EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Jumat, 21 Agustus 2015

Pulau Karantina

K O M P A S, SELASA, 11 AGUSTUS 2015 - O P I N I

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Pemerintah berencana membangun karantinaternak di suatu pulau karena kekhawatiran penyakit mulut dan kuku.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit ternak paling ganas di dunia, paling merugikan secara ekonomi, dan berpotensi menjadi agen agro-terorisme yang bisa merusak dan menghancurkan industri ternak suatu negara.

Para ahli kesehatan hewan bercita-cita membebaskan PMK secara global. Mencontoh penyakit hewan menular lain yang telah dibebaskan pada 2011. Rinderpest lebih mudah diberantas karena serotipe virusnya tunggal. PMK memiliki tujuh serotipe virus dan di antara serotipe tersebut ada lebih dari 60 subtipe. Bahkan, subtipe baru bisa muncul tiba-tiba.

Senin, 04 Agustus 2014

Ebola, Prahara Dunia Ketiga

KOMPAS, RABU, 30 JULI 2014 – RUBRIK OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Biasanya dimulai saat bangun pagi di mana korban merasa tak enak badan. Tak ada nafsu makan, kepala pusing, tenggorokan sakit, demam, dan menggigil.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada tubuh korban tidak beda dengan penyakit lain yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Namun, ternyata penyakit ebola jauh lebih agresif. Belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Ebola secara perlahan-lahan mulai menyusup dari hutan ke kota dan menembus batas-batas wilayah negara. Ebola membuat ratusan dokter frustasi dalam upaya menyelamatkan korban, tetapi masih selalu gagal menaklukkan penyakit ini.

Sabtu, 05 Juli 2014

Apa yang bakal terjadi seandainya wabah PMK muncul saat ini?

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

"Rapid diagnosis of foot-and-mouth disease is of paramount importance, especially in countries that are usually free of infection, so that quarantine and eradication programs can be implemented as quickly as possible.

Murphy,F.A., Gibbs, E.P.J., Horzinek, M.C. & Studdert, M.J., 1999


Apa dan bagaimana reaksi kita apabila wabah penyakit mulut-dan-kuku (PMK) tiba-tiba meletup di salah satu daerah di Indonesia sekarang ini? Siapkah pemerintah dan masyarakat peternakan kita menghadapinya? Setelah kita mengenyam status bebas PMK selama kurang lebih 28 tahun, apakah semua sumberdaya dan infrastruktur sudah memadai untuk menangkal kalau terjadi serangan wabah?

Selasa, 11 Februari 2014

Analisis kebijakan program pembebasan brucellosis di Indonesia (belum final)

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

http://dinaspeternakankabupatenblitar.blogspot.com/2010/03/pemeriksaan-penyhakit-brucellosis.html
Petugas sedang melakukan uji brucellosis
di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe C
Dinas Peternakan Kabupaten Blitar
http://dinaspeternakankabupatenblitar.blogspot.com
Brucellosis pada sapi (bovine brucellosis) merupakan suatu penyakit reproduksi yang disebabkan oleh kuman brucella, yang menyebabkan keguguran (abortus), anak sapi lahir lemah dan beratnya ringan, perpanjangan jarak beranak (calving interval), dan penurunan produksi susu pada induk sapi potong dan sapi perah. [1] Penyakit ini dapat menular ke manusia (zoonosis) dengan menimbulkan gejala berupa demam intermiten, berkeringat, sakit kepala, lemah, nyeri sendi dlsbnya (tidak spesifik, mirip dengan penyakit lain yang juga menimbulkan demam). [2, 14]

Senin, 20 Januari 2014

Otoritas veteriner di Indonesia: (2) Keterkaitan dengan kesehatan hewan akuatik dan satwa liar

Tersambung ke tulisan pertama dari dua tulisan yang membahas otoritas veteriner di Indonesia

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tulisan kedua khusus membahas mengenai koordinasi yang diperlukan antara otoritas veteriner dengan mitra-nya yang memberikan pelayanan kesehatan hewan akuatik dan satwa liar. Keterkaitan baik dengan kesehatan hewan akuatik maupun satwa liar ditentukan bukan hanya karena keterlibatan dokter hewan sebagai aktor utamanya, akan tetapi juga adanya hubungan teknis sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (OIE) dengan mempertimbangkan juga peraturan perundangan yang berlaku di masing-masing bidang.

Sabtu, 18 Januari 2014

Otoritas veteriner di Indonesia: (1) Pranata kesehatan hewan yang terdesentralisasi dan terfragmentasi

Tersambung ke tulisan kedua dari dua tulisan yang membahas otoritas veteriner di Indonesia

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Tulisan yang cukup panjang dibawah ini dimaksudkan untuk membahas pemahaman tentang "Otoritas Veteriner" yang berbeda di Indonesia, dan juga kondisi yang menyebabkan lemahnya penegakan otoritas veteriner dalam penyelenggaraan urusan kesehatan hewan nasional. Tulisan ini juga mengulas pemikiran berbagai kalangan dokter hewan untuk mengajukan wacana memperkuat otoritas veteriner melalui pembentukan "Badan Otoritas Veteriner" (BOV).

Jumat, 17 Januari 2014

Impor ternak dan risiko PMK

K O M P A S, SENIN, 13 JANUARI 2014 – RUBRIK OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Menteri Pertanian telah menyatakan keinginannya membuka peluang impor dari dua negara pengekspor utama ternak dan daging sapi, Brazil dan India. Hal ini karena khawatir terjadi monopoli perdagangan mengingat pasokan hanya dibatasi pada dua negara: Australia dan Selandia Baru.

Pernyataan ini kemudian diperkuat Menteri Perdagangan, dipicu kasus penyadapan oleh Australia. Mulai awal tahun 2014,pemerintah akan mencari alternatif pemasok ternak hidup dan daging sapi, selain Australia. Rencana itu sah-sah saja dilihat dari kacamata ekonomi, tetapi dampak kesehatan hewan tak bisa begitu saja diabaikan.