EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Sabtu, 05 Juli 2014

Apa yang bakal terjadi seandainya kasus PMK muncul saat ini?

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Apa dan bagaimana reaksi kita apabila wabah penyakit mulut-dan-kuku (PMK) tiba-tiba meletup di salah satu daerah di Indonesia sekarang ini? Siapkah pemerintah dan masyarakat peternakan kita menghadapinya? Setelah kita mengenyam status bebas PMK selama kurang lebih 28 tahun, apakah semua sumberdaya dan infrastruktur sudah memadai untuk menangkal kalau terjadi serangan wabah?

Selasa, 11 Februari 2014

Analisis kebijakan program pembebasan brucellosis di Indonesia (belum final)

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

http://dinaspeternakankabupatenblitar.blogspot.com/2010/03/pemeriksaan-penyhakit-brucellosis.html
Petugas sedang melakukan uji brucellosis
di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe C
Dinas Peternakan Kabupaten Blitar
http://dinaspeternakankabupatenblitar.blogspot.com
Brucellosis pada sapi (bovine brucellosis) merupakan suatu penyakit reproduksi yang disebabkan oleh kuman brucella, yang menyebabkan keguguran (abortus), anak sapi lahir lemah dan beratnya ringan, perpanjangan jarak beranak (calving interval), dan penurunan produksi susu pada induk sapi potong dan sapi perah. [1] Penyakit ini dapat menular ke manusia (zoonosis) dengan menimbulkan gejala berupa demam intermiten, berkeringat, sakit kepala, lemah, nyeri sendi dlsbnya (tidak spesifik, mirip dengan penyakit lain yang juga menimbulkan demam). [2, 14]

Senin, 20 Januari 2014

Otoritas veteriner di Indonesia: (2) Keterkaitan dengan kesehatan hewan akuatik dan satwa liar

Tersambung ke tulisan pertama dari dua tulisan yang membahas otoritas veteriner di Indonesia

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tulisan kedua khusus membahas mengenai koordinasi yang diperlukan antara otoritas veteriner dengan mitra-nya yang memberikan pelayanan kesehatan hewan akuatik dan satwa liar. Keterkaitan baik dengan kesehatan hewan akuatik maupun satwa liar ditentukan bukan hanya karena keterlibatan dokter hewan sebagai aktor utamanya, akan tetapi juga adanya hubungan teknis sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (OIE) dengan mempertimbangkan juga peraturan perundangan yang berlaku di masing-masing bidang.

Sabtu, 18 Januari 2014

Otoritas veteriner di Indonesia: (1) Pranata kesehatan hewan yang terdesentralisasi dan terfragmentasi

Tersambung ke tulisan kedua dari dua tulisan yang membahas otoritas veteriner di Indonesia

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tulisan yang cukup panjang dibawah ini dimaksudkan untuk membahas pemahaman tentang "Otoritas Veteriner" yang berbeda di Indonesia, dan juga kondisi yang menyebabkan lemahnya penegakan otoritas veteriner dalam penyelenggaraan urusan kesehatan hewan nasional. Tulisan ini juga mengulas pemikiran berbagai kalangan dokter hewan untuk mengajukan wacana memperkuat otoritas veteriner melalui pembentukan "Badan Otoritas Veteriner" (BOV).

Jumat, 17 Januari 2014

Impor ternak dan risiko PMK

K O M P A S, SENIN, 13 JANUARI 2014 – RUBRIK OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Menteri Pertanian telah menyatakan keinginannya membuka peluang impor dari dua negara pengekspor utama ternak dan daging sapi, Brazil dan India. Hal ini karena khawatir terjadi monopoli perdagangan mengingat pasokan hanya dibatasi pada dua negara: Australia dan Selandia Baru.

Pernyataan ini kemudian diperkuat Menteri Perdagangan, dipicu kasus penyadapan oleh Australia. Mulai awal tahun 2014,pemerintah akan mencari alternatif pemasok ternak hidup dan daging sapi, selain Australia. Rencana itu sah-sah saja dilihat dari kacamata ekonomi, tetapi dampak kesehatan hewan tak bisa begitu saja diabaikan.

