EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 07 Maret 2010

Kenali Musuhmu

K O M P A S, SABTU, 1 OKTOBER 2005 (HALAMAN 39) – FOKUS FLU BURUNG

Siapa pun tidak mengira bahwa setelah perjalanan penyakit avian influenza pada unggas di Indonesia mencapai dua tahun sejak Agustus 2003, dan jumlah kasus kematian unggas akibat penyakit ini semakin nyata berkurang, muncul kasus manusia pertama flu burung.

Oleh : TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Kasus manusia pertama itu diumumkan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, 28 Juni 2005. Ini berbeda dengan di Thailand, di mana kasus pada manusia umumnya terjadi saat jumlah kasus kematian unggas akibat avian influenza (AI) sangat tinggi.

Meskipun pernyataan berjangkitnya kasus flu burung pada manusia dan bahkan sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) sudah tidak dapat dielakkan lagi, sampai hari ini belum ada penjelasan resmi pemerintah yang dapat disampaikan kepada masyarakat luas mengenai sumber infeksi dan cara penularan dari unggas ke manusia.

Gambaran epidemiologi penyakit yang didapatkan belum cukup diketahui secara lengkap dan terstruktur untuk mencari korelasi antara agen penyakit, induk semang, dan lingkungan.

Kejadian flu burung pada manusia jelas memunculkan tudingan bahwa sumber penularannya adalah unggas, meliputi ayam, itik, bebek, dan burung-burung liar. Tidak dapat dibantah bahwa selama AI masih berjangkit pada unggas, maka selama itu pula potensi ancaman penularan kepada manusia akan terus terjadi.

Keprihatinan terhadap situasi ini memunculkan tekanan bagi pemerintah untuk berupaya sekuat tenaga memerangi AI pada sumbernya yaitu unggas, sebagai satu-satunya cara untuk menghilangkan potensi ancaman yang berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan manusia.

Kemampuan suatu negara untuk menanggulangi penyakit AI pada unggas bergantung pada sejauh mana para ahli memahami tentang tingkah laku dan ekologi dari virus AI secara umum, khususnya virus subtipe H5N1.

Di samping itu, sangat penting pula untuk memahami sistem produksi dan sistem pemasaran unggas lokal yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan kejadian penyakit.

“Stamping-out no”

Perlunya tindakan pemusnahan unggas secara menyeluruh (stamping-out) dalam radius 3 kilometer dari sumber infeksi seperti yang beberapa kali disampaikan baik oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono maupun Menkes dalam jumpa pers sesungguhnya tidak relavan lagi untuk diperdebatkan.

Dari rekomendasi pertemuan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)/Office International des Epizooties (OIE)/WHO tanggal 24 Februari 2004 di Roma dinyatakan bahwa stamping-out hanya akan sangat efektif dijalankan apabila penyebaran penyakit masih terbatas dan tingkat terinfeksi kembali rendah.

Prasyarat yang penting untuk terlaksananya tindakan stamping-out yang efektif adalah apabila kejadian penyakit mampu terdeteksi secara dini, sistem pelaporan penyakit berjalan efektif, dan tersedianya dana kompensasi yang memadai dan tepat waktu.

Di samping itu, hal yang sangat mendasar bagi penerapan stamping-out terletak pada apakah negara memiliki dukungan legislasi yang kuat dan kapasitas infrastruktur yang memadai untuk mampu menerapkan sanksi apabila terjadi pelanggaran hukum (law enforcement).

Analisis kebijakan untuk menetapkan strategi yang telah dipilih pemerintah Indonesia dilakukan dengan mengkaji dan mempertimbangkan seluruh aspek yang mempengaruhi situasi AI pada unggas dan saling berkaitan satu sama lain, meliputi aspek kesehatan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, dan politik

Dari hasil analisis tersebut, pemerintah melalui Deptan menetapkan sembilan strategi penanggulangan yang satu sama lain saling memiliki ketergantungan dan tidak dapat berdiri sendiri.

Titik berat strategi terletak pada upaya untuk memutus setiap kemungkinan kontak dengan sumber infeksi melalui peningkatan biosekuriti di peternakan unggas, dibarengi dengan pemusnahan unggas sehat sekandang dengan yang tertular. Dalam situasi kejadian penyakit yang sudah endemis seperti sekarang, pemusnahan unggas secara terbatas (selective culling) tetap harus dilakukan oleh para peternak secara konsisten dengan pemberian dana kompensasi yang harus disediakan oleh pemerintah.

Strategi ini diikuti dengan menekan sampai sekecil mungkin sirkulasi virus di lingkungan dan mengurangi hewan peka terhadap infeksi dengan melaksanakan tindakan vaksinasi dengan vaksin inaktif yang strain virusnya homolog dengan isolat lapangan.

Penerapan vaksinasi harus dilihat sebagai alat untuk memaksimalkan biosekuriti dan meningkatkan tingkat kekebalan populasi unggas. Titik lemah strategi yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius adalah pengendalian lalu lintas unggas hidup, produk unggas dan limbah peternakan. Strategi ini digunakan untuk memutus mata rantai penularan dengan menghentikan sumber infeksi yang sebenarnya sangat efektif dalam mencegah perluasan dan penyebaran penyakit jika berhasil dilakukan.

Pengendalian perlu diperketat, terutama terhadap unggas hidup dan limbah peternakan yang dikeluarkan langsung dari peternakan maupun yang dilakukan melalui lintas darat antarkabupaten/kota dan juga lintas laut/udara antarpulau.

Risiko infeksi

Untuk mengenal musuh dalam memerangi AI, harus diketahui secara pasti di mana risiko infeksi berada, terutama pada populasi unggas yang telah divaksin.

Dengan program vaksinasi yang sudah dilaksanakan secara rutin selama ini di peternakan-peternakan komersial mulai dari perbibitan unggas, peternakan komersial skala besar, menengah dan kecil, maka tingkat kematian unggas secara nyata telah berhasil ditekan sampai sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali.

Untuk mempertegas strategi vaksinasi AI pada unggas oleh pemerintah, maka perlu disikapi anggapan yang sering kali dikemukakan oleh Depkes bahwa vaksinasi justru hanya akan menguntungkan industri perunggasan secara ekonomi karena ayam-ayam tetap hidup dan mampu berproduksi, akan tetapi tidak akan pernah menghentikan risiko infeksi bagi manusia.

Anggapan yang tentunya akan melemahkan penetapan strategi yang telah dipilih dalam memerangi AI pada unggas. Kekhawatiran yang diperlihatkan dalam menyikapi kemungkinan dampak negatif dari suatu populasi unggas yang divaksin menyangkut dua hal, yaitu pengeluaran atau ekskresi virus secara persisten dari unggas yang telah divaksin dan kemampuan menghasilkan strain baru sebagai hasil vaksinasi.

Penelitian memperlihatkan bahwa unggas yang telah divaksin dan kemudian diinokulasi dengan virus H5N1 sangat kecil kemungkinannya untuk terinfeksi, dan sangat kecil kemungkinannya untuk mengeluarkan virus.

Pada kenyataannya, unggas yang divaksin secara baik mengeluarkan virus dalam jumlah seratus kali lebih sedikit dibandingkan dengan unggas yang tidak divaksin. Unggas yang divaksin secara baik juga akan mengurangi risiko penularan lebih lanjut, karena tingkat resistensi terhadap infeksi meningkat. Kekhawatiran vaksinasi terhadap AI akan mendorong timbulnya mutasi strain yang mampu menular dari manusia ke manusia seharusnya juga dapat dihilangkan.

Secara umum, virus influenza mengalami mutasi secara spontan apabila virus memperbanyak diri. Tekanan terhadap virus memang terjadi akibat vaksinasi, tetapi tekanan semacam ini pun juga terjadi pada infeksi alam.

Vaksinasi

Meskipun demikian, sangat tidak mungkin vaksinasi terhadap unggas akan menimbulkan tekanan terhadap reseptor sel protein haemagglutinin (HA) yang pada gilirannya mungkin akan meningkatkan kemampuan penularan virus. Dapat disimpulkan bahwa vaksinasi sebenarnya justru dapat mengurangi peluang terjadinya mutasi alamiah atau reassortment (pengaturan kembali gen) melalui pengurangan jumlah virus yang bersirkulasi.

Untuk menghilangkan kekhawatiran dampak vaksinasi, maka penerapan sistem surveilans yang efektif sebagai bagian dari sembilan strategi yang dicanangkan pemerintah menjadi sangat penting dan kritikal dalam mengukur respon vaksinasi dan menelusuri serta mendeteksi keberadaan reservoir infeksi pada unggas yang secara klinis normal.

Untuk mendukung hal ini, terutama untuk mendeteksi secara cepat setiap kemungkinan mutasi virus, perlu dilakukan surveilans epidemiologi bio-molekuler dengan kemampuan untuk mengarakterisasi virus secara lengkap menurut keragaman spesies, waktu dan lokasi. Cara ini akan dapat digunakan sebagai suatu alat peringatan dini (early warning) untuk mengetahui apakah perubahan antigenisitas atau genetik telah terjadi atau tidak.



Gambar:
Analisa pohon phylogenetik dari isolat virus unggas H5N1 yang dikumpulkan dari berbagai daerah tertular di Indonesia (University of Hongkong, WHO Collaborating Centre)











Gambar terlampir memperlihatkan bahwa isolat virus unggas yang dikumpulkan selama wabah AI berlangsung tahun 2003, 2004 dan 2005 dari berbagai daerah tertular di Indonesia masih berada dalam satu cluster yang sama. Secara umum, dari hasil pemetaan gen dapat diketahui bahwa virus H5N1 pada unggas di Indonesia selama ini belum menunjukkan indikasi mengalami mutasi yang nyata.

Persoalan mendasar sekarang ini berkaitan dengan kasus flu burung pada manusia yang perlu mendapatkan penanganan lebih serius dari pemerintah menyangkut seberapa besar potensi penularan dari hewan ke manusia dan seberapa jauh penyebaran virus H5N1 telah memasuki berbagai spesies unggas non ayam termasuk itik dan burung liar.

Banyak yang perlu dilakukan saat ini dan ke depan, terutama untuk mengungkap reservoir infeksi dengan sasaran penelitian yang mendalam tentang dinamika penularan, patogenesis dan tropisme virus H5N1 pada berbagai spesies unggas dan lingkungan. Yang terpenting mempelajari kemampuan pengikatan receptor (receptor binding) virus dengan induk semang yang berbeda antara unggas-babi-manusia.

*) DRH. TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS, MPHIL, PHD
Staf Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian

0 Komentar: