EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Selasa, 08 Februari 2011

Sinopsis virus flu burung H5N1

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Flu burung (avian influenza) telah menjadi endemik pada populasi unggas di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun telah dilakukan berbagai intervensi oleh pemerintah dan organisasi internasional. Penyebaran meluas dari virus flu burung H5N1 sampai saat ini masih dianggap ancaman global terhadap kesehatan manusia. Sampai akhir tahun 2010 lalu, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus manusia dan tingkat fatalitas tertinggi.

Di seluruh dunia, 15 negara melaporkan adanya kasus flu burung pada manusia. Pada tahun 2010, hanya 5 negara melaporkan kasus manusia yaitu Kamboja, China, Mesir, Indonesia dan Vietnam. Pada tahun 2009, Mesir menjadi negara dengan kasus tertinggi. Tahun 2010, Mesir kembali menjadi tertinggi dengan 25 kasus, diikuti dengan Indonesia dengan 9 kasus, Vietnam 7 kasus, China 2 kasus dan Kamboja 1 kasus. Tidak ada negara lain di luar ke-5 negara tersebut yang melaporkan kasus manusia pada tahun 2009. Bangladesh melaporkan wabah terakhir tahun 2008 (World Health Organization, 2011).

Situasi flu burung di Asia Tenggara

Wabah avian influenza (AI) H5N1 pada unggas di Asia Tenggara dimulai pada akhir tahun 2003 dengan wabah gelombang kedua terjadi pertengahan tahun 2004. Negara-negara yang tertular pada waktu itu adalah Thailand, Vietnam, Laos dan Kamboja dan virus H5N1 yang ditemukan termasuk kelompok (clade) 1 (Eagles et al., 2009).

Indonesia sendiri melaporkan kasus pertama pada unggas pada Januari 2004, meskipun wabah dipercaya sebenarnya sudah muncul pada Juli 2003. Sampai awal tahun 2011 ini, penyakit AI sudah menjadi endemik dengan 31 provinsi dinyatakan tertular dan virus H5N1 yang ditemukan termasuk kelompok (clade) 2.1 (Eagles et al., 2009). Penularan zoonosis ke manusia dilaporkan pertama kali di Provinsi Jawa Barat pada Juli 2005.

Status AI di negara-negara Asia Tenggara dikelompokkan sebagai berikut (Association of Southeast Asia Nations, 2010):

Negara-negara dengan status AI bebas (Brunei Darussalam, Philipina dan Singapura) – Mengingat negara-negara ini bebas, maka upaya utama difokuskan kepada pencegahan terhadap masuknya penyakit dan kesiapsiagaan untuk deteksi dini.

Negara-negara dengan status AI bebas kembali (Malaysia dan Thailand) – Ke-dua negara ini mengalami wabah AI sebelumnya, kemudian berhasil memberantasnya dan setelah itu mendapatkan status bebas kembali. Upaya utama difokuskan kepada penguatan strategi yang sudah berhasil dilaksanakan. Kejadian wabah sebelumnya menjadi pembelajaran berharga bagi ke-dua negara tersebut untuk memastikan bahwa status bebas kembali dapat terus dipertahankan.

Negara-negara dengan status wabah sporadik (Kamboja, Laos dan Myanmar) – Industri perunggasan di negara-negara ini kurang berkembang. Wabah sporadik terjadi sebagai akibat kejadian berulang dari virus yang belum berhasil dieliminasi sepenuhnya atau diintroduksi kembali melalui unggas terinfeksi yang dilalu lintaskan antar negara. Penguatan kesehatan hewan untuk deteksi dini dan respon adalah kunci utama dalam upaya pencegahan dan investasi.

Negara-negara dengan status AI persisten (Indonesia dan Vietnam) – Penyakit AI menyebar secara meluas di ke-dua negara ini. Pengendalian dan pemberantasan di Indonesia dan Vietnam menjadi tantangan besar dan memerlukan waktu lebih lama. Jadi inisiatif harus dititikberatkan kepada kemampuan regional untuk mengendalikan penyakit di ke-dua negara ini.

Epidemiologi H5N1

Pada kenyataannya virus H5N1 di Asia Tenggara sejak kemunculannya pada akhir tahun 2003 memperlihatkan gambaran epidemiologi penyakit baru yang berbeda dari kejadian sebelumnya (Eagles et al., 2009).

Pada akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001 terjadi perluasan bentangan induk semang dari virus H5N1 ke spesies itik yang mendorong terjadinya perubahan genetik virus. Kadang-kadang menimbulkan gejala klinis pada itik, akan tetapi seringkali tanpa gejala sama sekali. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa itik merupakan faktor signifikan dalam penularan penyakit di wilayah Asia Tenggara, terutama apabila dikaitkan dengan sistem pemeliharaan itik berpindah (free-range) yang umum didapatkan di beberapa negara (Martin et al., 2006; Sims and Brown, 2008; Sturm-Ramirez et al., 2008).

Virus H5N1 keturunan (lineage) Asia muncul bersirkulasi pada beberapa spesies unggas liar, suatu kejadian yang tidak umum untuk virus AI (Morris and Jackson, 2005). Keterlibatan itik domestik dalam pengaturan ulang gen (reassortment) virus-virus AI dan kesamaan filogenetik dengan spesies unggas akuatik liar dianggap berkontribusi terhadap fenomena ini (Sims and Brown, 2008).

Pada kenyataannya terjadi perubahan penularan dari jalur fecal/oral (alat pencernaan) ke jalur respiratori (alat pernafasan) pada unggas dan sejumlah spesies unggas akuatik liar. Suatu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan strain virus H5N1 menemukan bahwa pada itik mallards muda dan bebek Peking, virus berada dalam konsentrasi yang lebih tinggi pada trachea dibandingkan pada cloaca, baik unggas yang ditularkan melalui inokulasi maupun kontak (Alexander, 2007; Sturm-Ramirez et al., 2005).

Seperti halnya dengan penyakit menular lain pada unggas, perkembangbiakan virus yang terus berlanjut di wilayah Asia Tenggara ini disebabkan oleh perdagangan dan pergerakan unggas hidup, sistem pemeliharaan itik berpindah, pasar unggas hidup dan biosekuriti yang minimal pada sistem produksi unggas semi-intensif (Gilbert et al., 2006; Martin et al., 2006; Sims and Brown, 2008; Sturm-Ramirez et al., 2008).

Suatu penelitian melalui surveilans intensif yang dilaksanakan berbulan-bulan oleh pemerintah Thailand pada akhir tahun 2004 berhasil menunjukkan adanya suatu hubungan yang kuat antara penyebaran wabah AI dengan itik pengembara atau berpindah-pindah. Faktor lain yang juga dinyatakan berkaitan termasuk jumlah ayam kampung, jumlah ayam adu dan kepadatan populasi manusia. Wabah juga umumnya lebih banyak terjadi di daratan rendah dibandingkan dengan dataran yang berelevasi tinggi. Penelitian di Vietnam juga menunjukkan hal yang sama, dimana wabah gelombang ke-dua berkorelasi dengan jumlah itik yang ada di wilayah tersebut (Gilbert et al., 2006).



Gambar 1: Distribusi spasial dari virus AI H5N1 yang terdata selama tiga kali gelombang wabah di Thailand dan Vietnam (Gilbert et al., 2008).

Meskipun wabah di Thailand dan Vietnam memiliki pola spasial yang berbeda, akan tetapi suatu tingkat konsistensi tertentu ditemukan antar gelombang wabah I, II dan III dan antar ke-dua negara tersebut dimana keberadaan virus H5N1 berkorelasi secara statistik dengan faktor-faktor risiko tertentu (lihat Gambar 1). Faktor-faktor yang memperlihatkan tingkat konsistensi tertinggi adalah populasi manusia, intensitas tanaman padi dan jumlah itik. Kesemuanya menunjukkan adanya korelasi yang signifikan dengan keberadaan virus H5N1 di ke-dua negara tersebut (Gilbert et al., 2008).

Virus H5N1 endemik

Seperti disampaikan diatas, hanya virus H5N1 dari kelompok 2.1 yang ditemukan di Indonesia. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa virus-virus Indonesia tersebut dapat dibagi lagi ke dalam sub-kelompok 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3 (WHO/OIE/FAO H5N1 Evolution Working Group, 2008).

Untuk memahami kondisi endemik dan evolusi dari virus-virus flu burung di Indonesia, dilakukan suatu penelitian dengan menganalisis sekuens dari 24 virus H5N1 yang berhasil diisolasi dari unggas di berbagai wilayah antara Oktober 2003 dan Maret 2007 (lihat Gambar 2). Hasil analisis filogenetik dari penelitian ini menunjukkan bahwa virus-virus tersebut terbagi dalam 3 sub-kelompok seperti yang dilaporkan sebelumnya, akan tetapi dari penelitian ini ditemukan juga satu sub-kelompok baru yang tidak termasuk dalam salah satu sub-kelompok diatas yang disebut sebagai sub-kelompok IDN/6/05-like (lihat Gambar 3) (Tanaka et al., 2009a).

Dari 24 virus H5N1 tersebut, 5 virus termasuk ke dalam sub-kelompok 2.1.1, 15 ke dalam sub-kelompok 2.1.3 dan 4 ke dalam sub-kelompok yang baru. Semua sub-kelompok tersebut dapat dikarakterisasi menurut perbedaan geografis dan spesies induk semangnya. Virus-virus sub-kelompok 2.1.1 diisolasi dari unggas di Pulau Jawa sejak tahun 2003, sub-kelompok 2.1.2 dari unggas dan manusia di Pulau Sumatera sejak tahun 2004, dan virus sub-kelompok yang baru dari unggas dan dari satu kasus manusia di Pulau Jawa sejak tahun 2004.


Gambar 2: Peta Indonesia. Garis diagonal menunjukkan propinsi dimana lokasi virus-virus avian influenza H5N1 yang digunakan dalam penelitian ini. Warna mengindikasikan pulau Sumatera dan Bangka (merah), Jawa Barat (hijau), Jawa Tengah (biru muda), Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara (biru) dan wilayah Indonesia yang mencakup pulau-pulau termasuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua (ungu) (Takano et al., 2009a) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19464724  

Virus-virus yang masuk ke dalam sub-kelompok 2.1.3 ternyata memiliki keragaman yang tinggi, tetapi dapat diklasifikasikan lagi menurut spesies darimana virus-virus tersebut diisolasi yaitu kelompok unggas dan kelompok unggas/manusia. Kelompok unggas/manusia ini mencakup seluruhnya isolat manusia yang diperoleh dari wilayah Jawa Barat (kecuali satu virus A/Indonesia/6/05 yang termasuk sub-kelompok IDN/6/05-like). Kedua kelompok tersebut dapat diklasifikasi lebih lanjut ke dalam beberapa kelompok (cluster) menurut perbedaan geografis yang menunjukkan bahwa virus-virus yang berbeda telah berevolusi di berbagai wilayah di Indonesia.

