EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Sabtu, 26 Mei 2012

Pengendalian penyakit hewan dan zoonosis: Perlu tata pemerintahan veteriner yang baik

"Good veterinary governance is key to dealing with all animal diseases, including zoonoses."


Dr. Bernard Vallat, Director General of the World Organization of Animal Health [1]


Sabtu, 12 Mei 2012

Monitor terus populasi itik: “Kuda Troya” virus H5N1

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Sumber: skyduckindonesia.blogspot.com
“…… more than 70% of the world’s ducks are raised where H5N1 is endemic

Guan Yi

Source:
Monitor outbreaks in domestic ducks. Nature, Vol. 483, 29 March 2012

Sabtu, 28 April 2012

Penyakit hewan, zoonosis dan pengendalian penyakit: Dampaknya terhadap pengentasan kemiskinan

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Wabah penyakit hewan seringkali jadi ancaman nyata bagi subsektor peternakan bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, baik dari sudut pandang dampak ekonomi penyakit itu sendiri maupun tindakan yang dijalankan untuk mengurangi risiko penyakit. [1] Dampak penyakit hewan tersebut bersifat multi-dimensional dan tidak selalu mudah dipahami dengan baik, sehingga memperumit efektivitas respon kebijakan. [2]

Sumber: Gomong.com
Di negara-negara berkembang seperti juga Indonesia, ternak berperan sebagai bagian penting dari kesejahteraan rumah tangga dan dalam kondisi tertentu berfungsi sebagai jalan keluar pengentasan kemiskinan. Dalam konteks dimana ternak berkontribusi terhadap pangan, pendapatan, tenaga kerja, aset, dan berbagai fungsi sosial, dampak penyakit hewan terutama terhadap kemiskinan sulit diabaikan begitu saja. [3, 4, 5]

Kamis, 29 Maret 2012

Implikasi teknis dan epidemiologis kebijakan vaksinasi massal avian influenza

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
 
Sumber: USAID
Sejak kemunculannya pada akhir 2003, highly pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 telah menular ke 63 negara di seluruh dunia dan dikaitkan dengan lebih dari 350 kasus orang meninggal serta kematian dan pemusnahan ratusan juta ekor unggas. Di beberapa negara tertular, virus H5N1 bisa dieliminasi melalui intervensi yang cepat dan menentukan oleh sistem kesehatan hewan nasionalnya. Namun di beberapa negara pula, virus sudah menjadi endemik pada sistem ekologi dan produksi unggas, mengarah kepada kemungkinan bangkitnya infeksi kembali pada unggas dan manusia apabila upaya pengendalian berjalan kendor. [1]

Sejumlah negara dimana virus HPAI H5N1 saat ini dianggap endemik, meliputi China, Mesir, Indonesia dan Vietnam, semuanya memasukkan kebijakan vaksinasi sebagai bagian dari strategi pengendalian nasionalnya. [1] Populasi unggas nasional di China, Mesir, Indonesia dan Vietnam berturut-turut 14,6-16,4 milyar, 534-599 juta, 1,3-1,4 milyar dan 323-534 juta ekor. China dan Indonesia memulai kampanye vaksinasi massal pada tahun 2004, Vietnam tahun 2005 dan Mesir tahun 2006. [5] Tulisan ini bertujuan mengkaji implikasi teknis dan epidemiologis kebijakan pengendalian HPAI yang dilakukan melalui kampanye vaksinasi nasional berdasarkan literatur yang ada.

Sabtu, 17 Maret 2012

Pertanian dan Kesehatan: Hubungan inter-sektoral yang tak pernah putus

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Dunia menyadari bahwa meningkatnya ancaman dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit berasal dari hewan atau zoonosis di wilayah Asia dan Pasifik nampak semakin nyata dengan munculnya wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada tahun 2004. Potensi geografis yang dijangkau oleh ke-dua wabah penyakit ini, begitu juga dampak sosio-ekonomi dan respon tindakan yang dijalankan telah mengubah lansekap atau bentangan kesehatan manusia. [1]

Metafora globalisasi, urbanisasi, dan ekspansi populasi yang selama ini membentuk lintasan pembangunan Asia juga cenderung merusak kelestarian lingkungan dan kesehatan hewan. Konvergensi dari kecenderungan ini – berbarengan dengan faktor-faktor determinasi budaya, seperti pola makan dan praktek-praktek pertanian tradisional – telah menghubungkan secara erat kesehatan dengan satwa liar, manusia dan hewan domestik. [1]

Kamis, 24 November 2011

Perspektif eradikasi global penyakit mulut-dan-kuku (PMK)

Sumber: FAO

"Is eradicating livestock diseases the best way forward"

Foot-and-mouth disease could be the next big target for the international community at large

The Guardian, 22 June 2011


Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Terinspirasi dengan sukses mengeradikasi rinderpest, para ahli dunia merancang penyakit ternak lainnya yang dianggap sangat merugikan secara ekonomis untuk juga dilenyapkan dari muka bumi. Para ahli tersebut kemudian memfokuskan perhatian mereka pada penyakit mulut-dan-kuku (PMK) yang saat ini masih menjangkiti dan mempengaruhi seluruh kontinen di dunia, kecuali Antartika. [1]

Kamis, 10 November 2011

Munculnya penyakit Porcine reproductive and respiratory syndrome (PRRS) baru dan keterkaitannya dengan patogen zoonosis Streptococcus suis

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos 

Hampir 60% populasi ternak babi dunia terletak di China dan Asia Tenggara, namun demikian situasi kesehatan dari populasi babi tersebut sebenarnya sulit diramalkan. [3] Sejak tahun 2006, industri ternak babi di wilayah ini dilanda munculnya penyakit baru (emerging disease) highly pathogenic porcine reproductive and respiratory syndrome (HP-PRRS) yang pertama kali dilaporkan di China, kemudian menyebar ke Vietnam, Filippina, Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar. [1, 2]

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sirkulasi domestik dan evolusi virus H5N1 di Asia Tenggara

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Film “Contagion” yang dipertunjukkan tahun ini, karya terbaru Steven Soderbergh, seorang sutradara Amerika Serikat terkenal pemenang Academic Award, seakan memperingatkan dunia kembali akan ancaman besar yang bisa muncul akibat pandemi penyakit menular yang ditularkan dari hewan. Meskipun tidak terlalu jelas sampai akhir cerita, bahaya patogen apa sebenarnya yang ingin digambarkan dalam film tersebut. Tapi banyak mengaitkannya dengan flu burung (bird flu) sebagai virus pembunuh yang terus mengintai dan membayangi dunia. [1, 2]

"I haven't seen the film yet but bird flu is the real killer lurking in the shadows," says 
Professor Robert Webster, the world's leading expert on bird flu.