Minggu, 05 Januari 2014

Peluang masuknya kembali PMK lewat impor ternak


"The old maxim that prevention is better than cure is very relevant when dealing with FMD and other transboundary animal diseases."

FAO, Animal Health Manual No. 16. ISSN 1020-5187

Sumber gambar:
http://www.abc.net.au/news/2011-12-15/australian-cows-are-loaded-onto-a-truck-in-an/3733806

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berkeinginan untuk mengimpor sapi hidup dari negara Brazil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasokan sapi dari Australia. Rencana tersebut sudah digaungkan sejak 2008 lalu [1] dan semakin mengemuka pada akhir 2013 ini. [2]

Jumat, 30 Agustus 2013

Pasal Pidana Penganiayaan Hewan

KOMPAS, SELASA, 27 AGUSTUS 2013

Pengantar Redaksi

Perkara penganiayaan hewan di Indonesia selama ini hanya diatur dalam satu pasal KUHP, yaitu Pasal 302: suatu pasal kadaluwarsa yang memuat hukuman pidana sangat ringan bagi pelaku kekerasan terhadap hewan. Karena KUHP sedang direvisi DPR, inilah momen yang tepat untuk memperbaruinya. Baca lebih lanjut "Pasal Pidana Penganiayaan Hewan" yang ditulis Tri Satya Putri Naipospos dari Center for Indonesian Veterinary Analytical  Studies, di Kompas Siang, Selasa (27/8/2013).

Senin, 17 Juni 2013

Perhitungan Kerugian Ekonomi Penyakit Mulut dan Kuku

(Tulisan lama dibawah ini dibuat pada tahun 2002 yang lalu, ditampilkan berkaitan dengan acara Simulasi PMK Direktorat Kesehatan Hewan "CELEBES SIAGA PMK" di Makassar 2-5 Juli 2013)
 
Drh. Tri Satya Putri N. Hutabarat, MPhil, PhD
Direktur Pengembangan Peternakan

I.   PENDAHULUAN

Suatu penyakit hewan eksotik yang sangat menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mampu menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat luar biasa besarnya baik bagi produsen ternak, industri terkait maupun konsumen. Pemerintah Indonesia berupaya untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah masuknya kembali PMK ke Indonesia dan akan melakukan upaya pemberantasan dengan biaya yang diharapkan dapat ditekan serendah mungkin apabila wabah PMK suatu saat muncul kembali.

EKONOMI VETERINER

(Tulisan yang sudah lama sekali, pentingnya ekonomi veteriner diingatkan kembali oleh Drh. Tjiptardjo Pronohartono, SE - Pemimpin Redaksi Majalah Infovet. Tulisan ini dikutip dari buku “Dokter Hewan Indonesia” yang diterbitkan oleh PB PDHI tahun 1986; pp. 120-126)

Infovet, Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan  - Edisi 229 Agustus 2013 (halaman 70-72)

Tri Satya Putri N. Hutabarat
Direktorat Jenderal Peternakan

1. PENDAHULUAN

www.davenicol.com
“Ekonomi Veteriner” atau dalam bahasa asingnya “Veterinary Economics” adalah hal yang masih baru dan belum banyak diterapkan di bidang kesehatan hewan di Indonesia. Apa yang dimaksud dengan ekonomi veteriner? Ekonomi veteriner adalah suatu ilmu yang mempelajari penerapan prinsip-prinsip ekonomi di dalam menganalisa suatu kegiatan veteriner.

Selama dasawarsa terakhir ini, negara-negara maju memperoleh kemajuan yang berarti dalam pengembangan teknik-teknik analisa ekonomi yang digunakan dalam perencanaan maupun evaluasi program-program kesehatan hewan. Dalam tahun-tahun belakangan ini ekonomi veteriner semakin populer dan meningkat penggunaannya di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.