Selain itu virus-virus baru yang gen-gennya sudah mengalami pengaturan ulang diidentifikasi muncul antara sub-kelompok baru (IDN/6/05-like) dengan sub-kelompok lain yang ditemukan pada tahun 2005-2006 di Pulau Jawa. Virus-virus H5N1 ini diintroduksi dari Pulau Jawa ke Pulau-pulau Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera secara berulangkali sejak tahun 2003-2007 menyebabkan penyebaran geografis dari virus-virus ini di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Pulau Jawa merupakan pusat penyebaran (epicenter) virus-virus H5N1 di Indonesia (Takano et al., 2009a).

Pada saat dilakukan pemeriksaan terhadap proporsi isolat virus dari sub-kelompok yang berbeda setiap tahun, ternyata ditemukan bahwa virus-virus sub-kelompok 2.1.3 paling banyak jumlahnya di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sedangkan virus-virus sub-kelompok 2.1.1 dan 2.1.2 menjadi semakin jarang ditemukan sejak tahun 2005 (lihat Gambar 3). Penemuan ini mengindikasikan bahwa setelah introduksi virus H5N1 pertama kali ke Indonesia, sejumlah sub-kelompok berbeda terbentuk sebagai hasil dari evolusi virus-virus H5N1 dan sub-kelompok 2.1.3 menjadi lebih dominan sejak tahun 2005 dan kemudian secara sporadik menular ke manusia.


Gambar 3: Transisi virus-virus H5N1 di Indonesia. Pohon filogenetik yang digambarkan ini berakar dari virus A/goose/Guangdong/1/96. Virus-virus dalam penelitian ini diindikasikan dengan huruf tebal. Kotak warna didepan nama-nama strain mengindikasikan lokasi dimana virus-virus tersebut dtemukan berdasarkan Gambar 2 (Takano et al., 2009a) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19464724  

Virus H5N1 pada babi

Babi sejak lama di dipertimbangkan berpotensi sebagai induk semang perantara dimana virus AI dapat beradaptasi ke manusia. Secara tradisionil, babi dianggap sebagai “tabung pencampur” (mixing vessels) oleh karena dapat menampung perkembangbiakan virus influenza unggas maupun manusia di dalam tubuhnya (Kida et al., 1994).

Untuk menentukan apakah potensi ini ada pada babi di Indonesia, dilakukan suatu penelitian dalam bentuk surveilans di 7 provinsi (Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan dan Kepulauan Riau) sejak tahun 2005-2009. Dari sebanyak 702 sampel usapan hidung yang diperiksa, ditemukan 52 (7,4%) mengandung virus H5N1, akan tetapi tidak ada virus yang berhasil diisolasi dari sampel fecal berasal dari babi yang sama. Seluruh 52 ekor babi tersebut ditemukan terinfeksi antara tahun 2005-2007, akan tetapi tidak ditemukan antara 2008-2009 (Nidom et al., 2010).

Ke-52 virus H5N1 tersebut diisolasi dari 4 propinsi (Banten, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan). Sebanyak 35 virus yang diisolasi dari surveilans tahun 2005 berasal dari 5 peternakan babi di Kabupaten Tangerang (Banten). Lokasi peternakan ini dekat dengan area dimana wabah AI H5N1 pada unggas terjadi pada tahun 2004 lalu dan virus menjadi endemik setelahnya.

Pada surveilans periode tahun 2006-2007, sebanyak 17 virus H5N1 dideteksi pada babi di 2 peternakan di Kabupaten Tangerang (Banten), 1 peternakan di Kabupaten Kediri (Jawa Timur) dan 1 peternakan di Kabupaten Medan (Sumatera Utara). Selain itu isolasi juga diperoleh dari rumah pemotongan hewan di Kabupaten Surabaya (Jawa Timur) dan Kabupaten Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Semua tempat isolasi berdekatan dengan lokasi wabah AI H5N1 pada unggas sebelumnya (Nidom et al., 2010).

Pada surveilans periode tahun 2008-2009, tidak berhasil diisolasi virus H5N1 dari babi. Namun dari sejumlah 300 sampel serum yang diuji ditemukan 3 ekor (1%) babi di suatu peternakan di Kabupaten Malang (Jawa Timur). Penemuan ini mengindikasikan bahwa ke-3 ekor babi tersebut memiliki antibodi netralisasi melawan subtipe H5N1. Suatu hal yang memberikan kemungkinan adanya pendedahan terbatas terhadap virus H5N1 (Nidom et al., 2010).

