EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 07 Maret 2010

Agenda Flu Burung SBY-Bush

KOMPAS, SENIN, 27 NOVEMBER 2006 – NASIONAL

KESEHATAN GLOBAL

Presiden AS George W Bush menanggapi potensi dampak pandemi influenza H5N1 bagi Amerika Serikat dan bahkan dunia dengan sangat serius. Akan tetapi, yang diperlukan sekarang ini bagaimana agenda pembicaraan tentang isu flu burung antara Presiden Bush dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin, 20 November 2006, di Bogor mampu menguntungkan Indonesia.

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Sejak setahun yang lalu, Presiden Bush telah menyatakan kekhawatirannya bahwa komunitas dunia tidak akan siap menghadapi timbulnya pandemi influenza H5N1 yang jauh lebih hebat dari pandemi influenza Spanyol tahun 1918 yang menimbulkan kematian 50 juta orang di seluruh dunia hanya dalam waktu 18 bulan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa ancaman pandemi influenza pada abad ke-21 ini akan mengakibatkan kematian antara 50 dan 100 juta orang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) memberikan pandangan bahwa strain virus H5N1 yang mematikan ini mampu melampaui jarak jauh dari Asia Tenggara dan Asia Utara sepanjang jalur terbang unggas air liar ke arah Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan dan Afrika. Kemampuan jarak jauh ini berpotensi memicu terjadinya pandemi global.

Reaksi masyarakat AS sendiri terhadap keseriusan Presiden Bush sangat beragam. Setiap pagi masyarakat AS disuguhi berita-berita headline di media cetak dan elektronik yang sifatnya terkini dan sensasional tentang kemungkinan timbulnya pandemi. Berbagai reaksi yang timbul mulai dari yang bersikap tenang-tenang saja, yang berupaya untuk mendapatkan informasi sebaik-baiknya, sampai pada yang berfikir skeptis.

Bahkan, ada juga yang mengatakan bahwa pemerintahan Bush terlalu bereaksi berlebihan atau sebagai upaya pemerintahan Bush untuk mengalihkan sasaran perhatian dari masalah politik yang dihadapi saat ini.

Masyarakat dunia telah mendapatkan peringatan tentang kemungkinan timbulnya pandemi influenza dan saat ini flu burung sudah dianggap sebagai suatu masalah dan tanggung jawab global. Namun demikian, tidak banyak informasi yang bisa dijadikan patokan kapan dan seberapa hebat pandemi akan terjadi. Hanya sedikit sekali ilmuwan yang berani meramalkan waktunya. Dr Marc Siegel, penulis buku False Alarm: The Truth About the Epidemic of Fear memperkirakan, sangat besar kemungkinan pandemi semacam ini akan terjadi 50 tahun lagi dan bahkan mungkin juga 10 atau 20 tahun lagi.

Program Presiden Bush

Pada bulan November 2005, Presiden Bush telah mengumumkan berlakunya Strategi Nasional untuk menghadapi Pandemi Influenza dan sekaligus mengajukan dana darurat yang diperlukan sebesar 7,1 miliar dollar AS kepada Kongres AS. Dana ini dibutuhkan antara lain untuk mempersiapkan stok vaksin cukup untuk melindungi 20 juta rakyat AS dan satu miliar dollar AS untuk obat antiviral.

Presiden Bush pada bulan Mei 2006 telah mengumumkan Rencana Pelaksanaan Strategi Nasional untuk Pandemi Influenza yang akan melibatkan berbagai pihak, baik departemen maupun badan di tingkat federal, negara bagian, maupun institusi di tingkat lokal. Strategi didasarkan atas kesiapsiagaan dan komunikasi, surveilans dan deteksi, dan respons serta penanggulangan wabah.

Untuk menjalankan peran koordinasi upaya respons terhadap flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza, Presiden Bush telah membentuk Action Group to Coordinate U.S. International Effort yang dikoordinir oleh Department of State. Untuk memimpin action group ini telah ditunjuk seseorang yang posisinya disebut Special Representative on Avian and Pandemic Influenza.

Action group ini harus bekerjasama erat dengan Department of Human and Health Service (DHHS), Department of Agriculture (USDA), Department of Homeland Security, Department of Defense, United States Agency for International Development (USAID), dan kelembagaan pemerintah lainnya. Di tingkat internasional, Pemerintah AS telah memprakarsai suatu kerja sama antarnegara yang disebut International Partnership on Avian and Pandemic Influenza (IPAPI) untuk menanggulangi ancaman flu burung, yang diumumkan Presiden Bush pada bulan September 2005.

Awal pandemi

Dengan hampir sepertiga dari kasus kematian pada manusia terjadi di Indonesia dan jumlah ini tercatat paling tinggi di dunia, maka Indonesia diperkirakan akan menjadi negara di mana pandemi influenza berawal. Per November 2006, jumlah kematian manusia karena flu burung di Indonesia mencapai 56 orang. Di seluruh dunia, jumlah kematian seluruhnya 153 orang di sembilan negara.

Dengan melihat situasi terakhir flu burung di Indonesia, maka Pemerintah AS secara tidak langsung juga menyatakan bahwa diperlukan kesungguhan dalam mengatasi masalah ini. Perlu digarisbawahi bahwa Indonesia di satu sisi memiliki keterbatasan dalam sumber daya dan dana untuk mengatasi krisis flu burung, di samping banyaknya masalah bencana nasional dan serangan penyakit menular yang dialami belakangan ini.

Untuk mencegah agar pandemi global tidak terjadi, maka seluruh upaya yang dilakukan untuk memerangi flu burung perlu dikonsolidasikan ke dalam suatu upaya bersama pemerintah, swasta, dan seluruh masyarakat Indonesia serta dukungan dunia internasional. Menurut strategi Pemerintah Indonesia, paling tidak dibutuhkan dana sebesar 900 juta dollar AS sampai dengan tahun 2008. Tahun 2006 ini, Pemerintah Indonesia telah mengalokasikan dana sebesar 57,4 juta dollar AS. Bantuan dari pihak donor internasional maupun bilateral seluruhnya mencapai 35,4 juta dollar AS. Dari bantuan uang (grant aid), sejumlah 14,6 juta dollar AS atau 59 persen berasal dari Pemerintah AS.

Berbasis masyarakat

Sudah jelas pusat gaya berat dari respons pandemi ada di masyarakat, sehingga masyarakatlah yang harus diajak untuk berpartisipasi secara penuh dan aktif, mulai dari upaya melindungi diri sendiri, keluarga, sampai kepada masyarakat di lingkungannya. Dari gambaran perjalanan kasus H5N1 pada manusia di Indonesia sampai saat ini menunjukkan, lebih kurang 60-70 persen dari kasus yang terjadi ada di daerah pedesaan. Ini berarti, penyampaian informasi tentang flu burung harus disebarluaskan sedemikian rupa sehingga penduduk yang hidup di daerah-daerah terpencil memiliki akses terhadap informasi yang diperlukan.

Sejauh ini unggas masih dianggap sebagai sumber penularan ke manusia. Para ahli mengatakan bahwa selama sumber penularan yaitu unggas tidak dapat dihilangkan, maka ancaman penularan ke manusia akan tetap terjadi.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas, Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) yang dibentuk Pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden pada bulan Maret 2006 melakukan refocus terhadap Strategi Nasional Pengendalian Flu Burung 2006–2008.

Bantuan Pemerintah AS untuk penanganan flu burung di Indonesia disalurkan melalui berbagai kelembagaan seperti USAID, USDA, Department of State, U.S. Navy Medical Research Unit (NAMRU-2), dan DHHS melalui Center for Disease Control (CDC) Atlanta. Penyaluran bantuan ini tidak dilakukan secara langsung ke Pemerintah Indonesia, tetapi sebagian besar melalui Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Penyelenggaraan kegiatan yang paling mendasar adalah pelatihan untuk tenaga pelatih (training for trainers), surveilans, dan respons cepat. Pembentukan Pusat Pengendali Penyakit (Local Disease Control Center) di tingkat kabupaten yang difokuskan sementara ini di wilayah-wilayah dengan tingkat kejadian wabah unggas tinggi. Begitu juga pembentukan tim Participatory Disease Surveillance (PDS) dan Participatory Disease Response (PDR) yang merupakan ujung tombak di lapangan bekerjasama dengan masyarakat setempat di tingkat desa.

Kegiatan ini diselaraskan dengan kampanye komunikasi yang juga diterapkan dengan strategi berbasis masyarakat dengan memanfaatkan keikutsertaan tenaga-tenaga sukarelawan yang direkrut dari dua organisasi masyarakat berbasis akar rumput, seperti Muhammadiyah dan Palang Merah Indonesia (PMI).

Keseluruhan bantuan Pemerintah AS yang akan terus berlanjut dalam jangka waktu dua tahun ke depan perlu diketahui efektivitasnya dengan mempelajari kelemahan dan kekuatan serta menganalisis pencapaian keluaran melalui pengukuran indikator kunci keberhasilan. Dengan demikian, Indonesia bisa merasakan manfaat dari bantuan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab dan kerjasama internasional.

*) DRH TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS MPHIL PHD, Wakil Ketua II Pelaksana Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI).

0 Komentar: