EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 21 Maret 2010

Apakah Penyakit Mulut dan Kuku Ancaman Untuk Indonesia ?

K O M P A S, RABU, 21 MARET 2001 (HALAMAN 32) – Rubrik Nasional

Tri Satya Putri N Hutabarat

Berita munculnya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Inggris dan Irlandia Utara pada pertengahan bulan Februari 2001 ini, yang bahkan ditengarai sudah menyebar ke daratan Eropa, telah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia, terutama setelah disebarluaskan melalui pemberitaan media elektronik dan juga di harian ini: “Dari Asia ke Inggris” (Kompas, 6 Maret 2001), tanpa masyarakat memahami apa dan bagaimana PMK itu sebenarnya.

PMK atau yang secara internasional dikenal sebagai foot-and-mouth disease merupakan penyakit hewan yang paling ditakuti oleh semua negara di dunia, karena sangat cepat menular dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat luar biasa besarnya. Seluruhnya ada 15 jenis penyakit hewan menular berbahaya, yang secara ekonomis sangat merugikan, yang dimasukkan dalam daftar A oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office International des Epizooties). Salah satu penyakit tersebut adalah PMK.

Meskipun persoalan PMK sampai dengan saat ini dianggap hanyalah merupakan masalah kesehatan hewan dan tidak menyentuh kesehatan manusia, akan tetapi dampak PMK menjadi sangat luas mengingat keterkaitannya dengan aspek penting yang mempengaruhi kehidupan manusia yaitu aspek ekonomi dan perdagangan.

PMK sangat menakutkan

Setelah menyebar hampir ke seluruh daratan Inggris dan Irlandia Utara dalam waktu kurang dari dua minggu, maka kejadian wabah PMK menimbulkan kepanikan dimana-mana. Bukan hanya para peternak yang sangat terpukul karena membayangkan jumlah kerugian ekonomi yang secara serius akan terjadi, akan tetapi juga hampir seluruh penduduk Inggris merasakan dampak dari penyakit hewan ini. Dikhawatirkan, tingkat bunuh diri di kalangan para peternak yang putus asa akan meningkat sejalan dengan makin merebaknya PMK seperti halnya pada kejadian krisis mad cow beberapa tahun yang lalu.

Suatu pusat bantuan, yang dibentuk untuk menangani wabah PMK ini, telah mengakui menerima sejumlah telepon dari para istri peternak yang menyatakan bahwa mereka sangat mengkhawatirkan kesehatan mental suami dan anaknya. Berbagai peristiwa penting di Inggris seperti olah raga berkuda yang sangat bergengsi dan popular, batal dilangsungkan. Belum lagi kalau diperhitungkan reaksi negara-negara Eropa, Amerika, Kanada dan sejumlah negara di Asia, yang segera setelah wabah PMK merebak di Inggris, melakukan pelarangan ekspor hewan dan seluruh produk hewan yang berasal dari Inggris.

PMK adalah penyakit hewan yang menyerang hewan berkuku genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba, babi dan hewan liar seperti menjangan, lhama, kanguru, yaks serta hewan peka lainnya seperti gajah, armadillo dan tikus. Penyakit ini disebabkan oleh virus PMK yang termasuk dalam genus Apthovirus dari Famili Picornaviridae. Ada tujuh tipe virus PMK, yaitu A, O, C, Asia1, SAT1, SAT2, dan SAT3. Dari tipe ini dapat diidentifikasi lebih dari 60 subtipe, dan seringkali muncul subtipe baru secara spontan.

Yang jelas, penularan virus PMK sangat sulit sekali untuk dihentikan, karena virus dapat terbawa sampai beberapa mil jauhnya oleh angin, orang, atau kendaraan. Pada kelembaban relatif >60%, maka virus PMK dapat terbawa terbang oleh udara atau angin melewati daratan sampai sejauh 60 km dan melewati lautan sampai sejauh 250 km.

Sekali timbul wabah PMK di suatu daerah/negara tertentu, maka penyakit ini biasanya menyebar bagaikan api yang menjalar secara liar melalui kelompok domba, sapi, kambing dan babi. Masa inkubasi penyakit ini bisa berlangsung 24 jam sampai paling lama 2 minggu. Seringkali kebijakan yang diambil untuk menghentikan wabah PMK adalah dengan pemusnahan hewan/ternak secara massal. Pemerintah Inggris memutuskan untuk melakukan pemusnahan massal terhadap 14.092 ekor ternak sampai saat ini, dan ada sekitar 60.000 ekor lagi yang rencananya akan dimusnahkan untuk menghentikan penyebaran wabah.

Manusia sebagai pembawa penyakit dan sumber penularan wabah

Berbeda halnya dengan penyakit hewan seperti BSE maupun anthrax, maka PMK tidak dianggap sebagai suatu penyakit yang berbahaya bagi manusia. Sepanjang sejarah PMK di dunia, laporan yang menyebutkan bahwa PMK menulari manusia, sangat jarang sekali terjadi. Kalaupun ada seseorang yang dianggap tertular PMK, itu pun karena orang tersebut mengadakan kontak langsung dengan hewan atau ternak yang sakit, dan biasanya hanya dalam bentuk gejala flu ringan.