Analisis filogenetik dari penelitian ini memperlihatkan bahwa virus-virus H5N1 yang diisolasi dari babi juga termasuk dalam sub-kelompok 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3 seperti halnya pada unggas. Empat virus H5N1 babi yang diisolasi tahun 2005 termasuk dalam sub-kelompok 2.1.1. Sedangkan dari 9 virus yang diisolasi periode tahun 2006-2007, 5 virus diklasifikasikan ke dalam sub-kelompok baru (IDN/6/05-like) dan 4 ke dalam sub-kelompok 2.1.3.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa virus-virus H5N1 dintroduksi ke dalam populasi babi di Indonesia paling tidak dalam 3 kali kejadian. Satu isolat ditemukan memiliki kemampuan untuk mengenali reseptor manusia (human-type receptor). Babi-babi tersebut tidak menunjukkan gejala mirip influenza, yang mengindikasikan bahwa virus H5N1 dapat bereplikasi tanpa terdeteksi untuk periode cukup lama untuk mampu memfasilitasi virus unggas beradaptasi terhadap induk semang mamalia. Data dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa babi berisiko terhadap infeksi selama wabah AI H5N1 dan dapat bertindak sebagai induk semang perantara dimana memungkinkan virus unggas beradaptasi ke manusia (Nidom et al., 2010).

Suatu penelitian lain juga dilakukan terhadap virus-virus H5N1 yang bersirkulasi pada babi di Indonesia pada periode tahun 2005-2007, terutama untuk menginvestigasi apakah virus tersebut mampu beradaptasi terhadap mamalia yang terintroduksi melalui babi. Metodanya adalah dengan menumbuhkan 2 isolat virus unggas dan 3 isolat virus babi pada telur ayam bertunas umur 10 hari dan kemudian membandingkan patogenisitasnya pada tikus (Takano et al., 2009b).

Dari hasil penelitian tersebut, ternyata virus H5N1 yang berasal dari babi kurang virulen pada tikus dibandingkan dengan virus unggas. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan patogenisitas dari virus-virus babi mungkin terjadi karena telah dilemahkan selama proses perkembangbiakan berlangsung dalam tubuh babi. Penelitian ini juga merekomendasikan agar surveilans virus H5N1 pada babi harus terus dilakukan untuk mengamati persoalan ini lebih jauh (Takano et al., 2009b).

Virus H5N1 pada unggas air

Sebagaimana dijelaskan dalam epidemiologi H5N1, unggas air dianggap sebagai reservoir alami untuk virus-virus AI. Penelitian secara eksperimental menunjukkan bahwa itik memegang peranan penting dalam mempertahankan keberadaan virus AI dalam lingkungan. Itik yang terinfeksi meskipun tidak menunjukkan gejala klinis tetapi mampu mengeluarkan virus dalam konsentrasi tinggi yang sifatnya patogen bagi spesies unggas lainnya (Chen et al., 2004; Hulse-Post et al., 2005; Sturm-Ramirez et al., 2005).

Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui potensi peran unggas air (itik, entok, angsa) sebagai reservoir virus H5N1 dilakukan dengan mengambil lokasi di Kabupaten Sukabumi dan Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sebanyak 561 sampel usapan cloaca diambil dari unggas air dan berhasil diisolasi 25 isolat virus H5N1 ditambah beberapa isolat subtipe lainnya (Susanti et al., 2007).

Hasil penelitian membuktikan bahwa unggas air di ke-dua kabupaten tersebut merupakan reservoir virus H5N1. Meskipun pada unggas air tidak ditemukan gejala klinis namun terjadi pengeluaran virus yang terus menerus, sehingga berpotensi menyebarkan virus yang bersifat patogen. Dari hasil penelitian ini disarankan perlu segera dilakukan tindakan untuk mencegah potensi penularan virus H5N1 dari unggas air yang sehat ke unggas darat dan manusia (Susanti et al., 2007).

Penelitian dengan tujuan yang sama dilakukan dengan memilih 4 kabupaten (Sleman, Magelang, Bantul dan Kulon Progo) di Provinsi Jawa Tengah antara Maret 2007 dan Maret 2008. Itik-itik dari 96 peternakan yang dipelihara dengan sistem berpindah yang tidak divaksinasi AI dan ayam-ayam yang kontak dengan itik dimonitor setiap 2 bulan sekali. Jumlah seluruh sampel yaitu 960 ekor itik (10 ekor per peternakan) dan 480 ekor ayam yang kontak dengan itik (5 ekor per peternakan).

Selama periode monitoring tersebut, sejumlah 8.993 sampel serum dan usapan cloaca berhasil dikumpulkan dari 6.705 ekor itik yang secara klinis sehat dan 2.288 ayam selama 670 kali kunjungan. Pada tingkat individu, sero-prevalensi terhadap H5 adalah 2,6% untuk itik dan 0,5% untuk ayam yang kontak dengan itik (Henning et al, 2010).

Paling tidak satu sero-positif dideteksi dalam 19,5% kunjungan ke flok itik dan 2,0% ke flok ayam. Flok itik ternyata 12,4 kali lebih banyak memperlihatkan hasil sero-positif dibandingkan dengan flok ayam. Selama 21,4% kunjungan, satu ekor itik atau lebih menunjukkan sero-positif terhadap H5, dimana semua ayam yang kontak dengan itik hasilnya sero-negatif. Virus subtipe H5 dideteksi dalam 2,5% kunjungan ke flok itik dan 1,5% kunjungan ke flok ayam (Henning et al., 2010).

