H5N1 tahun 2003 lalu, negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa dan juga Australia secara aktif memikirkan upaya untuk menyiapkan dan menyalurkan dana internasional ke negara-negara yang mereka anggap sebagai ’hotspot’ penyakit baru muncul dan yang muncul kembali. Dana tersebut sebagian besar dikucurkan melalui badan dunia (PBB) seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Organisasi Dunia untuk Dana Anak-anak (UNICEF).

Pendekatan “One Health” telah membawa ke-enam organisasi internasional pada tahun 2008 yaitu FAO, OIE, WHO, UNSIC, UNICEF dan the World Bank (Bank Dunia) untuk menentukan arah ke depan dengan menerbitkan suatu dokumen berjudul “Contributing to One World One Health: A Strategic Framework for Reducing Risks of Infectious Diseases at the Animal-Human-Ecosystem Interface”. [silahkan diklik untuk terhubung dengan dokumen] Suatu kerangka strategi yang memfokuskan pada penyakit-penyakit baru muncul pada keterkaitan hewan-manusia-ekosistem yang berpotensi epidemi dan pandemi serta berdampak secara luas di tingkat negara, regional maupun internasional. [6]

Tujuan dan output dari kerangka strategi berfokus pada faktor-faktor pendorong timbulnya, menyebarnya dan bertahannya penyakit-penyakit baru muncul. Pendekatan yang digunakan dalam kerangka strategi ini didasarkan kepada pembelajaran yang diperoleh dari respon yang sudah dilakukan selama ini dan terus dilakukan terhadap flu burung H5N1. [6]

United States Agency for International Development (USAID), lembaga bantuan internasional pemerintah Amerika Serikat memainkan peran utama dalam respon global terhadap kemunculan dan penyebaran flu burung. Sejak pertengahan tahun 2005, USAID memprogramkan $543 juta untuk membangun kapasitas di lebih dari 50 negara untuk memantau dan menghentikan penyebaran flu burung di populasi burung liar, unggas domestik dan manusia. [7]

Upaya USAID untuk mengendalikan virus flu burung difokuskan kepada peningkatan kapasitas negara-negara berkembang dalam menghentikan penyebarannya dan membatasi kesempatan virus untuk berevolusi sedemikian rupa, sehingga memperkecil kemungkinan untuk berpindah secara lebih efisien ke populasi manusia. [7]

Sejumlah keberhasilan memang telah diperoleh dari bantuan internasional yang dimobilisasi secara global sejak kemunculan flu burung pada akhir tahun 2003 lalu. Keseluruhan magnituda pandemi flu burung H5N1 pada unggas telah berkurang, ditandai dengan jumlah kejadian wabah yang dilaporkan pada unggas dan kasus pada manusia menurun semenjak puncaknya di tahun 2006. Meskipun flu burung nampaknya berhenti menyebar ke negara-negara baru, akan tetapi telah terjadi penyusutan dramatis dalam cakupan geografis dimana jumlah negara tertularpun semakin berkurang.

Melalui bantuan internasional tersebut, negara-negara tertular di Asia dan Afrika dianggap telah berhasil memperkuat kapasitasnya dalam mengidentifikasi dan merespon potensi timbulnya wabah flu burung saat ini dan di masa yang akan datang. Penguatan ini diharapkan sekaligus juga memperkuat kapasitas negara-negara tersebut dalam menghadapi penyakit-penyakit zoonosis baru muncul dan yang muncul kembali. [7]

Menurut laporan UNSIC dan Bank Dunia, secara global jumlah donor yang menyepakati bantuan internasional semakin menurun sejak awal munculnya flu burung. Mulai dari 35 donor pada pertemuan internasional di Beijing, kemudian berturut-turut 17 donor di Bamako, 9 donor di New Delhi, 4 donor di Sharm El Sheikh, dan 2 donor di Hanoi. Jumlah keseluruhan jaminan finansial yang dikucurkan donor dalam 4 pertemuan pertama mencapai lebih dari US$ 3 milyar untuk kerjasama global melawan pandemi flu burung pada manusia dan unggas. [8]

Enam donor terbesar yang memberikan bantuan internasional untuk negara-negara berkembang dalam memerangi flu burung adalah Amerika Serikat (US$1.42 milyar), Jepang (US$ 357 juta); Komisi Eropa (US$ 242 juta), Australia (US$ 111 juta), Bank Dunia (US$ 174 juta), dan Bank Pembangunan Asia/Asia Development Bank (US$ 57 juta). 

Indonesia merupakan negara penerima bantuan internasional atau negara resipien terbesar untuk flu burung yaitu US$ 138 juta, kemudian berturut-turut Vietnam US$ 103 juta, Nigeria US$ 53 juta, Kamboja US$ 34 juta, Mesir US$ 30 juta, Turki US$ 29 juta, Laos US$ 27 juta, Bangladesh US$ 19 juta, India US$ 15 juta, dan Rumania US$ 7 juta. [8]

Rencana dan respon ke depan

Sebagai negara tertular flu burung dengan jumlah kasus manusia dan unggas tertinggi di dunia, Indonesia akan tetap menjadi fokus utama dalam kerjasama global. Luasnya geografi wilayah negara, populasi penduduknya yang besar, serta kompleksitas habitat alam dan lingkungannya menjadi tantangan luar biasa bagi Indonesia dan organisasi-organisasi internasional dalam menghadapi munculnya penyakit zoonosis baru dan yang muncul kembali. Negara ini akan terus menjadi sasaran bantuan internasional sepanjang masih dianggap sebagai salah satu ”wilayah panas” (hotspot) di dunia.

Untuk itu Indonesia ke depan mau tidak mau harus mulai mempertimbangkan pendekatan “One Health” dalam melakukan rencana dan respon ke depan di semua tingkatan, mulai tingkat masyarakat sampai ke tingkat internasional, serta memerlukan dukungan politik tingkat tinggi dan pemberdayaan institusional. Dalam hal ini pemain utamanya meliputi organisasi internasional, institusi pemerintah dan lembaga nasional lainnya, institusi kesehatan, pertanian dan veteriner, organisasi dan yayasan swasta, institusi akademik, komunitas dan lembaga swadaya masyarakat.

Operasionalisasi ”One Health” merupakan kesempatan istimewa untuk membangun konvergensi dan sinergi antara negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara maju sebagai pemberi bantuan maupun juga organisasi-organisasi internasional (FAO, OIE, WHO, UNSIC, UNICEF dan World Bank) sebagai pelaksana kerjasama global.

Meskipun belum terlambat dan harus disambut dengan baik bahwa Indonesia baru saja menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pengendalian Zoonosis yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 20 Mei 2011. Perpres No. 30/2011 mengatur langkah-langkah komprehensif dan terpadu mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi profesi, lembaga non pemerintah, perguruan tinggi, lembaga internasional serta seluruh lapisan masyarakat dan pihak terkait lainnya. Perpres juga mengatur pembentukan Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis yang bertindak sebagai pusat pengendali zoonosis saat terjadi kejadian luar biasa/wabah dan pandemi akibat zoonosis. [9]

Penerbitan Perpres ini harus dibaca sebagai upaya nasional untuk penyiapan kerangka institusional dan infrastruktur, serta koordinasi dan konsolidasi keseluruhan mandat yang dibutuhkan, meliputi prediksi, pencegahan, identifikasi dan respon, serta pengendalian penyakit zoonosis baru muncul dan yang muncul kembali. Dengan demikian upaya ini sekaligus mendukung penanganan persoalan-persoalan kemiskinan dan kesehatan lainnya yang terkait dengan Sasaran Pembangunan Milenium (Milleneum Development Goals). Suatu komitmen pemerintah Indonesia yang harus dibangun berdasarkan konsensus internasional dan perspektif ”One Health” dalam konteks kerjasama global sebagaimana disebutkan diatas.

Referensi:

[1] World Bank (2010). People, Pathogens, and Our Planet. Volume 1: Towards a One Health Approach for Controlling Zoonotic Diseases. Report No. 50833-GLB. Agriculture and Rural Development. Health, Nutrition and Population. Washington DC, U.S.A.

[2] http://stephan.grandpre.net/darwin.html

[3] Katz R.L., L├│pez L.M., Annelli J.F., Arthur R.R., Carroll D., Chapman L.W., Cole K., Gay C.G., Lowe D.L., Resnick G., and Russel K.L. (2010). U.S. Government engagement in support of global disease surveillance. BMC Public Health (Suppl 1):S13. http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/S1/S13

[4] Atlas R., Rubin C., Maloy S., Daszak P., Colwell R., and Hyde B. (2010). One Health – Attaining Optimal Health for People, Animals and the Environment. Microbe Magazine. http://www.microbemagazine.org/index.php/09-2010-home/2760-one-health-attaining-optimal-health-for-people-animals-and-the-environment

[5] Meisser A., Schelling E., and Zinstag J. (2011). One Health in Switzerland: A visionary concept at a crossroads? Swiss Med Wkly 141:w13201. doi:10.4414/smv.2011.13201.

[6] FAO, OIE, WHO, UNSIC, UNICEF and the World Bank (2008). Contribution to One World One Health. A Strategic Framework for Reducing Risks of Infectious Diseases at the Animal-Human-Ecosystem Interface. Consultation Document. 14 October 2008. ftp://ftp.fao.org/docrep/fao/011/aj137e/aj137e00.pdf

[7] United States of America International Development (2009). USAID Avian and Pandemic Influenza and Zoonotic Disease Program. Program Description PREDICT. RFI Number: USAID/M/OAA/GH/HSR-09-877.

[8] United Nations and the World Bank (2010). Animal and Human Pandemic Influenza. A Framework for Sustaining Momentum. Fifth Global Progress Report. June 2010.
http://un-influenza.org/files/Global%20Progress%20Report%202010.pdf

[9] http://wartapedia.com/kesehatan/endemi/3905-zoonosis-ancaman-meningkat-pemerintah-bentuk-komisi-nasional.html

[10] Jones K.E., Patel N.G., Levy M.A., Storeygard A., Balk D., Gittleman J.L. and Daszak P. (2008). Global trends in emerging infectious diseases. Nature 451, 990-993.

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations di Vientiane, Laos

1 Komentar:

margie.s [Reply] mengatakan...

nice post,.....