Yang perlu dicermati dari penyakit ini adalah bahwa manusia bertindak sebagai carrier atau pembawa penyakit ini. Seseorang yang baru saja mengunjungi peternakan tertular, akan membawa virus PMK di sepatu atau pakaiannya, dan virus tersebut mampu bertahan sampai selama 9–14 minggu. Hal inilah yang menyebabkan pada kejadian wabah di Inggris, ribuan peternak dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah dan tidak dapat meninggalkan areal rumah tinggalnya sebagai upaya pihak berwenang yang hampir putus asa untuk mencoba menahan ancaman wabah untuk tidak semakin meluas.

Wabah PMK di Inggris sampai dengan minggu pertama bulan Maret 2001 telah menyebar ke 96 peternakan dengan jumlah ternak sapi, domba, dan babi yang terserang mencapai 62. 447 ekor. Berbagai macam reaksi yang dilakukan oleh negara-negara yang ingin melindungi industri peternakan dalam negerinya dari kemungkinan PMK menyebar ke luar Inggris.

Pemerintah Kanada menganjurkan warga negaranya yang berpergian ke Inggris untuk menghindari kunjungan ke peternakan apabila berada dinegara tersebut. Mereka diharuskan untuk melakukan prosedur pembersihan, seperti mencuci sepatu dan melakukan cuci kering pakaian yang dikenakan, sebelum mereka kembali ke negaranya. Pemerintah Jerman memusnahkan semua makanan yang dibawa para penumpang pesawat dari Inggris di bandara udara Hamburg, Munich, Frankfurt, dan pelabuhan udara lainnya. Di samping itu, para ahli kesehatan hewan khawatir bahwa virus PMK dapat melewati Terusan Inggris (the English Channel), terbawa oleh angin atau burung atau ikan. Mereka beranggapan bahwa lalu lintas sepanjang Terusan Inggris masih dapat dikendalikan oleh manusia, akan tetapi angin tidak dapat dikendalikan oleh siapapun.

Meskipun sampai saat ini belum diketahui secara pasti sumber penularan PMK di Inggris, namun secara teori dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar penyebabnya berasal dari daging yang diimpor dari luar negeri. Seperti diberitakan, sampai dengan 12 hari sebelum PMK ditemukan, Inggris masih melakukan impor dari negara-negara Argentina, Namibia, Brazil dan Uruguay, yang dalam 12 bulan terakhir mengalami wabah PMK.

Teori ini didukung oleh hasil analisa USDA/APHIS (Amerika) yang dilakukan terhadap data yang dikumpulkan dari kejadian wabah PMK yang pernah terjadi di dunia, yang menunjukkan bahwa persentase kejadian wabah dalam kurun waktu dalam 25 tahun terakhir lebih banyak disebabkan oleh importasi ternak/produknya dan vaksin. Beda dengan penyebab kejadian wabah sebelum tahun 1969 dimana lebih banyak disebabkan oleh daging, produk daging atau sisa makanan yang terkontaminasi (lihat Tabel).



Wabah Pan Asia

Badan Pangan Dunia (Food Agriculture Organization) dalam siaran persnya pada tahun 2000 yang lalu telah memperingatkan dunia bahwa setiap negara dalam tahun belakangan ini perlu mewaspadai kenyataan munculnya wabah PMK yang jangkauannya telah melampaui batas kontinen dan kecenderungannya untuk berkembang menjadi krisis global. Wabah PMK yang telah menjadi pandemi diberi nama “Pan Asia”.

Pan Asia pertama kali muncul di India utara pada tahun 1990 dan menyebar ke Arab Saudi, kemungkinan melalui perdagangan domba dan kambing hidup, dan kemudian menjalar ke negara-negara tetangganya di Timur Tengah. Pada tahun 1996 meluas sampai ke Eropa, dimana wabah PMK terjadi di Turki, dan dari sini mencapai Yunani dan Bulgaria.

Dari India menyebar ke arah timur dan barat – ke Nepal pada tahun 1993 dan 1994, Taiwan pada tahun 1997, Butan pada tahun 1998, Tibet dan Hae di China pada tahun 1999. Pada akhir tahun 1999 dan 2000, wabah sudah menyebar hampir di seluruh Asia Tenggara (Vietnam, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Malaysia). Pada tahun 2000, dua negara di Timur Jauh juga takluk pada wabah Pan Asia yaitu Jepang dan Korea. Jepang telah bebas PMK sejak tahun 1908, dan Korea sejak tahun 1934. Kedua negara tersebut memiliki aturan yang ketat dalam hal importasi hewan dan daging. Persinggahan Pan Asia yang paling akhir sebelum mencapai Inggris adalah Afrika Selatan (lihat wabah PMK tipe O pada Gambar 1).


Dari wabah PMK yang timbul di berbagai belahan dunia tersebut berhasil diidentifikasi virus PMK tipe O, yang kemudian diberi nama strain “Pan Asia” (PA). Pada kejadian wabah di Inggris ditemukan penyebabnya juga adalah virus PMK tipe O, yang mirip akan tetapi tidak persis sama dengan strain PA. Di Afrika Selatan, penyebab wabah diduga disebabkan oleh sisa restauran untuk makanan babi yang dibawa secara ilegal oleh sebuah kapal Asia. Di Jepang, penyebab wabah diduga berasal dari pakan ternak yang berasal dari tumbuhan (hay and silage), yang diimpor dari Cina, yang terkontaminasi oleh kotoran hewan, urine, atau air ludah hewan tertular. Di Korea Utara, badai angin berpasir dari Cina yang membawa virus PMK diduga sebagai penyebab timbulnya PMK.

Industri peternakan Inggris sangat terpukul dengan munculnya wabah ini, terutama setelah dalam beberapa tahun belakangan ini secara finansial terhimpit dengan masalah penyakit sapi gila dan wabah hog cholera. Diperkirakan, para peternak Inggris mengalami kerugian sebesar 73 juta dollar AS sebagai akibat dari pelarangan ekspor selama seminggu. Yang dikhawatirkan Pemerintah Inggris adalah berlanjutnya wabah kali ini menyamai skala wabah yang terjadi pada tahun 1967 dimana lebih dari 400.000 ekor ternak pada waktu itu dimusnahkan untuk menghentikan wabah PMK.

Indonesia dan PMK

PMK di Indonesia dikenal sejak tahun 1887 dan pertama kali ditemukan di Pulau Jawa. Dengan memperhitungkan kelayakan bahwa PMK bisa diberantas berdasarkan beberapa faktor keuntungan yang dimiliki, maka pada waktu itu Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melaksanakan program pemberantasan secara besar-besaran yang dimulai sejak tahun 1974–1985. Faktor keuntungan tersebut antara lain situasi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan di mana laut dapat digunakan sebagai hambatan alam dalam mencegah penularan penyakit.

Hanya ada tiga pulau atau wilayah yang dinyatakan tertular, yaitu Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi. Sedangkan batas darat antara Kalimantan dengan Malaysia Timur (Sabah dan Serawak), dan antara Irian Jaya dengan Papua Niugini (PNG), juga secara tradisionil dikenal sebagai wilayah bebas PMK.

Faktor keuntungan lain adalah tipe virus PMK di Indonesia hanya ada satu jenis yaitu tipe O. Pemikiran lain yang juga mendukung adalah pada saat itu Indonesia aktif melakukan impor bibit ternak dalam upaya meningkatkan tingkat produktivitas ternak lokal dan diasumsikan kenaikan tingkat produktivitas di masa depan akan sulit dicapai tanpa membebaskan populasi ternak dari PMK.

Dengan semakin meningkatnya secara luar biasa lalu lintas orang dan hewan antar negara dalam dekade ini, yang membuat batas antar negara semakin tidak tampak (borderless country), maka penerapan Perjanjian Sanitary and Phytosanitary (SPS), yang mengatur tindakan suatu negara untuk melindungi kehidupan dan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, perlu dimanfaatkan seluas-luasnya untuk mencegah Indonesia tertular kembali.

Perjalanan wabah Pan Asia membuktikan bahwa Indonesia memang perlu mewaspadai ancaman PMK dan kemungkinannya muncul kembali. Status bebas PMK yang diakui oleh OIE sejak tahun 1990 perlu dipertahankan. Yakni dengan mengambil langkah-langkah, terutama menyangkut kebijakan importasi hewan, bahan asal hewan, dan hasil bahan asal hewan yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, serta pelaksanaan prosedur karantina yang ketat (lihat status OIE per 23 Maret 2000 Gambar 2).


Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar merupakan pangsa pasar yang cukup strategis bagi negara-negara pengimpor hewan, bahan asal hewan, dan hasil bahan asal hewan, terutama dengan akan diberlakukannya AFTA pada tahun 2003 mendatang. Garis pantai yang cukup panjang dan tempat-tempat pemasukan yang cukup banyak, menyebabkan pengawasan terhadap masuknya komoditas atau produk peternakan secara ilegal sulit dilakukan. Wilayah paling rawan adalah Sumatera Utara yang sering kali menerima dari komoditas daging ilegal dari Semenanjung Melaysia.

Pada saat di mana negara kita berada dalam situasi krisis moneter dan ekonomi yang berkepanjangan, maka Pemerintah perlu mencari kemungkinan importasi produk peternakan dari luar negeri dengan harga yang terjangkau masyarakat luas guna mendukung ketersediaan pangan dalam waktu relatif singkat. Upaya tersebut haruslah diiringi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan masuknya penyakit oleh semua pihak yang terkait, baik pemerintah, industri, organisasi profesi, asosiasi di bidang peternakan, maupun juga masyarakat peternakan lainnya.

(Drh. Tri Satya Putri N. Hutabarat, MPhil, PhD, Veterinary Epidemiologist, bekerja pada Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Produksi Peternakan, Departemen Pertanian)

0 Komentar: