Minggu, 18 September 2011

Dinamika populasi anjing: Ladang pembibitan rabies

http://www.sergapntt.com/2011/09/anjing-dewanya-orang-flores.html

The fight against rabies in Indonesia is far from over. The country’s failure to curb rabies is the history of an "Incurable Indonesian Wound". [1]

(Professor A.A. Ressang, the late senior veterinary public health scientist from the University of Indonesia, now Bogor Institute of Agriculture, 1963)


Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Setelah hampir 14 tahun lamanya berjangkit di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kita dihenyakkan kembali pertengahan 2011 ini dengan perkembangan kasus rabies yang mencemaskan di pulau tersebut. Sejak pertama kali rabies muncul pada 1997 sampai 2011, korban tewas akibat rabies mencapai 215 orang dari 28.386 kasus gigitan anjing. [2] Pertanyaannya, mengapa luka rabies tak kunjung sembuh? Apakah dinamika populasi anjing di pulau tersebut bisa memberikan pembelajaran teknis tentang bagaimana kita memerangi rabies?


Tentunya banyak faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kembali tingkat kejadian rabies di Pulau Flores. Mulai dari kegagalan pengendalian rabies pada anjing sampai kurang memadainya penyediaan vaksin anti rabies (Pre Exposure Prophylaxis/PEP) untuk korban gigitan anjing. [2]

Sesungguhnya apa yang dikatakan Profesor Ressang hampir 48 tahun lalu masih relevan sampai dengan saat ini, bahwa sejarah pengendalian rabies di Indonesia ibarat luka yang tak kunjung sembuh. Faktor-faktor utama yang menyebabkan rabies meningkat kembali di pulau tersebut pada umumnya sama dengan di negara-negara berkembang lainnya di Afrika dan Asia. Faktor-faktor yang diidentifikasi mencakup: (1) prioritas yang rendah, (2) hambatan epidemiologik, (3) hambatan operasional, dan (4) kurangnya sumberdaya. [3]

Populasi manusia vs anjing

Seperti halnya negara-negara yang jumlah penduduknya sangat tinggi seperti China dan India, maka Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar ke-empat di dunia juga dilanda masalah rabies dalam beberapa dekade terakhir. Rabies di tiga negara ini sebenarnya dapat dianggap sebagai penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging disease), karena menunjukkan peningkatan kasus dalam 5-10 tahun terakhir. Saat ini, tingkat kejadian rabies tertinggi di dunia adalah India dan ke-dua China. Rabies di Indonesia juga menjadi masalah penyakit baru muncul (emerging disease) karena berjangkit di beberapa pulau yang sebelumnya bebas rabies. [13]

Sejak 1985 sampai dengan saat ini, India merupakan negara dengan jumlah korban meninggal akibat rabies paling tinggi di dunia dengan rata-rata 20-30 ribu kasus per tahun. [4] Secara kasar dapat dikatakan sekitar 36% dari kasus orang meninggal akibat rabies di dunia terjadi di India. [11] Populasi anjing di India sekitar 25 juta ekor dengan rasio anjing:manusia diestimasi 1:36. [4]

Sebelum 1990, China merupakan negara dengan tingkat kejadian rabies tertinggi ke-dua di dunia, akan tetapi kemudian sempat mengalami penurunan kasus pada 1990-1996. Dari 1950-2004, sebanyak 103.200 orang meninggal akibat rabies di seluruh wilayah negara tersebut. Empat kali epidemi rabies terjadi dalam periode tersebut dengan interval 10 tahunan yaitu 1956-1957, 1965-1966, 1974-1975, dan 1982-1983. Epidemi terhebat terjadi antara 1980-1990 dimana 55.367 kasus meninggal akibat rabies. Setelah 1990, jumlah kasus yang dilaporkan menurun setiap tahun, utamanya disebabkan oleh gencarnya kampanye peningkatan kesadaran masyarakat. [5, 6]

