EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Rabu, 08 Mei 2013

Ancaman tersembunyi H7N9

K O M P A S, JUMAT, 3 MEI 2013 – RUBRIK OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Kasus pertama infeksi virus influenza A(H7N9) pada manusia dilaporkan terjadi di Provinsi Henan, di wilayah tengah daratan China, pada 14 April 2013.

Kasus itu sesungguhnya sangat mengagetkan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa kita perlu menaruh perhatian besar terhadap peristiwa ini.

Saat ini, turis-turis yang datang ke Dagang, suatu wilayah basah di daratan China, tidak lagi bisa bebas mengambil foto burung-burung liar yang terbang indah di udara. Dagang merupakan jalur burung migran penting di China dan dianggap daerah berbahaya bagi penyebaran virus influenza H7N9.

Bukan hanya itu. Kegiatan lain yang ada hubungannya dengan burung, seperti pemandangan burung liar berterbangan di West Lake, danau air tawar yang terletak di Hangzhou, ibukota Provinsi Zhejiang, tidak terlihat lagi. Mereka dikirim ke kebun binatang lokal agar jauh dari manusia. Meski demikian, para ahli seharusnya masih perlu membuktikan bahwa burung-burung tersebut mampu menyebarkan virus influenza.

Krisis H7N9

Sampai sekarang, infeksi manusia dengan virus influenza A masih sangat jarang. Infeksi umumnya terjadi setelah orang kontak dengan unggas terinfeksi.

Sampai 23 April 2013, 108 kasus influenza A(H7N9) dilaporkan menjangkiti manusia di China dan 22 orang di antaranya meninggal. Ke-108 kasus terkonfirmasi di sejumlah wilayah: Beijing (1), Shanghai (33), Provinsi Jiangsu (24), Zhejiang (42), Anhui (4), Henan (3) dan Shandong (1).

Satu-satunya kasus di luar China terjadi pada seorang Taiwan yang kembali ke negaranya pada 9 April 2013. Orang tersebut diduga terinfeksi di Suzhou City, Provinsi Jiangsu, tempat dia tinggal sejak 28 Maret 2013.

Sesungguhnya kemunculan virus influenza A sangat sulit diprediksi karena kemampuannya bermutasi atau menata ulang gen-gennya, dan juga kemampuannya menulari lintas spesies. Inilah hal nyata dan cukup memusingkan para ahli, terutama dalam upaya menyelidiki penyebab munculnya virus influenza H7N9 di China, awal tahun ini.

Petugas kesehatan mempertanyakan sumber strain virus influenza baru yang menginfeksi manusia di China setelah data mengindikasikan bahwa separuh dari jumlah pasien tidak memiliki kontak dengan unggas. Tidak jelas bagaimana pasien-pasien tersebut terinfeksi. Fakta menunjukkan, virus ini jelas membahayakan kesehatan manusia.

WHO menyatakan, tidak ada bukti mengenai penularan antarmanusia dari virus-virus H7N9 ini. Suatu skenario yang paling ditakuti dunia dalam kaitannya dengan virus influenza abad ini. Virus tetap merupakan virus unggas yang hanya sekali-sekali menginfeksi manusia.

Besar kemungkinannya semua infeksi H7N9 yang menyerang manusia bersifat zoonotik yaitu menular dari hewan ke manusia. Mengingat H7N9 adalah virus berpatogenesitas rendah, unggas yang terinfeksi umumnya tidak menunjukkan gejala sakit. Situasi yang sangat mungkin untuk memfasilitasi penularan ke manusia.

Sulit ditemukan

Satu hal yang cukup merepotkan para ahli adalah fakta yang menunjukkan bahwa jumlah kasus virus influenza H7N9 yang ditemukan pada hewan hanya sedikit sekali dibandingkan pada manusia.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyatakan, tidak seperti halnya virus-virus H5N1, virus-virus H7N9 hanya menampakkan sedikit gejala atau bahkan tanpa gejala sama sekali pada unggas terinfeksi. Suatu kenyataan yang menyulitkan dalam upaya menemukan virus H7N9 melalui surveilans pada hewan.

