EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Senin, 01 November 2010

Perdagangan satwa liar dan risiko penyakit zoonosis

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Kebanyakan penyakit-penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) disebabkan oleh agen patogen yang sifatnya dapat menular ke manusia (zoonosis). Jumlah dan proporsi penyakit-penyakit yang bersumber dari hewan khususnya satwa liar meningkat secara subtansial dalam beberapa dekade belakangan ini. [1]

Perdagangan satwa liar di Menado
(Taken from J. Otte presentation)
Pada kenyataannya ancaman terhadap kesehatan global dan faktor risiko munculnya penyakit-penyakit menular tersebut bukan hanya dipicu oleh perubahan iklim, kemiskinan sampai kepada isu-isu keamanan global, akan tetapi juga oleh perdagangan satwa liar. Perdagangan global satwa liar menimbulkan mekanisme penularan yang bukan hanya menyebabkan wabah penyakit pada manusia, akan tetapi juga mengancam peternakan, perdagangan internasional, kehidupan pedesaan, populasi alamiah satwa liar dan kesehatan ekosistem. [2, 3]

Satwa liar pada umumnya didefinisikan sebagai hewan mamalia, burung, ikan, reptilia dan amphibi yang berkeliaran (free-roaming) di alam bebas. Jumlah seluruh penyakit zoonosis yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan lebih dari 200 jenis penyakit. Dengan berjalannya waktu, disadari bahwa semakin banyak agen patogen penyebab zoonosis bersumber dari binatang (75%). Satwa liar diindikasikan terlibat dalam epidemiologi kebanyakan penyakit zoonosis dan bertindak sebagai ‘reservoir’ utama dari penularan agen patogen ke hewan domestik dan manusia. [6]

Saat ini semakin disadari bahwa zoonosis yang bersumber pada satwa liar menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Zoonosis satwa liar yang secara khusus disebabkan oleh berbagai jenis bakteria, virus dan parasit, sedangkan jamur (fungi) dapat diabaikan. Dapat dikatakan dalam hal ini ratusan agen patogen terlibat dengan modus penularan yang berbeda satu sama lain dan banyak faktor yang mempengaruhi epidemiologi dari berbagai jenis penyakit zoonosis tersebut. [6]

Berbagai faktor yang diindikasikan memicu timbulnya zoonosis satwa liar meliputi perluasan populasi manusia dan gangguan terhadap habitat satwa liar, termasuk kegiatan pertambangan dan perambahan hutan, perubahan praktek-praktek pertanian, globalisasi perdagangan, perdagangan satwa liar, pasar daging satwa liar (bushmeat), pasar hewan hidup, konsumsi pangan eksotik, pengembangan eko-turisme dan akses kedekatan terhadap satwa kebun binatang serta juga kepemilikan satwa peliharaan eksotik. [7]

Perdagangan satwa liar

Magnituda lalu lintas satwa liar secara global dan dalam hitungan jumlah sesungguhnya sangat mengejutkan. Berbagai satwa diperdagangkan untuk berbagai macam tujuan baik legal maupun ilegal. Pada umumnya yang diperdagangkan secara legal jumlahnya lebih sedikit dan digunakan untuk pameran di kebun binatang, pendidikan keilmuan, penelitian dan program-program konservasi; sebagai bahan pangan dan produk; sebagai satwa peliharaan; serta juga untuk turisme dan keimigrasian. [4]

Perdagangan satwa liar di Menado
(Taken from J. Otte presentation)
Perdagangan komersial satwa liar sebagai satwa peliharaan juga semakin meningkat. Dalam banyak kasus, satwa tersebut termasuk dalam kategori eksotik (didefinisikan sebagai bukan satwa asli atau tidak dipelihara secara tradisional atau keduanya). Seringkali ini menjadi suatu bisnis berisiko oleh karena biasanya satwa-satwa liar tangkapan bebas dikapalkan bersamaan dengan satwa peliharaan. [4]

Sesungguhnya mengkuantifikasi nilai perdagangan global satwa liar sangat sulit dilakukan oleh karena transaksi seringkali dijalankan sangat beragam mulai dari cara barter yang sifatnya lokal sampai kepada yang besar-besaran dengan menggunakan rute internasional. Pada dasarnya perdagangan semacam ini berlangsung lebih banyak secara ilegal atau melalui jaringan informal. Beberapa estimasi mengindikasikan bahwa hampir sebanyak 40 ribu primata, 4 juta burung, 640 ribu reptilia dan 350 juta ikan tropis hidup diperdagangkan secara global setiap tahunnya. [2]

Pada kenyataannya perdagangan satwa liar merupakan sumber pendapatan ekonomi bagi banyak negara-negara berkembang terutama di Asia dan Afrika yang nilainya bisa mencapai ratusan sampai jutaan dollar AS. [7] Secara konservatif dapat diperkirakan bahwa di Asia Timur dan Asia Tenggara sebanyak 10 juta satwa liar dikapalkan setiap tahun secara regional dan dari seluruh dunia untuk dimanfaatkan sebagai makanan atau obat-obatan tradisional. [2]

Pasar tradisional satwa liar hidup di Guangzhou, China memperdagangkan musang kelapa, musang luak, kijang, babi hutan liar, landak, rubah, bajing, tikus bambu, tikus gerbil, berbagai spesies ular dan kucing macam tutul, berbarengan dengan anjing, kucing dan kelinci domestik. Setelah munculnya wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 lalu, sebanyak 838.500 satwa liar dilaporkan dimusnahkan dari pasar di Guangzhou tersebut. [2]

Tingkat perdagangan dan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Indonesia pada tahun 2009 dilaporkan cukup tinggi. Survei terakhir yang dilakukan ProFauna Indonesia mencatat 70 pasar burung di Pulau Jawa memperdagangkan 183 spesies yang dilindungi. Diantara 70 pasar tersebut yang berlokasi di 58 kota berbeda, 14 pasar menjual burung beo, 21 pasar menjual satwa primata, 11 pasar menjual satwa mamalia dan 13 pasar menjual burung raptor. Disamping spesies target tersebut, burung-burung kicau (singing birds) yang dilindungi juga dijual di 11 pasar. [10] Di suatu pasar di Sulawesi Utara, bahkan lebih dari 90 ribu satwa liar mamalia diperjualbelikan per tahun. [2]

Dari suatu survei yang dilakukan di suatu pasar di Thailand, selama 25 minggu dilaporkan lebih dari 70 ribu ekor burung yang terdiri dari 276 spesies diperdagangkan. Survei serupa juga dilakukan di empat pasar di Bangkok pada tahun 2001 dan diamati bahwa ada sebanyak 36.537 burung diperjualbelikan. Hanya 37% dari burung-burung tersebut secara asli ditemukan di Thailand, sedangkan 63% adalah spesies yang bukan asli negara tersebut. [2]

Amerika Serikat (AS) merupakan negara terbesar di dunia dalam mengimpor satwa liar hidup dan jumlahnya mencapai lebih dari satu milyar individu satwa liar selama 2000-2005. Selama periode tersebut, satwa liar mamalia yang diimpor ke AS tercatat mencapai 4067 kali pengapalan yang mengangkut total sebanyak 246.772 individu terdiri dari 190 genus dengan 68 famili. [1]

Secara internasional, perdagangan satwa liar diatur melalui Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) untuk flora dan fauna dimana semua negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia telah menandatanganinya. Malaysia, Vietnam, Indonesia dan China adalah negara-negara pengekspor utama dari satwa liar tangkapan. Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang merupakan negara-negara pengimpor satwa liar yang signifikan. [1, 5]

Bisnis satwa liar di Indonesia dianggap amat menguntungkan. Saat ini Indonesia adalah pengekspor satwa liar yang legal terbesar di dunia, belum terhitung yang tidak legal. Orang utan dan burung kakatua paruh bengkok sangat diminati dalam perdagangan satwa liar. Hal ini memicu perburuan, padahal jenis-jenis ini langka dan bahkan tergolong terancam punah. Negara-negara yang menandatangani CITES wajib mengawasi dipatuhinya batasan-batasan yang berlaku dengan maksud jangan sampai perdagangan menyebabkan punahnya salah satu jenis satwa langka. [13]

Peningkatan perdagangan secara global, dikombinasi dengan transportasi cepat yang modern dan fakta bahwa pasar bertindak sebagai pusat jaringan satwa liar daripada sebagai tempat akhir produk, menyebabkan peningkatan secara dramatis pergerakan dan penularan silang antar spesies dari agen patogen yang secara alamiah ada dalam setiap hospes. [2]

Zoonosis satwa liar

Satwa liar bisa menjadi ‘reservoir’ yang luas dari penyakit-penyakit zoonosis yang baru muncul (emerging zoonoses) dan seringkali tidak diketahui. Begitu juga bisa menjadi sumber dari penyakit-penyakit zoonosis yang muncul kembali (re-emerging zoonoses) yang dikira sudah berhasil dikendalikan. Meskipun kemunculan dan penemuan agen patogen baru seringkali dikaitkan dengan tersedianya alat diagnostik yang semakin baik, akan tetapi jelas perubahan mendasar habitat alam akibat perbuatan manusia dan perilaku manusia sendiri yang sebenarnya mendorong ke arah munculnya zoonosis. [7]

Sejak tahun 1980, lebih dari 35 penyakit menular baru muncul pada manusia dan ini berarti satu penyakit muncul setiap 8 bulan sekali. Sumber dari human immunodeficiency virus (HIV) sebagai penyebab acquired immune deficiency syndrome (AIDS) berkaitan sangat erat dengan kontak manusia dan satwa primata. Wabah Ebola pada manusia ditelusuri kepada pasien pertama yang mengadakan kontak dengan kera besar tertular yang diburu untuk dimanfaatkan dagingnya.

SARS yang disebabkan oleh virus corona dihubungkan dengan perdagangan internasional carnivora kecil. Bahkan suatu studi yang membandingkan antibodi dari musang yang terekspos virus corona penyebab SARS mendemonstrasikan kenaikan yang dramatis dari prevalensi rendah atau nol pada musang yang dipelihara di peternakan sampai prevalensi 80% pada musang yang diuji di pasar. [2] Infeksi alamiah bukan hanya dibuktikan pada musang kelapa di pasar, akan tetapi juga pada rakun, tikus dan binatang asli lainnya yang ditemukan di wilayah dimana SARS berjangkit. [6]

Reservoir virus West Nile adalah burung-burung liar dan pertama kali diintrodusir ke AS pada tahun 1999 dimana virus ini menjadi penyebab wabah pada burung yang terus berlanjut dan berpindah ke manusia dan kuda. Penyebaran penyakit zoonosis West Nile di AS menjadi salah satu contoh bagaimana agen patogen dapat berpindah dari asalnya di Timur Tengah. [6]

Sejumlah zoonosis dapat menular dari satwa liar ke manusia melalui kontak langsung dengan kelinci atau tikus yang terinfeksi, seperti Francilla tularensis, agen penyebab tularemia. Hantavirus disebarkan dari tikus ke manusia oleh aerosol dalam debu yang dapat berasal dari urin, feses atau air ludah tikus terinfeksi. Agen zoonosis lainnya dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia secara tidak langsung oleh makanan atau air yang terkontaminasi, contohnya Salmonella spp. dan Leptospira spp. [6]

Banyak zoonosis yang bersumber dari satwa liar disebarkan melalui vektor insekta. Sebagai contohnya, nyamuk dikenal sebagai vektor zoonosis satwa liar seperti Rift Valley Fever, equine encephalitis dan Japanese encephalitis. Yersinia pestis dapat ditularkan oleh kutu, spora Bacillus anthracis disebarkan oleh lalat dan Leishmania oleh lalat pasir, sedangkan caplak esensial dalam menularkan Borrelia burgdorferi dan Ehrlichia chafeensis/Anaplasma phagocytophilum. [6]

Pergerakan satwa liar dan hewan domestik adalah faktor penting dalam penampakan rabies di suatu lokasi baru. Virus rabies yang secara luas menyebar dan mempengaruhi berbagai hewan terutama carnivora, diintroduksi ke Amerika Utara oleh anjing yang terinfeksi pada awal abad ke-18. Selanjutnya virus rabies tersebut berpindah (spill over) ke sejumlah satwa mamalia darat liar. Virus rabies kemudian hidup menetap dalam rakun di wilayah tengah negara bagian Atlanta pada akhir tahun 1970-an dan pada waktu rakun ditranslokasi ke wilayah tenggara AS maka rabies menjadi endemik pada populasi satwa tersebut. [6]

Bovine tuberculosis yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis adalah zoonosis lainnya dimana pergerakan hewan secara alamiah maupun anthropogenik mempengaruhi epidemiologi penyakit ini. Zoonosis ini muncul pada satwa liar di banyak bagian dunia dan menjadi sumber infeksi bagi hewan domestik dan manusia. [6]

Epidemiologi dari echinococcosis yang disebabkan oleh Echinococcus multilocularis, suatu cacing pita kecil dengan hospes utamanya adalah jenis carnivora, terutama rubah dan hospes perantaranya adalah tikus kecil. Manusia dapat terinfeksi apabila secara tidak sengaja telur cacing terbawa masuk ke perut melalui makanan. [6]

Monkeypox adalah zoonosis yang jarang terjadi yang disebabkan oleh virus pox dan secara khusus terjadi di Afrika. Pertama kali ditemukan pada kera tahun 1958 dan belakangan juga pada satwa lain, terutama tikus. Bajing Afrika kemungkinan adalah hospes alamiah dari virus ini. Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan satwa tertular atau cairan tubuhnya.

Sejak 1994 sampai 2004, suatu zoonosis yang disebabkan oleh virus paramyxo dengan reservoir satwa liar muncul. Virus-virus Hendra, Menangle dan Nipah, kesemuanya memiliki reservoir pada kelelawar buah. Manusia tertular melalui kontak dekat dengan babi atau kuda yang tertular. Virus Hendra ditemukan di Australia pada tahun 1994 yang menyebabkan penyakit pernafasan akut dan fatal pada kuda dan manusia. Virus Menangle ditemukan juga di Australia pada tahun 1996 yang menyebabkan penyakit gangguan reproduksi pada babi dan penyakit gangguan pernafasan pada manusia. Virus Nipah dideteksi pada tahun 1998 di Malaysia, yang menyebabkan penyakit dengan gejala pernafasan dan syaraf yang hebat pada babi dan radang otak dengan tingkat kematian 40% pada manusia yang kontak dekat dengan babi. [6]

Isolasi Brucella spp. pada mamalia laut dilaporkan pertama kali tahun 1994. Sejak itu infeksi dideteksi pada berbagai macam spesies mamalia laut dan populasinya. Pada tahun 2003 dilaporkan dua kasus manusia yang terinfeksi oleh Brucella spp. dari mamalia laut.

Konsekuensi impor satwa liar

Wabah zoonosis yang disebabkan oleh perdagangan satwa liar telah menyebabkan kerugian secara global sampai milyaran dollar. [2, 3] Hal ini sangat baik diilustrasikan dari kerugian ratusan juta dollar yang dihubungkan dengan epidemi SARS yang mula-mula muncul di Guangdong, China pada tahun 2002 dan menyebar secara global sebelum berhasil dikendalikan setelah itu.

Beberapa contoh kasus importasi satwa liar ke AS yang menarik perhatian besar karena potensi ancamannya terhadap kesehatan masyarakat adalah virus Ebola dari primata yang diimpor dari Filipina, monkeypox dari tikus liar yang diimpor dari Afrika dan HIV dari kera chimpanzee dari Afrika tengah. Monkeypox pada awalnya terintroduksi pada spesies tikus asli di AS dan sesudahnya berpindah ke manusia melalui importasi tikus liar Afrika yang berasal dari Ghana. [1, 4]

Dari hasil surveilans terhadap importasi mamalia ke Amerika Serikat sepanjang 2000-2005 menunjukkan bahwa agen patogen yang paling berisiko menimbulkan zoonosis berturut-turut adalah virus rabies (ditemukan pada 78 genus mamalia), Bacillus anthracis (57), Mycobacterium tuberculosis kompleks (48), Echinoccoccus spp. (41), dan Leptospira spp. (35). Genus yang memiliki kemampuan paling besar untuk mengandung agen patogen yang menyebabkan zoonosis adalah canidae dan felidae (masing-masing 14), rodensia (13), equidae (11) serta primata dari jenis Macaca dan Lepus (masing-masing 10). [1]

Contoh lain yang menunjukkan bahwa importasi satwa liar bisa membawa konsekuensi terbawanya agen patogen penyebab zoonosis, seperti virus H5N1 Influenza tipe A diisolasi baru-baru ini pada burung elang yang diimpor ke Belgia secara ilegal dari Thailand. Begitu juga virus paramyxo yang sangat patogen bagi unggas domestik terbawa masuk ke Italia melalui perdagangan satwa peliharaan seperti burung beo, kakatua merah dan kutilang yang berasal dari Pakistan. [2]

Begitu juga Chytridiomycosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh jamur. Saat ini diidentifikasi sebagai penyebab utama dari kemusnahan 30% spesies amphibi di seluruh dunia dan penyakitnya tersebar melalui perdagangan internasional katak asli Afrika.

Studi di Indonesia

Meskipun studi tentang penyakit-penyakit zoonosis pada satwa liar di Indonesia masih sangat sedikit, akan tetapi beberapa studi yang pernah dilakukan mengindikasikan perlunya dirancang studi-studi yang lebih intensif dan mendalam dengan ruang lingkup yang lebih luas ke depan.

Suatu studi untuk pertama kalinya menemukan tersebarnya infeksi campak, rubella dan para-influenza pada populasi kera (Macaca fascicularis) yang dipelihara di Kampung Dukuh, suatu desa di wilayah Jakarta Timur. Dokumentasi populasi kera urban yang terekspos virus-virus yang biasanya secara endemik ditemukan pada alat pernafasan manusia tersebut mengkonfirmasikan adanya penularan dari manusia ke satwa primata dan mungkin juga penularan dari satwa primata ke manusia. [8] Indikasi ini perlu diikuti dengan studi yang lebih ekstensif pada populasi kera yang hidup sebagai satwa liar di hutan.

Kelelawar buah sedang terbang
(Taken from J. Otte presentation)
Studi lain menyelidiki potensi tereksposnya para pekerja di suatu hutan kera (Sangeh) di Bali dimana hutan tersebut menjadi lokasi candi Hindu yang menjadi daya tarik wisata oleh karena tingginya populasi kera yang hidup disana. Serum dari kera-kera di Sangeh tersebut mengandung antibodi terhadap virus Herpes B. Hal ini menunjukkan bahwa kontak yang intensif antara para pekerja dengan populasi kera tersebut memungkinkan terjadinya penularan virus Herpes B antara manusia dengan kera. [9]

Disamping itu suatu studi yang memeriksa antibodi terhadap virus Nipah pada kelelawar buah yang ditangkap pada beberapa lokasi sampel yang berbeda mengindikasikan bahwa infeksi virus ini menyebar secara luas pada populasi kelelewar (Pteropus vampyrus) di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Penemuan ini menunjukkan bahwa penyebaran virus Nipah sudah bersifat endemik pada populasi P. vampyrus di Indonesia. [11] Begitu juga suatu studi yang diperoleh dari hasil surveilans berhasil mendeteksi antibodi terhadap virus Japanese encephalitis (JE) dan kelompok flavivirus pada kelelawar. [12]

Penutup

Pentingnya mengenali satwa liar sebagai ‘reservoir’ zoonosis semakin meningkat belakangan ini. Pencegahan dan pengendalian yang efektif terhadap zoonosis satwa liar tersebut memerlukan pendekatan inter-disipliner dan holistik serta kerjasama internasional. Surveilans, kapasitas dan kapabilitas laboratorium, penelitian, pelatihan dan pendidikan serta komunikasi adalah elemen kunci yang diperlukan untuk keberhasilan mengatasi masalah zoonosis satwa liar.

Sudah saatnya pemerintah Indonesia sekarang ini memiliki dan mengembangkan Komite Nasional Zoonosis sebagai forum koordinasi dan kerjasama antar keahlian untuk merancang dan melaksanakan sistem surveilans pada hewan yang bisa memberikan peringatan dini (early warning) terhadap kemunculan agen-agen patogen penyebab zoonosis, yang terintegrasi dengan sistem surveilans pada manusia. Sistem surveilans terpadu yang bisa memberikan kesempatan untuk mengendalikan agen patogen tersebut sebelum berdampak lebih lanjut kepada kesehatan manusia, suplai pangan, ekonomi ataupun biodiversitas. [7]

Begitu juga yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya perbaikan sistem pelaporan dan pertukaran informasi antar kelembagaan baik pemerintah maupun swasta serta memiliki jejaring internasional. Surveilans aktif esensial untuk dilakukan pada keterkaitan antara populasi pedesaan (rural populations) dengan habitat satwa liar, terutama di wilayah dimana faktor kemiskinan dan penghasilan rendah mendorong terjadinya peningkatan risiko penularan terhadap zoonosis. Disamping itu juga pelatihan bagi para profesional, seperti dokter hewan dan ahli biologi dalam manajemen kesehatan satwa liar dan pembentukan tim kerjasama multi-disiplin yang setiap saat siap melakukan intervensi apabila terjadi wabah. [7]

Perhatian dan minat yang sedang tumbuh di bidang kedokteran hewan dalam kaitannya dengan zoonosis satwa liar dan sangat perlu didorong di Indonesia yaitu bagaimana memajukan medik konservasi (conservation medicine) dan “eco-health” dengan cara memperluas kerjasama penelitian di antara dokter hewan, dokter, ahli mikrobiologi, ahli biologi, ahli satwa liar, ahli ekologi, ahli sosio-ekonomi dan lain sebagainya [14].

Referensi:
1. Pavlin B.I., Schloegel L.M., and Dazak P. (2009). Risk of Importing Zoonotic Diseases through Wildlife Trade, United States. Emerging Infectious Diseases, Vol. 15, No. 11, pp. 1721-1726.
2. Karesh W.B., Cook R.A. Bennett E.L., and Newcomb J. (2005). Wildlife Trade and Global Disease Emergence. Emerging Infectious Diseases. Vol. 11, No. 7, pp. 1000-1002.
3.. Karesh, W.B., Cook, R.A., Gilbert M., and Newcomb J. (2007). Implications of Wildlife Trade on the Movement of Avian Influenza and Other Infectious Diseases. Journal of Wildlife Diseases, 43(3) Supplement, pp. S55-S59.
4. Marano N., Arguin P.M., and Pappaioanou M. (2007). Impact of Globalization and Animal Trade on Infectious Disease Ecology. Emerging Infectious Diseases. Vol. 13, No. 12, pp. 1807-1809.
5. Nijman V. (2010). An overview of international wildlife trade from Southeast Asia. Biodivers Conserv 19:1101-1114.
6. Kruse H., Kirkemo A-M, and Handeland K. (2004). Wildlife as Source of Zoonotic Infections. Emerging Infectious Diseases. Vol. 10, No. 12, pp. 2067-2072.
7. Chonnel B.B. (2007). Wildlife Zoonoses. Emerging Infectious Diseases. Vol. 13, No. 1. http://www.cdc.gov./EID/13/1/06-0480.htm
8. Schillaci M.A., Jones-Engel L., Engel G.A., and Kyes R.C. (2006). Short Report: Exposure to Human Respiratory Viruses Among Urban Performing Monkeys in Indonesia. Am. J. Trop. Med. Hyg. 75(4), pp. 716-719.
9. Engel G.A., Jones-Engel L., Schillaci M.A., Suaryana K.G., Putra A., Fuentes A., and Henkel R. (2002). Human exposure to herpesvirus B–seropositive macaques, Bali, Indonesia. Emerging Infectious Diseases. Vol. 8, No. 8, pp. 789-795.
10. Aditjondro G. (2010). Wildlife Illegal Trade and Smuggling in Indonesia Remains High. ProFauna Indonesia. http://www.engagemedia.org/Members/emnews/news/wildlife-illegal-trade-and-smuggling-in-indonesia-remains-high
11. Sendow I., Field H.E., Curran J., Darminto, Morrissy C., Meehan G., Buick T., and Daniels P. (2006). Henipavirus in Pteropus vampyrus Bats, Indonesia. Emerging Infectious Diseases. Vol. 12, No. 4, pp. 711-712.
12. Sendow I. (2008). Abstract: Emerging zoonosis, Nipah and Japanese encephalitis virus infections in Indonesia. Presented at Australia-Indonesia Workshop on Human Health, Including Infectious Diseases. Jakarta, 14-15 April 2008.
13. http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/satwa-liar-jadi-komoditi-ekspor
14. Daszak P., Epstein J.H., Kilpatrick A.M., Aguirre A.A., Karesh W.B., and Cunningham A.A. (2007). Collaborative Research Approaches to the Role of Wildlife in Zoonotic Disease Emergence. Pp. 463-475 in: Current Topics in Microbiology and Immunology Vol. 315: Wildlife and Emerging Zoonotic Diseases. The Biology, Circumstance and Consequences of Cross-Species Transmission. Berlin. Springer.

4 Komentar:

budhi_vramadhini [Reply] mengatakan...

Bu Tata, mohon ijin utk share di fb saya. Tulisan yg sangat mencerahkan.

Tata [Reply] mengatakan...

Silahkan saja ibu. Mudah-mudahan bermanfaat.

all izz well [Reply] mengatakan...

bu tata kebetulan saya dari manado, mohon ijin juga share di blog saya ya..

banyumentah [Reply] mengatakan...

mohon ijin copas di blogku...info menarik....