Apabila kematian akibat infeksi AI terjadi, pengeluaran virus subtipe H5 terjadi pada unggas yang terlihat sehat pada 68,8% peternakan. Dari 180 kematian unggas yang diinvestigasi, 43,9% menunjukkan virus H5. Hasil studi longitudinal ini mengindikasikan bahwa itik merupakan sumber infeksi bagi ayam-ayam dan berpotensi menulari manusia (Henning et al., 2010).

Virus H5N1 pada pasar unggas hidup

Peranan pasar unggas hidup dalam penularan flu burung telah dipelajari di banyak negara termasuk di Indonesia. Penelitian-penelitian yang dilakukan di Hongkong dan wilayah lain di China menunjukkan bahwa pasar unggas hidup dapat menjadi tempat berlabuh bagi virus-virus AI termasuk H5N1 dan memiliki kaitan dengan infeksi pada manusia (Kung et al., 2002; Wang et al., 2006).

Pergerakan unggas masuk ke dalam, melalui dan keluar dari pasar memberikan kesempatan untuk introduksi, perambatan dan penyebaran virus AI. Kebanyakan penelitian yang dilakukan sebelumnya terfokus kepada pengujian terhadap unggas hidup daripada pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin terkontaminasi virus AI di lingkungan pasar unggas hidup. Namun suatu penelitian di pasar unggas hidup di Hongkong menunjukkan bahwa virus-virus AI (H9N2) diisolasi dalam titer yang tinggi pada air minum unggas dan juga sampel yang dikumpulkan dari feces unggas yang berjatuhan di lantai kandang (Leung et al., 2007).

Suatu penelitian untuk mengidentifikasi tempat-tempat yang umumnya terkontaminasi virus H5N1 pada pasar unggas hidup dilakukan terhadap 83 pasar di 18 kabupaten di 3 propinsi (DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat) selama Oktober 2007 sampai Maret 2008. Di setiap pasar, sampel dikumpulkan dari 27 tempat yang berkaitan dengan unggas untuk menilai sejauh mana kontaminasi berlangsung. Tempat-tempat di pasar unggas hidup tersebut mencakup zona penerimaan unggas, zona pengumpulan unggas, zona penyembelihan unggas, zona penjualan unggas dan zona dimana pembuangan limbah dilakukan (Indriani et al., 2010).

Sampel diuji dengan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) dan isolasi virus. Kuesioner juga digunakan untuk menentukan jenis unggas di pasar, infrastruktur umum dan praktek-praktek sanitasi yang dilakukan di pasar. Sejumlah 39 (47%) pasar menunjukkan adanya kontaminasi terhadap virus AI pada satu atau lebih (>1) tempat yang disampel. Ini memperlihatkan bahwa kontaminasi lingkungan dengan virus H5N1 terjadi secara ekstensif di pasar unggas hidup di Indonesia.

Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor risiko dan faktor protektif yang berpengaruh terhadap kontaminasi tersebut. Faktor risiko yang ditemukan adalah unggas-unggas yang disembelih di pasar dan berlokasi di Provinsi Jawa Barat. Faktor protektif termasuk pembersihan limbah setiap hari dan adanya pewilayahan (zoning) yang memisahkan alur pekerjaan yang berkaitan dengan unggas. Hasil ini dapat membantu untuk melakukan disain program-program berbasis kejadian menyangkut sanitasi lingkungan, keamanan pangan dan surveilans untuk mengurangi risiko penularan terhadap penularan virus H5N1 di pasar unggas hidup (Indriani et al., 2010).

Virus H5N1 pada burung migran

Burung migran adalah tempat berlabuh dari virus-virus influenza A dan merupakan reservoir alamiah dari virus tersebut. Peranan burung migran dalam penyebaran penyakit AI tetap menjadi suatu hal yang terus menerus diperdebatkan. Penelitian sebelumnya menemukan penularan AI H5N1 dari burung-burung air yang bermigrasi (Chen et al., 2005), meskipun kesimpulan utuh berdasarkan kejadian jarang dapat dilakukan (Fergus et al., 2006).

Indonesia merupakan negara kepulauan yang menjadi tuan rumah dari 1.598 spesies burung yang mewakili 17% dari total spesies yang pernah ditemukan di dunia (Aamir et al., 2007). Dari spesies sebanyak ini, 372 spesies adalah endemik untuk Indonesia dan 149 spesies bermigrasi. Indonesia dilalui oleh tiga jalur terbang (flyways) burung-burung migran terdiri dari satu jalur untuk jenis shorebirds dan dua jalur dilalui oleh itik dan angsa migran (Stoops et al., 2009).

Suatu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan peranan burung migran dalam penularan flu burung di wilayah endemik seperti Indonesia dilakukan di 5 lokasi di Pulau Jawa antara Oktober 2006 dan September 2007. Sejumlah 4.067 burung berhasil ditangkap dengan jaring yang terdiri dari 1.110 burung-burung hasil penangkaran (captive bird), 1.417 burung-burung yang menetap (resident bird) dan 1.540 burung-burung yang bermigrasi (migratory bird). Keseluruhan tangkapan yang berhasil dikumpulkan tersebut terdiri dari 98 spesies dari 23 genera yang berbeda (Stoops et al. 2009).

Dari hasil pemeriksaan serologi ditemukan prevalensi antibodi terhadap H5N1 secara keseluruhan dari semua lokasi adalah 5,3% (215 dari 4.067 ekor burung). Persentase antibodi terhadap ekspos H5N1 nyata lebih tinggi pada burung-burung hasil penangkaran (16.2%) dibandingkan dengan burung-burung migran (1%) atau yang menetap (1%).

Pengujian molekuler dari sampel usapan trachea dan cloaca menunjukkan bahwa secara keseluruhan dari semua lokasi hanya 0,4% (7 dari 1.655 ekor burung) ditemukan RT-PCR positif. Ke-7 burung RT-PCR positif tersebut juga menunjukkan hasil sero positif. Burung-burung yang positif ini kesemuanya adalah spesies hasil penangkaran.

Penemuan yang menarik dari penelitian ini memperlihatkan bahwa burung-burung yang positif RT-PCR tersebut ditangkap di wilayah Jawa Barat dimana sejumlah kasus infeksi AI pada manusia terdokumentasi sebelumnya. Hasil analisis gen sekuens terhadap 2 sampel positif menunjukkan bahwa virus-virus H5N1 tersebut termasuk ke dalam kelompok 2.1 yang umum ditemukan di Indonesia (Stoops et al., 2009).

Hasil penelitian tersebut mendemonstrasikan bahwa kejadian serologis dari infeksi H5N1 pada burung-burung hasil penangkaran, akan tetapi infeksi hanya kadang-kadang terjadi pada burung-burung yang menetap dan migran. Data ini menyiratkan bahwa peran burung migran dalam penularan H5N1 di wilayah endemik seperti Indonesia masih sangat terbatas (Stoops et al., 2009).

Kesimpulan

Secara umum dapat disimpulkan bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap virus-virus H5N1 yang bersirkulasi di Indonesia nyata memberikan masukan berharga bagi kepentingan kebijakan pengendalian dan pemberantasan penyakit AI saat ini maupun ke depan. Disadari bahwa Indonesia sebagai negara besar telah melakukan upaya-upaya yang cukup maju dalam mengembangkan kapasitas surveilans dan diagnosa, akan tetapi tantangan besar yang terus dihadapi adalah situasi penyakit AI yang sudah menjadi endemik.

Tantangan tersebut terutama disebabkan oleh besarnya industri perunggasan, tingginya populasi unggas dan beragamnya spesies unggas yang dimiliki beserta keseluruhan kompleksitas yang harus ditangani dibarengi dengan keterbatasan sumberdaya, sehingga menambah proporsi skala masalah yang dihadapi.

Meskipun studi tentang faktor risiko di Thailand dan Vietnam memang menunjukkan bahwa keberadaan itik, produksi padi dan kepadatan populasi manusia yang tinggi secara konsisten berkaitan dengan kejadian AI seperti disampaikan diatas (Gilbert et al., 2008), namun epidemiologi AI di Indonesia ternyata berbeda dengan negara-negara di Asia Tenggara oleh karena tingkat sirkulasi virus yang lebih tinggi dan juga oleh karena hubungan berbeda antara migrasi itik dan produksi padi di Indonesia dibandingkan dengan negara lain (Mclaws et al., 2009).

Hasil analisa terhadap data yang dikumpulkan Participatory Disease Surveillance and Response (PDSR) berdasarkan kejadian wabah AI pada unggas di 15 kabupaten di Jawa selama Januari 2006 sampai April 2008 menunjukkan bahwa faktor risiko yang signifikan adalah kepadatan itik, ayam potong dan petelur di kecamatan, keberadaan rumah potong dan pasar di kecamatan, panjangnya sungai-sungai yang ada di kecamatan, jarak ke pelabuhan dari pusat kecamatan serta rata-rata ketinggian dan curah hujan. Meskipun demikian studi ini menyatakan bahwa interpretasi data secara nasional harus dilakukan dengan hati-hati karena ditemukan pola yang bervariasi antar wilayah (MClaws et al, 2009).

Pola penyebaran AI di Indonesia seperti diilustrasikan dalam Gambar 4 (Sims L.D., 2007) mengindikasikan bahwa pemahaman secara mendalam tentang faktor risiko sangat kritis untuk memungkinkan dilakukannya tindakan praktis menekan ancaman AI bagi manusia. Masih banyak hal yang belum diketahui dengan terang benderang untuk mengenal pasti bagaimana adaptasi virus H5N1 terhadap lingkungan sekitar dan bagaimana virus berevolusi lebih lanjut dalam sistem yang begitu kompleks dan saling kait mengait sebagaimana disampaikan diatas.


Gambar 4: Faktor distribusi AI di Indonesia (Sims L.D., 2007). [Gambar ini dicuplik dari presentasi Elly Sudiana pada Lokakarya "Kebijakan Pengendalian Avian Influenza" di Pusat Studi Ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian di Bogor pada tanggal 22 Mei 2008].

Pertanyaan mengapa kasus flu burung pada manusia kenyataannya terjadi hanya di sejumlah negara dan masyarakat tertentu masih perlu didiskusikan. Disepakati bahwa hal tersebut diatas bukan hanya merefleksikan secara nyata keberadaan unggas tertular dan jumlah virus yang bersirkulasi, akan tetapi juga merefleksikan sistem surveilans atau faktor-faktor lain yang belum dapat diidentifikasi seperti ekologi, budaya, genetik, virologik atau manajemen.

Perhatian ke depan harus difokuskan kepada aksi-aksi yang secara fisik dapat memutus mata rantai penularan infeksi, seperti upaya restrukturisasi industri perunggasan, perubahan praktek-praktek pemasaran dan perbaikan biosekuriti di tingkat komersial. Untuk itu diperlukan pelaksanaan tindakan teknis yang didukung dengan kemauan politik melalui perbaikan sistem kesehatan hewan nasional secara keseluruhan, mencakup penguatan kapasitas laboratorium diagnostik pemerintah maupun swasta, sistem manajemen penyakit, surveilans, biosafety dan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat. Hanya dengan pendekatan komprehensif, aksi-aksi terstruktur berbasis kejadian dan intervensi yang berkali-kali dalam jangka panjang, maka penularan infeksi H5N1 di Indonesia dapat dikendalikan.

Referensi

World Health Organization (2011). A Summary of Human H5N1 Cases in 2010.
http://www.flutrackers.com/forum/showthread.php?t=157504

Eagles D., Siregar E.S., Dung D.H., Weaver J., Wong F., and Daniels P. (2009). H5N1 highly pathogenic avian influenza in Southeast Asia. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 28(1): 341-348.

Association of Southeast Asian Nations (2010). Prevention, Control and Eradication of Avian Influenza in ASEAN: Strategies and Success Stories. http://www.asean.org/publications/HPAI-Strategies.pdf

Martin V., Sims L.D., Lubroth J., Pfeiffer D., Slingenbergh J., and Domenech J. (2006). Epidemiology and pathogenic avian influenza with particular emphasis on South East Asia. In: OIE/FAO International Scientific Conference on Avian Influenza (in collaboration with WHO). (Schudel A. and Lombard M., eds.). Dev. Biol. (Basel), 124: 23-36.

Sims L.D. and Brown I.H. (2008). Multicontinental epidemic of H5N1 HPAI virus (1996-2007). In: Avian Influenza (Swayne D., ed.). Blackwell, Iowa, 251-286.

Sturm-Ramirez K.M., Hulse-Post D.J., Govorka E.A., Humberd J., Seiler P., Puthavathana P., Buranathai C., Nguyen T.D., Chaisingh A., Long H.T., Naipospos T.S.P., Chen H., Ellis T.M., Guan Y., Peiris J.S.M., and Webster R.G. (2005). Are ducks contributing to the endemicity of highly pathogenic H5N1 influenza virus in Asia? J. Virol., 79(15): 11269–11279.

Morris R.S. and Jackson R. (2005). Epidemiology of H5N1 avian influenza in Asia and implications for regional control. Food and Agriculture Organization (FAO), Rome.

Alexander D.J. (2007). An overview of the epidemiology of avian influenza. Vaccine, 25: 5637-5644.

Gilbert M., Chaitaweesub P., Parakomawongsa T., Premashthira S., Tiensin T., Kalpravidh W., Wagner H., and Slingenbergh J. (2006). Free-grazing Ducks and Highly Pathogenic Avian Influenza, Thailand. Emerg. Infect. Dis., 12(2): 227-234.

Gilbert M., Xiao X., Pfeiffer D., Epprecht M., Boles S., Czarnecki C., Chaitaweesub P., Kalpravidh W., Minh P.Q., Otte J., Martin V., and Slingenbergh J. (2008). Controlling Avian Flu and Protecting People’s Livelihoods in the Mekong Region. Ducks, Rice and People - the Key to HPAI Risk in the Mekong Region. HPAI Research Brief No. 8 - Year: 2008.

WHO/OIE/FAO H5N1 Evolution Working Group (2008). Towards a unified nomenclature system for highly pathogenic avian influenza virus (H5N1). Emerg. Infect. Dis. 14, e1.

Takano R., Nidom C.A., Kiso M., Muramoto Y., Yamada S., Sakai-Tagawa Y., Macken C., Kawaoka Y. (2009a). Phylogenetic characterization of H5N1 avian influenza viruses isolated in Indonesia from 2003-2007. Virology 390: 13-21. doi:10.106/j.virol.2009.04.024.

Kida H., Ito T., Yasuda J., Shimizu Y., Itakura C., Shortridge K.F., Kawaoka Y., and Webster R.G. (1994). Potential for tramsnission of avian influenza viruses to pigs. J Gen Virol. 75: 2183-2188. DOI: 10.1099/0022-1317-75-9-2183.

Nidom C.A, Takano R., Yamada S., Sakai-Tagawa Y., Daulay S., Aswadi D., Suzuki T., Suzuki K., Shinya K., Iwatsuki-Horimoto K., Muramoto Y., and Kawaoka Y. (2010). Influenza A (H5N1) Viruses from Pigs, Indonesia. Emerg. Infect. Dis. 16(10): 1515-1523. DOI: 10.3201/eid1610.100508.

Chen H., Deng G., Li Z., Tian G., Li Y., Jiao P., Zhang L., Liu Z., Webster R.G., and Yu K. (2004). The evolution of H5N1 influenza viruses in ducks in Southern China. Proc. Natl. Acad. Sci U.S.A. 101: 10452-10457. DOI: 10.1073/pnas.0403212101.

Hulse-Post D.J., Sturm-Ramirez K.M., Humberd J., Seiler P., Govorka E.A., Krauss S., Scholtissek C., Puthavathana P., Buranathai C., Nguyen T.D., Long H.T., Naipospos T.S.P., Chen H., Ellis T.M. Guan Y., Peiris J.S.M. and Webster R.G. (2005). Role of domestic ducks in the propagation and biological evolution of highly pathogenic H5N1 influenza viruses in Asia. Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 102: 10682-10687. DOI: 10.1073/pnas.0504662102.

Takano R., Nidom C.A., Kiso M., Muramoto Y., Yamada S., Shinya K., Sakai-Tagawa Y., Kawaoka Y. (2009b). A comparison of the pathogenicity of avian and swine H5N1 influenza viruses in Indonesia. Arch Virol 154:677-681. DOI 10.1007/s00705-009-0353-5.

Susanti R., Soejoedono R.D., Mahardika I-G.N.K., Wibawan I-W.T. dan Suhartono M.T. (2007). Potensi Unggas Air Sebagai Reservoir Virus High Pathogenic Avian Influenza Subtipe H5N1. JITV 12(2):160-166.

Henning J., Wibawa H., Morton J., Usman T.B., Junaidi A., and Meers J. (2010). Scavenging Ducks and Transmission of Highly Pathogenic Avian Influenza, Java, Indonesia. Emerg. Infect. Dis. 16(8): 1244-1250. DOI: 10.3201/eid1608.091540.

Kung N.Y., Morris R.S., Perkins N.R., Sims L.D., Ellis T.M., Bisset L., Chow, M., Shortridge K.F., Guan Y., and Malik J.S.M. (2007). Risk for infection with highly pathogenic influenza virus A (H5N1) in chickens, Hong Kong, 2002. Emerg. Infect. Dis. 13: 412-418. DOI: 10.3201/eid1303.060365.

Wang, M., Di B., Zhou D.H., Zheng B.J., Jing H., Lin Y.P., Liu Y.F., Wu X.W., Qin P.Z., Wang Y.L. Jian, L.Y., Li X.Z., Xu J.X., Lu E.J., Li T.G., and Xu J. (2006). Food markets with live birds as source of avian influenza. Emerg. Infect. Dis. 12: 1773-1775.

Leung Y.H., Zhang L.J., Chow C.K., Tsang C.L., Ng C.F., Wong C.K., Guan Y., and Peiris J.S.M. (2007). Poultry drinking water used for avian influenza surveillance. Emerg. Infect. Dis. 13:1380-1382.

Indriani R., Samaan G., Gultom A., Loth L., Indriyani S., Adjid R., Dharmayanti N.L.P.I., Weaver J., Mumford E., Lokuge K., Kelly P.M., and Darminto (2010). Environmental Sampling for Avian Influenza Virus A (H5N1) in Live-Bird Markets, Indonesia. Emerg. Infect. Dis., 16(12): 1889-1895. DOI: 10.3201/eid1612.100402.

Chen H. Smith G.J., Zhang S.Y., Qin K., Wang J. Li K.S., Webster R.G., Peiris J.S.M. and Guan Y. (2005). Avian flu: H5N1 virus outbreak in migratory waterfowl. Nature 436: 191-192.

Fergus R., Fry M., Karesh W.B., Marra P.P., Newman S., and Paul E. (2006). Migratory birds and avian flu. Science 312: 845-846.

Aamir U.B., Werney U., Ilyushina N., and Webster R.G. (2007). Characterization of avian H9N2 influenza viruses from United Arab Emirates 2000 to 2003. Virology 361: 45-55.

Stoops A.C., Barbara K.A., Indrawan M., Ibrahim I.N., Petrus W.B., Wijaya S., Farzeli A., Antonjaya U., Sin L.W., Hidayatullah N., Kristanto I., Tampubolon A.M., Purnama S., Supriatna A., Burgess T.H., Williams M., Putnam S.D., Tobias S., and Blair P.J. (2009). H5N1 Surveillance in Migratory Birds in Java, Indonesia. VECTOR-BORNE AND ZOONOTIC DISEASES. Vol. 9(6): 695-702. DOI: 10.1089/vbz.2008.0183.

McLaws M., Poole J., Sawitri E., Widiastuti T., Bett B., Jost C., Unger F., Madri-Dewi A.P., and Mariner J. (2009). Descriptive and risk factor analysis of HPAI outbreaks in backyard poultry in 15 districts on the island of Java, Indonesia. Proceedings of the 12th Symposium of the International Society for Veterinary Epidemiology and Economics, Durban, South Africa, p 68.

Elly Sudiana (2008). Perencanaan, Sosialisasi dan Inplementasi Kebijakan Pengendalian Avian Influenza. Direktorat Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Peternakan. Disampaikan pada Lokakarya ‘Kebijakan Pengendalian Avian Influenza’, di PSE, Bogor, 22 Mei 2008. http://www.findthatfile.com/search-6136667-hPDF/download-documents-loka-elly-22-05-08-pdf.htm

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations, di Vientiane, Laos.

0 Komentar: