Oleh: Tri Satya Putri Naipospos
 |
| Sumber: USAID |
Sejak kemunculannya pada akhir 2003,
highly pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 telah menular ke 63 negara di seluruh dunia dan dikaitkan dengan lebih dari 350 kasus orang meninggal serta kematian dan pemusnahan ratusan juta ekor unggas. Di beberapa negara tertular, virus H5N1 bisa dieliminasi melalui intervensi yang cepat dan menentukan oleh sistem kesehatan hewan nasionalnya. Namun di beberapa negara pula, virus sudah menjadi endemik pada sistem ekologi dan produksi unggas, mengarah kepada kemungkinan bangkitnya infeksi kembali pada unggas dan manusia apabila upaya pengendalian berjalan kendor. [1]
Sejumlah negara dimana virus HPAI H5N1 saat ini dianggap endemik, meliputi China, Mesir, Indonesia dan Vietnam, semuanya memasukkan kebijakan vaksinasi sebagai bagian dari strategi pengendalian nasionalnya. [1] Populasi unggas nasional di China, Mesir, Indonesia dan Vietnam berturut-turut 14,6-16,4 milyar, 534-599 juta, 1,3-1,4 milyar dan 323-534 juta ekor. China dan Indonesia memulai kampanye vaksinasi massal pada tahun 2004, Vietnam tahun 2005 dan Mesir tahun 2006. [5] Tulisan ini bertujuan mengkaji implikasi teknis dan epidemiologis kebijakan pengendalian HPAI yang dilakukan melalui kampanye vaksinasi nasional berdasarkan literatur yang ada.