Kemudian data menunjukkan sebanyak 19,806 kasus orang meninggal akibat rabies dari 1996-2008 di China, dengan rata-rata 1.524 kasus per tahun. Tingkat kejadian pada 1996 hanya 159 kasus, kemudian meningkat secara eksponensial selama periode tersebut dengan puncaknya mencapai 3.300 kasus pada 2007. [7, 8] Populasi anjing di China diestimasi berkisar antara 100-200 juta ekor dan 85-95% kasus rabies pada manusia dilaporkan akibat gigitan anjing. [8] Rasio anjing:manusia lebih tinggi di wilayah China selatan dibandingkan dengan wilayah utara. [5, 6]

Dari 1997-2010, 4,261 kasus orang meninggal karena rabies dilaporkan di hampir seluruh provinsi di China. Meskipun demikian, 60% dari total kasus rabies dilaporkan di 5 provinsi yang terletak di selatan China yaitu Guangdong, Guangxi, Guizhou, Hunan, dan Sichuan. [9] Sejak kasus rabies meningkat pada 2004, maka China kembali menjadi negara dengan tingkat kejadian tertinggi ke-2 di dunia.

Sebenarnya statistik populasi anjing di masing-masing negara sangat sulit diperoleh, meskipun pernah diestimasi jumlahnya di seluruh dunia mencapai 500 juta atau lebih. Anjing domestik ditemukan di seluruh kontinen dan praktisnya ada di seluruh pulau yang dihuni manusia. Pada umumnya rasio anjing:manusia berkisar antara 1:10 dan 1:6, tetapi sesungguhnya sangat bervariasi antar kontinen dan antar wilayah negara. [14] Sepuluh negara dengan populasi anjing tertinggi di dunia dapat dilihat pada Gambar 1. [15]
  
Gambar 1: Sepuluh negara dengan populasi anjing tertinggi di dunia
Sumber: http://www.mapsofworld.com/world-top-ten/countries-with-most-pet-dog-population.html [15]

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengatakan bahwa ada korelasi negatif antara intensitas masalah populasi anjing yang bebas berkeliaran (free-roaming) dengan nilai ‘UN Human Development Index' (HDI) suatu negara. Jadi ada korelasi antara tingkat perkembangan pembangunan suatu negara dengan kapasitas negara tersebut dalam mengelola populasi anjing yang bebas berkeliaran. Seluruh negara-negara dengan tingkat HDI menengah dan rendah (100%) menganggap bahwa anjing yang bebas berkeliaran merupakan masalah dibandingkan hanya 60% negara-negara dengan tingkat HDI tinggi yang menganggapnya masalah. [12]

Korelasi antara tingkat HDI dan masalah anjing bebas berkeliaran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mencakup rendahnya tingkat pendidikan, hilangnya nilai ekonomi, sikap budaya terhadap hewan dan kesejahteraannya, polusi lingkungan dan lain sebagainya. [12]

Begitu juga ketersediaan dan aksesibilitas pada makanan dianggap juga sebagai faktor yang berkontribusi terhadap tingginya populasi anjing yang bebas berkeliaran dan berkaitan juga dengan tingkat higiene masyarakat, seperti keberadaan sampah, kotoran manusia dan lainnya. [12, 14] Tanpa sumber makanan, anjing-anjing semacam ini sangat kekurangan nutrisi yang pada gilirannya akan menurunkan lamanya hidup anjing dan juga kinerja reproduksinya. [12]

Untuk memahami populasi biologi dari spesies ini, perlu dimengerti bahwa setiap individu anjing memiliki status kepemilikan yang berbeda-beda, tingkat pembatasan pergerakan yang berbeda-beda, interaksi sosial dan reproduksi, serta tingkat ketergantungan pada perawatan manusia yang juga berbeda-beda. [14]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sekitar 70% dari rumah tangga di dunia memiliki satu atau lebih ekor anjing. [12] Anjing di negara berkembang esensial untuk membantu mengatasi pengelolaan sampah domestik, terutama di wilayah-wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi seperti di kota-kota besar. [12] Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kepadatan populasi anjing adalah kelas sosio-ekonomi masyarakat, jenis dan penggunaan lahan, dan tingkat urbanisasi. Pada umumnya kepadatan populasi anjing meningkat begitu populasi manusia meningkat. [16]

Seperti umumnya di negara-negara berkembang, rasio anjing:manusia dan kepadatan populasi anjing per km2 berbeda antara wilayah urban dengan pedesaan. Begitu juga dengan keberadaan anjing yang bebas berkeliaran, dimana umumnya persentasenya akan lebih tinggi di wilayah pedesaan. [17] Penilaian terhadap dampak pengendalian rabies tidak bisa lepas dari pertimbangan mengenai dinamika populasi hospesnya dan data populasi anjing yang akurat merupakan informasi yang diperlukan sebagai dasar untuk mengevaluasi keberhasilan pengendalian. [18]

Peningkatan kasus rabies

Peningkatan kasus orang meninggal akibat rabies di China sejak 2004 disebabkan adanya kenaikan kepemilikan anjing dan tingkat cakupan vaksinasi anjing yang sangat rendah. Di wilayah pedesaan China, sekitar 70% dari rumah tangga memelihara anjing yang pada umumnya tidak divaksin. Hal ini utamanya disebabkan oleh tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terhadap rabies dan biaya vaksinasi anti rabies (VAR) untuk manusia yang sangat mahal. [9]

Para ahli menganalisa bahwa kenaikan kasus rabies di China tersebut bisa dijelaskan dengan memahami dinamika populasi anjing, pemberian PEP yang waktunya tidak tepat dan tidak memadai, dan keberadaan anjing-anjing sehat yang bertindak sebagai ‘pembawa virus’ (carrier) [9] atau sebagai 'reservoir' dari rabies. [18]

Seperti disampaikan diatas, kecenderungan peningkatan kasus rabies terjadi juga di Pulau Flores sejak 2009, baik dilihat dari peningkatan angka korban meninggal akibat rabies maupun angka kasus gigitan anjing (lihat Gambar 2). Seluruh wilayah Pulau Flores telah tertular rabies sejak kasus pertama kali muncul pada 1998 di Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. [18] Dari Kabupaten Flores Timur menular ke kabupaten lainnya di daratan Flores seperti Kabupaten Sikka (1998), Ende (1999), Lembata (1999), Ngada (2000), Manggarai (2000), dan Manggarai Barat (2004). [19, 20]

Gambar 2: Kasus orang meninggal akibat rabies dan kasus gigitan anjing
di Pulau Flores 1997-2011 (s/d Agustus 2011)

Dari awal tahun ini sampai Agustus 2011, kasus gigitan anjing tersangka rabies mencapai 1.034 dan dari jumlah tersebut 9 orang meninggal dunia. Kasus gigitan rabies tersebut dominan di Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Kabupaten Ende. Kasus gigitan terbanyak terjadi di daerah yang jauh dari perkotaan atau dari sarana kesehatan sehingga korban gigitan terkadang terlambat ditolong oleh petugas kesehatan. [21]

Meskipun belum dianalisa secara tepat apa penyebab peningkatan kasus rabies di Flores, akan tetapi kenaikan ini dapat dikaitkan dengan peningkatan populasi anjing di pulau tersebut. Pada 2008, populasi anjing diperkirakan terus meningkat sampai sebesar 20 ribu ekor. Pada waktu itu, Drh. Maria Geong, Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Peternakan Provinsi NTT mengharapkan masyarakat di Pulau Flores terus waspada terhadap ancaman anjing penular rabies terkait populasinya yang terus meningkat. [22]

Tentu masih diingat bahwa kebijakan awal pengendalian rabies di Pulau Flores ditekankan kepada pemusnahan anjing secara menyeluruh dengan maksud mengurangi sebanyak mungkin populasi anjing. Kebijakan darurat yang sama sekali tidak populer bagi masyarakat Flores, meskipun pelaksanaan pembunuhan anjing sedapat mungkin dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan dukungan dan himbauan dari tokoh politik, tokoh masyarakat dan pemuka agama. [24, 25]

Dalam perjalanannya kebijakan ini sama sekali tidak berhasil atau gagal total, mengingat rabies masih tetap bermukim di populasi anjing yang jumlahnya semakin berkurang. [24] Data pemerintah Provinsi NTT menunjukkan bahwa dalam jangka waktu 4 tahun (1998-2001) telah dilakukan pemusnahan terhadap 295.569 ekor anjing, sehingga pada 2002 populasi anjing turun sampai 127.482 ekor (lihat Gambar 3). [26] Menurut para ahli, populasi anjing yang berkurang sekalipun tetap mempunyai kemampuan untuk mendukung kelangsungan siklus rabies. [24]

Gambar 3: Populasi anjing di Pulau Flores 1998-2011 (s/d Agustus 2011)
dan yang dimusnahkan pada 4 tahun pertama 1998-2001

Bagi kebanyakan orang Flores, anjing ibarat teman sejati, tentara rumahan, pasukan berburu sampai menu yang paling lezat. Harga seekor anjing bisa mencapai Rp. 500 ribu hingga Rp. 1 juta. Anjingpun tak terpisahkan dari tradisi adat istiadat. Pada waktu pelaksanaan pemusnahan anjing besar-besaran, masyarakat justru protes karena menganggap cara tersebut bertentangan dengan adat istiadat mereka. Orang Flores berkeyakinan bahwa, membunuh anjing sama saja dengan memutuskan mata rantai mereka dengan para leluhur Flores yang telah dipanggil Sang Khalik. [27]

Pada saat rabies mulai berjangkit di Pulau Flores, populasi anjing diestimasi lebih dari 600 ribu ekor dengan kepadatan rata-rata 36 ekor anjing per km2. Kepadatan ini sangat tinggi dan sangat kondusif untuk penularan dan ketahanan siklus rabies. Setelah pemusnahan anjing dirubah menjadi kebijakan vaksinasi pasca 2002, maka kepadatan rata-rata turun menjadi 10 ekor anjing per km2 pada 2003. Kepadatan populasi 2005-2010 cenderung stabil dengan kepadatan rata-rata 12-15 ekor anjing per km2 (lihat Tabel 1).

Tabel 1: Perubahan menurut waktu kepadatan populasi anjing dan manusia di Pulau Flores

                                Sumber: Modifikasi dari Scott-Orr H. et al (2009) [20]

Perubahan kepadatan populasi anjing sebenarnya bisa menjadi parameter dalam memprediksi dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya peningkatan kasus rabies di suatu daerah endemik seperti Pulau Flores. Dr. Hellen Scott-Orr menyatakan bahwa kepadatan anjing yang rentan rabies harus diturunkan menjadi dibawah 5 ekor per km2 untuk prospek memadai dalam mencegah siklus rabies berlanjut di populasi. Menurutnya cara ini mungkin dapat dilakukan dengan mengeliminasi anjing atau memvaksinnya dengan vaksin yang efektif [20], atau pendapat lain dengan membatasi kepemilikan anjing. [33]

Disamping populasi anjing yang tidak lagi dikendalikan pasca 2002, kesulitan dalam menanggulangi rabies dipengaruhi juga oleh medan dan geografi Pulau Flores yang sulit. Populasi anjing setelah itu melonjak kembali secara cepat. Selain itu dilaporkan lebih dari 90% anjing-anjing yang divaksinasi setiap tahunnya kedapatan tidak divaksinasi sebelumnya. Pergantian populasi (turnover) yang cepat dikombinasi dengan tingkat cakupan vaksinasi yang tidak memuaskan adalah faktor utama yang menyebabkan kasus rabies di Pulau Flores meningkat kembali. [20]

Demografi anjing

Pada dasarnya memahami demografi anjing adalah mengestimasi besaran dan distribusi dari populasi anjing, serta dinamikanya menyangkut tingkat kesuburan/reproduksi (fecundity rate), kematian/mortalitas, dan pertumbuhan. [28] Dinamika populasi anjing umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik secara alamiah maupun oleh karena perbuatan manusia.

Sumber: [27]
Dinamika populasi secara alamiah disebabkan oleh kelahiran, kematian dan migrasi anjing. Kematian anjing secara alamiah disebabkan karena usia tua atau penyakit. Manusia bisa mempengaruhi populasi anjing dengan pemusnahan (cull), dibunuh untuk dikonsumsi dagingnya, tertabrak di jalan hingga tewas, migrasi baik dengan perpindahan anjing untuk dijual, diberikan kepada pihak lain, dan lain sebagainya. Disamping itu juga melalui program-program manajemen populasi anjing (dog population management) atau pengendalian populasi anjing (dog population control) seperti sterilisasi, euthanasia, pengendalian kelahiran (animal birth control), tangkap-kebiri-lepas (Catch-Neuter-Release/CNR) dan lain sebagainya.

Dalam memahami demografi anjing, diperlukan data yang diperoleh dari studi yang sekurang-kurangnya dilakukan selama setahun. Dalam periode tersebut paling tidak dilakukan 2-4 kali kunjungan dengan metoda wawancara sampel rumah tangga dan pencatatan. Kunjungan pertama dimaksudkan untuk mengetahui populasi awal, kemudian perkembangannya selama setahun sampai populasi akhir, menyangkut adanya kematian, kelahiran, penambahan atau kehilangan anjing. [29]

Data yang juga diperlukan menyangkut tentang jumlah kepemilikan anjing per rumah tangga, kelas umur anjing (<1, 1-2, 2-3, 3-4 dan >4 tahun), jantan/betina, rata-rata lamanya hidup anjing untuk jantan dan betina, angka kelangsungan hidup atau survival anak anjing sampai umur setahun, rata-rata jumlah keturunan dalam sekali melahirkan, berapa kali melahirkan dalam setahun dan bulan-bulan kapan saja anjing betina melahirkan.

Dengan menganalisa data tersebut berdasarkan metoda tertentu, maka bisa diperoleh informasi mengenai rasio jantan:betina, angka kelahiran, angka kelangsungan hidup (survival rate) untuk masing-masing kelas umur dan juga untuk jantan dan betina, umur harapan hidup (life expectancy), dan angka pertumbuhan populasi. [29]

Berbagai studi demografi anjing telah dilakukan di sejumlah negara-negara berkembang di Afrika dan Asia, meskipun data dan informasi yang diperoleh belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan merancang strategi pencegahan dan pengendalian rabies.

Pola demografi anjing yang ditemukan di negara-negara berkembang memperlihatkan konsistensi tingkat pergantian populasi (turonver) yang tinggi (kemungkinan juga di Pulau Flores). Kemampuan untuk mengendalikan populasi anjing juga bergantung kepada pemahaman tentang hubungan antara anjing dan masyarakat, serta klasifikasi populasi anjing berdasarkan tingkat ketergantungannya kepada pemilik. Suatu kondisi yang memunculkan argumentasi para ahli yang mempertanyakan apakah dengan angka pertumbuhan populasi anjing begitu cepat di negara-negara berkembang, maka penerapan kritis cakupan vaksinasi 70% per tahun seperti direkomendasikan WHO cukup memadai? [18]

Pola demografi juga memperlihatkan bahwa distribusi umur di banyak populasi anjing di negara berkembang mengindikasikan proporsi yang besar dari anjing berumur dibawah 3 bulan. Padahal dalam ketentuan vaksinasi rabies tidak disarankan untuk memvaksin anjing-anjing muda dibawah 3 bulan. Dengan menargetkan kampanye vaksinasi masal pada anjing-anjing muda semacam ini diasumsi bisa menjadi suatu cara untuk memaksimalkan cakupan vaksinasi mengingat terbatasnya sumberdaya. [30]

Pengendalian populasi anjing

Suatu hal yang perlu disadari dalam konteks pengendalian populasi anjing adalah setiap upaya reduksi kepadatan populasi akibat tindakan pemusnahan akan secara cepat dikompensasi oleh tingkat kesuburan/reproduksi dan tingkat kelangsungan hidup/survival. Apabila anjing dilenyapkan dari populasi, umur harapan hidup anjing yang bertahan hidup akan meningkat, oleh karena mendapatkan akses lebih baik terhadap sumberdaya yang tersedia. [31] Oleh karenanya dinamika populasi anjing di Pulau Flores pasca 2002 dan seterusnya sangat penting dipelajari untuk melenyapkan kesempatan membuatnya jadi ladang pembibitan dan penyebaran rabies. [33]

OIE telah menetapkan pedoman tentang bagaimana mengendalikan populasi anjing yang bebas berkeliaran dalam Terrestrial Animal Health Code pasal 7.7. Prinsip yang ditekankan dalam pedoman ini adalah bukan hanya perlunya penerapan kaidah-kaidah kesejahteraan hewan dalam pengendalian populasi anjing, tetapi juga pentingnya upaya promosi tentang pemilik anjing yang bertanggung jawab (responsible dog ownership) dan perubahan perilaku masyarakat (community behaviour) mengingat ekologi anjing berkaitan erat dengan kegiatan manusia. [31]

Dalam pedoman tersebut, juga ditekankan pentingnya pemerintah dan pemerintah daerah setempat memainkan peran utama dalam mencegah dan mengendalikan rabies dan memastikan bahwa kaidah-kaidah kesejahteraan hewan diterapkan sesuai perundangan yang berlaku serta tercipta suatu koordinasi seluruh kegiatan secara efektif antar kelembagaan pemerintah dan/atau non-pemerintah. [31]

http://www.nytimes.com/2010/09/28/health/28glob.html
Dalam mengantisipasi pertumbuhan populasi anjing yang tidak diharapkan di Pulau Flores, maka perlu diperhatikan keseimbangan dengan daya dukung (carrying capacity) lingkungan yang bergantung kepada pola ketersediaan dan kualitas sumberdaya, seperti penampungan, makanan dan air. Daya dukung populasi anjing berkaitan dengan perbedaan habitat, budaya dan strata sosial populasi masyarakat urban dan pedesaan. [32]

Program pengendalian populasi anjing yang bebas berkeliaran dipengaruhi sangat kuat oleh anggaran yang tersedia, begitu juga perbedaan teknik dan metoda yang diterapkan oleh negara-negara di dunia. Contohnya pembunuhan anjing dengan injeksi barbiturate atau injeksi bahan kimia lainnya, dengan cara ditembak, dan dengan cara diracun lewat umpan. Ke-dua cara terakhir dianggap kurang manusiawi, karena tidak memperhatikan isu kesejahteraan hewan. [12]

Menurut survei OIE, ternyata banyak negara masih menggunakan euthanasia secara luas sebagai metoda resmi untuk memusnahkan anjing. Pada umumnya negara-negara dengan tingkat HDI yang tinggi lebih banyak menggunakan injeksi barbiturate/bahan kimia lainnya karena dianggap sebagai suatu cara yang lebih manusiawi. Negara-negara dengan tingkat HDI menengah dan rendah cenderung menggunakan cara ditembak atau diracun lewat umpan. [12]

Pembatasan kepemilikan anjing juga menjadi pilihan dalam mengendalikan populasi anjing dan penyebaran rabies, seperti yang dilaksanakan di China melalui ‘kebijakan satu anjing’ (one dog policy) yaitu satu ekor anjing per rumah tangga yang diterapkan di Beijing, Shanghai dan beberapa kota besar lainnya mulai November 2006. [33] Cara ini mungkin hanya bisa dijalankan di wilayah urban, tetapi tidak pas diterapkan di Pulau Flores yang geografinya lebih bernuansa pedesaan dan sistem pemeliharaan anjingnya meskipun berpemilik akan tetapi bebas berkeliaran, serta posisi anjing bukan hanya terkait nilai ekonomi akan tetapi juga nilai sosial, budaya dan agama.

Pengendalian rabies ke depan

Dengan peningkatan kasus rabies dalam beberapa tahun terakhir dan banyaknya pulau-pulau yang tadinya bebas secara historis kemudian menjadi tertular, WHO menyatakan Indonesia pindah dari negara berstatus endemik rendah menjadi endemik menengah. [13] Suatu isu yang perlu diantisipasi ke depan mengingat rabies masih dan terus menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di banyak tempat di Indonesia.

Semua pihak menyadari bahwa pengendalian populasi anjing dalam kaitannya dengan pengendalian rabies terhambat oleh persoalan-persoalan budaya dan keterbatasan sumberdaya. Oleh karenanya setiap upaya pengendalian harus dilakukan dengan memperhatikan praktek lokal dan kepercayaan masyarakat setempat. Dengan demikian dalam upaya pengendalian populasi anjing dan rabies di Pulau Flores harus disadari bahwa pendidikan masyarakat dan penyediaan informasi menjadi sama pentingnya dengan penerapan perundangan. [32]

Pada hakekatnya secara teknis sudah diterima bahwa untuk pengendalian rabies yang efektif diperlukan penerapan program pengendalian populasi anjing dan program vaksinasi yang sistematik dan terarah di lapangan. Vaksinasi masal populasi anjing adalah fundamental bagi eliminasi rabies. Alat dan teknik yang inovatif telah berhasil dikembangkan dan distandarisasi dalam beberapa tahun terakhir yang memungkinkan bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia untuk memperbaiki cakupan, aksesibilitas, dan keterjangkauan vaksin rabies moderen serta juga akseptabilitas dan efektivitas manajemen populasi anjing. [13]

Referensi:
1. Ressang A.A., Gwan S.I. and Hardjosworo S. (1963). - Bats, rodents and rabies in Indonesia. Communic. Vet, 7, 33-59.
2. http://www.berita2.com/daerah/ntt/9114-sembilan-kabupaten-di-ntt-rentan-rabies.html
3. Lembo T., Hampson K., Kaare M.T., Ernest E., Knobel D., Kazwala R.R., Haydon D.T., and Cleaveland S. (2010). The Feasibility of Canine Rabies Elimination in Africa: Dispelling Doubts with Data. PLoS Negl. Trop. Dis. 4(2): e626. doi:10.1371/jounal.pntd.0000626.
4. Menezes R. (2008). Rabies in India. Public Health. CMAJ 2008 February 26, 178(5): 564-566. doi:10.1503/cmaj.071488
5. Tang X., Luo M., Zhang S., Fooks A.R., Hu R., and Ru C. (2005). Pivotal role of dogs in rabies transmission, China. Emerging Infectious Diseases, Dec 2005. http://findarticles.com/p/articles/mi_m0GVK/is_12_11/ai_n15981277/?tag=content;col1
6. FAO (2011). Highlights. Rabies in China: A looming threat to national public health. http://www.fao.org/ag/againfo/home/en/news_archive/2011_Rabies_in_China.html
7. Song M., Tang Q., Wang D-M, Mo Z-J, Guo S-H, Li H., Tao X-Y, Rupprecht C.E., Feng Z-J, and Liang G-D. (2009). Epidemiological investigations of human rabies in China. Research Article. BMC Infectious Diseases, 9(210): 1-8. doi:10.1.1186/1471-2334-9-210.
8. AREB Conference report (2010). Report of the sixth Asian Rabies Expert Bureau (AREB) meeting, Manila, The Philippines, 10-12 November 2010. Vaccine 28: 3265-3268. doi:10.1016/j.vaccine.2010.02.093.
9. Zhang J., Jin Z., Sun G-Q, Zhou T., and Ruan S. (2011). Analysis of Rabies in China: Transmission Dynamics and Control. Research Article. PLoS ONE 6(7): e20891. doi:10.1371/journal.pone.0020891.
10. http://en.wikipedia.org/wiki/Rabies
11. WHO (2009). India’s ongoing war against rabies. Buletin of the World Health Organization, 87(12): 885-964. http://www.who.int/bulletin/volumes/87/12/09-021209/en/index.html
12. Villa P.D., Kahn S., Stuardo L., Iannetti L., Di Nardo A., and Serpell J.A. (?). OIE questionnaire on dog population control in 81 countries: different national approaches to the “free-roaming dog” problem and their association with degrees of economic development.
13. Gongal G. and Wright A.E. (2011). Review Article. Human Rabies in the WHO Southeast Asia Region: Forward Steps for Elimination. Advances to Preventive Medicine. Volume 2011, Article ID 383870, 5 pages. doi:10.4061/2011/383870.
14. Wandeler A.I., Matter H.C., Kappeler A., and Budde A. (1993). The ecology of dogs and canine rabies: a selective review. Rev. sci. tech. Off. int. Epiz., 12(1): 51-71.
15. http://www.mapsofworld.com/world-top-ten/countries-with-most-pet-dog-population.html
16. Reece J.F. (2005). Dogs and Dog Control in Developing Countries. The State of the Animals III. Chapter 5. pp. 55-64.
17. Acosta-Jamett G., Cleaveland S., Cunningham A.A., and deC. Bronsvoort B.M. (2010). Demography of domestic dogs in rural and urban areas of the Coquimbo region of Chile and implications for disease transmission. Preventive Veterinary Medicine, 94: 272-281. doi:10.1016/j.prevetmed.2010.01.002.
18. Coleman P.G. (1997). The importance of dog demography to the control of rabies. Session 5: Open session. http://searg.info/fichiers/articles/1997180187L.PDF
19. http://www.berita2.com/daerah/ntt/9114-sembilan-kabupaten-dintt-rentan-rabies.html
20. Scott-Orr H., Bingham J., Saunders G., Dibia I.N., Putra A.A.G., and Geong M. (2009). Potential Eradication of Rabies from Flores in Indonesia. Proceedings of the 12th Symposium of the International Society for Veterinary Epidemiology and Economics, Durban, South Africa.
21. Wera E. (2008). Rabies di Flores, akankah berakhir? http://genetika21.wordpress.com/2008/11/19/rabies-di-flores-akankah-berakhir/
22. http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/69415/kupangterkini/wow-1034-warga-ntt-digigit-anjing-rabies
23. http://internasional.kompas.com/read/2008/08/25/07412043/Anjing.Rabies.Gigit.Ratusan.Warga.Flores
24. Bingham J. (2001). Rabies on Flores Island, Indonesia: is eradication possible in the near future? Rabies Control in Asia. Proceedings of the Fourth International Symposium organized by The Merieux Foundation with the co-sponsorship of the World Health Organization, Hanoi, Viet Nam, 5-9 March 2001.
25. Windiyaningsih C. Wilde H., Meslin F.X., Suroso T., and Widarso H.S. (2004). The Rabies Epidemic on Flores Island, Indonesia (1998-2003). Special Articles. J Med Assoc Thai 87(11): 1389-1393.
26. Clifton M. (2009). Not vaccinating beyond rabies hot zone leads to more human rabies deaths on Bali. Animal People, September 2009. http://www.animalpeoplenews.org/09/9/Sept09.htm
27. http://www.sergapntt.com/2011/09/anjing-dewanya-orang-flores.html
28. Kitala P.M., McDermott J., Kyule M., Gathuma J., Perry B.D., and Wandeler A.I. (2001). Dog ecology and demography information to support the planning of rabies control in Machakos District, Kenya. Acta Tropica 78: 217-230.
29. Kitala P.M. (1995). Population dynamics in Machakos District, Kenya: Implications for Vaccination strategy. http://searg.info/fichiers/articles/1995096104L.PDF
30. Perry B.D. (1995). Rabies control in the developing world: can further research help? Veterinary Record, 521-522.
31. OIE (2010). http://www.oie.int/eng/normes/mcode/en_chapitre_1.8.10.htm
32. Wandeler A.I., Budde A., Capt S., Kappeler A., and Matter H. (1988). Dog Ecology and Dog Rabies Control. Reviews of Infectious Diseases, Volume 10, Suppl. 4, pp. S684-S688.
33. Vermeuleun S.E. (2011). Africa’s canine population dynamics: A breeding ground for rabies. http://www.consultancyafrica.com/index.php?option=com_content&view=article&id=681:africas-canine-population-dynamics-a-breeding-ground-for-rabies-&catid=92:enviro-africa&Itemid=297
34. http://www.irishtimes.com/newspaper/world/2011/0517/1224297118018.html

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations, Vientiane, Laos

1 Komentar:

banyumentah [Reply] mengatakan...

ijin kopi paste di blog saya...info yang bagus...jogra