Sejauh ini, para ahli China belum menemukan virus H7N9 pada burung liar di lokasi-lokasi adanya laporan infeksi manusia. Uji laboratorium menunjukkan, 861 dari 1.300 sampel burung-burung liar hasilnya negatif, sisanya masih diperiksa.

Kementerian Pertanian China mengatakan, hampir 48.000 sampel – diambil dari pasar-pasar unggas hidup, peternakan, dan rumah pemotongan unggas di seluruh China – telah diuji. Dari sejumlah itu, hanya 39 sampel dinyatakan positif, 38 dari pasar unggas hidup di provinsi-provinsi sebelah timur China dimana dilaporkan kasus pada manusia. Hanya satu diisolasi dari burung merpati di Provinsi Jiangsu.

Investigasi sumber virus

Para peneliti China mulai menginvestigasi sumber virus H7N9 yang menyebabkan infeksi pada manusia bulan April ini. Mereka mengambil 970 sampel, termasuk sampel air minum, tanah, dan sampel usap kloaka dan trachea unggas dari pasar unggas hidup dan peternakan unggas di Provinsi Shanghai dan Anhui. Ternyata 20 sampel positif virus H7N9 dan semua sampel tersebut berasal dari pasar unggas hidup di Shanghai.

Pada hubungan filogenetik antara isolat virus H7N9 dari hewan dan virus yang menyebabkan infeksi pada manusia diperiksa, ditemukan bahwa keseluruhan 8 segmen yang membentuk kedua virus tersebut saling berbagi gen yang sama. Dengan demikian, para ahli berhasil mengidentifikasi adanya sumber langsung virus H7N9 unggas yang menyebabkan infeksi pada manusia.

Suatu kesimpulan yang menguatkan bahwa adalah penting mengambil tindakan untuk mengendalikan penyebaran virus-virus H7N9 pada manusia dan unggas untuk mencegah ancaman lebih lanjut terhadap kesehatan manusia.

H5N1, H7N7 dan H1N1

Pendahulu dari virus-virus influenza yang mampu menyerang manusia adalah virus H5N1 yang sejak 2003 sampai saat ini masih endemik di populasi unggas di sebagian besar wilayah Asia. Dunia harus bersyukur virus ini belum beradaptasi ke manusia, dan penularan manusia ke manusia masih sangat terbatas.

Kedua, virus H7N7 yang dilaporkan di Belanda pada 2003 dengan sejumlah kecil kasus infeksi pada manusia dan kebanyakan gejalanya sangat ringan.

Ketiga, virus H1N1 yang muncul pada 2009 kemudian berhasil beradaptasi ke manusia dan menyebabkan pandemi.

Dari ketiga peristiwa itu, sejumlah pertanyaan bisa diajukan terkait kemunculan virus H7N9 saat ini. Apakah kemudian terbukti virus ini mampu dikendalikan? Apakah akan mengendap dalam populasi hewan seperti halnya virus H5N1? Ataukah beradaptasi ke manusia secara stabil dan menyebabkan pandemi seperti virus H1N1?

Seperti yang kita lihat pada peristiwa H5N1 dan H7N7 sebelumnya, kedua virus masih pada tahap awal sekali menuju proses adaptasi ke manusia secara utuh. Apabila waktu lalu dunia bereaksi berlebihan terhadap kemunculan H1N1, sekarang kita tidak perlu mengulang kesalahan dengan justru kurang bereaksi terhadap H7N9.

Harapan para ahli adalah H7N9 akan tetap menjadi virus hewan dari fakta yang ditunjukkan bahwa virus tersebut telah bersirkulasi paling tidak selama dua bulan ini tanpa adaptasi secara stabil ke manusia. Satu hal yang bisa menjadi indikasi bahwa hambatan lompatan spesies masih terlalu besar untuk memungkinkan penularan antarmanusia.

TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
Pengamat Epidemiologi Penyakit
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies

0 Komentar: