EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 14 Maret 2010

Tren Pasar Kerja Lulusan Kedokteran Hewan

Tri Satya Putri Naipospos

Dokter hewan merupakan sumberdaya nasional yang unik, oleh karena mereka adalah satu-satunya profesional kesehatan yang dididik dalam ‘multi species comparative medicine’. Salah satu langkah pemikiran mengenai masa depan profesi dokter hewan adalah perlunya mengeksplorasi tren pasar kerja yang sedang berlangsung.

Dengan latar belakang pendidikan tersebut, profesi dokter hewan harus mampu membuat kaitan yang sangat khusus antara pertanian dan kedokteran manusia. Pemanfaatan dari kaitan ini sudah berjalan secara ekstensif dengan berbagai keuntungan yang dirasakan oleh masyarakat. Pada kenyataannya, dukungan masyarakat terhadap pendidikan kedokteran hewan, seperti yang dapat dilihat dari sejarah, adalah keterkaitan profesi tersebut dengan produksi pangan dan pengendalian penyakit zoonosis.

Peran dokter hewan yang utama adalah dalam pemeliharaan kesehatan hewan kesayangan, hewan ternak, hewan kebun binatang, hewan olah raga dan hewan laboratorium, baik yang hidup di darat, di air, maupun di udara.

Hampir seperempat abad terakhir, dengan pola kehidupan masyarakat Indonesia yang mulai berubah, kedokteran hewan dan kelembagaan pendidikannya dalam pengertian yang luas merefleksikan perubahan tersebut. Urbanisasi dan peningkatan kemakmuran mendorong kenaikan permintaan terhadap perawatan dan pelayanan medik bagi hewan kesayangan (companion animal).

Pada saat yang sama, timbul kebutuhan nasional yang kritis akan dokter hewan di bidang kesehatan masyarakat (public health), keamanan dan ketahanan pangan (food safety and security), kesehatan hewan, dan kesehatan hewan perbandingan (comparative medicine). Di sisi lain, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa jumlah dan mutu dokter hewan yang ada sekarang semakin menunjukkan tingkat yang mengkhawatirkan.

Seperti diketahui tren adalah pola yang berubah dari urutan kepentingan menurut waktu. Tulisan ini mencoba untuk membahas pasar kerja lulusan kedokteran hewan di masa lalu, saat ini dan pandangan ke depan. Meskipun hanya didasarkan atas kajian pribadi dan bukan data primer dari lapangan, akan tetapi diharapkan dapat menyumbangkan suatu pemikiran kepada profesi dokter hewan ke depan.

Tren sosial

Kesuksesan masa depan profesi dokter hewan sangat ditentukan oleh bagaimana profesi ini menjawab tantangan perubahan kebutuhan dan harapan yang ada di masyarakat. Banyak masalah yang terjadi di masa lalu dan bahkan masih berlangsung sampai dengan saat ini yang menyangkut struktur kelembagaan pelayanan kesehatan hewan yang kurang efisien, begitu juga praktek dan sikap bisnis yang kurang tepat, dan profesionalisme yang tidak memadai.

Tren sosial yang mempengaruhi profesi dokter hewan saat ini antara lain perhatian yang lebih tinggi terhadap isu lingkungan dan keamanan pangan, polarisasi antara segmentasi agri-bisnis versus pola budidaya ternak (life-style farming), peningkatan akses terhadap informasi melalui teknologi elektronik, peningkatan skala usaha, dan industrialisasi pertanian.

Sebagai akibat pengaruh tren sosial tersebut, maka terjadi pergeseran peran dokter hewan dari isu-isu kesehatan hewan (animal health issues) ke isu-isu kesehatan masyarakat (public health issues). Dengan demikian pergeseran ini mendorong timbulnya spesialisasi dokter hewan yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai kepentingan yang ada di masyarakat.

Tren kebutuhan dokter hewan

Dengan melihat demografi penduduk dan tren pendapatan di Indonesia, maka pertumbuhan permintaan akan dokter hewan sampai dengan tahun 2020 didorong terutama oleh permintaan pelayanan kesehatan hewan kesayangan. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah apakah hal ini berkorelasi dengan kecenderungan lebih banyaknya jumlah lulusan kedokteran hewan wanita saat ini.

Populasi hewan kesayangan dan kepemilikan 1980-2005 di Indonesia menunjukkan bahwa ada perubahan dalam jumlah dan jenis hewan kesayangan yang dipelihara. Pergeseran terjadi dari kesukaan memelihara hewan kesayangan tradisional seperti anjing dan kucing, menjadi hewan kesayangan eksotik seperti burung, ikan, musang, dan reptilia lainnya.

Pada saat ini kebutuhan akan dokter hewan dirasakan terjadi di berbagai segmen baik praktek swasta, industri dan pemerintah. Kebutuhan ini mencakup delapan kelembagaan pemerintah, delapan segmen industri, dan berbagai praktek swasta (rumah sakit hewan, klinik hewan, laboratorium swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat dan sebagainya).

Dokter hewan di pemerintahan

Delapan kelembagaan pemerintah yang dimaksud mencakup Departemen Pertanian, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Kesehatan, Dinas yang menangani fungsi kesehatan hewan di Propinsi, Kabupaten/Kota, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kepolisian, dan perguruan tinggi.

Disamping pengetahuan umum mengenai administrasi publik, berbagai spesialisasi dibutuhkan untuk menangani berbagai bidang di kelembagaan pemerintah, baik yang menyangkut pelayanan administrasi, pelayanan teknis maupun penelitian. Berbagai pengetahuan mencakup kesehatan masyarakat (public health) dan penyakit zoonosis, epidemiologi, termasuk investigasi wabah dan kesiagaan penyakit (disease preparedness).

Untuk mendukung kebijakan penolakan penyakit terutama yang berasal dari luar negeri, maka diperlukan pengetahuan mengenai analisa risiko (risk analysis), keamanan pangan (food safety), dan kesejahteraan hewan (animal welfare).

Selain itu, tergantung kepada bidang yang dimasuki, maka masing-masing dokter hewan membutuhkan pendalaman terhadap beberapa ilmu pengetahuan dasar yang diperoleh di pendidikan, seperti toksikologi, patologi, bakteriologi, virulogi, immunologi, reproduksi dan inseminasi buatan, serta transfer embrio.

Keahlian tertentu dibutuhkan apabila memasuki bidang-bidang yang lebih spesifik lagi, seperti produksi vaksin, perbibitan (animal breeding), pengujian mutu obat hewan (veterinary drug assay), penyakit ikan (fish diseases), hewan percobaan (laboratory animal medicine), penelitian biomedik (seperti bioteknologi peternakan, biologi molekuler, immunologi), dan hewan transgenik.

Dokter hewan di industri

Delapan segmen industri yang membutuhkan dokter hewan terdiri dari industri obat hewan, industri produsen ternak, industri pengolah/pengemas, industri penyedia bahan dan peralatan medik, industri penyedia fasilitas penelitian medik, industri pakan ternak, perusahaan bioteknologi, dan perusahaan produk hewan kesayangan (pet product).

Saat ini profesi dokter hewan dituntut untuk menyediakan pelayanan yang lebih spesifik bagi industri dibandingkan dengan dahulu. Dengan tren spesialisasi yang semakin meningkat ini, maka kesempatan bagi dokter hewan untuk bidang spesialisasi baru akan semakin banyak pula. Hal ini juga bergantung kepada industri produsen ternak yang dimasuki, baik itu industri sapi potong, sapi perah, babi maupun ayam.

Khusus dalam teknologi industri pangan yang semakin maju (global food industry), maka peran profesi dokter hewan sangat diperlukan dalam melegitimasi dan mengefektifkan seluruh mata rantai pengendalian keamanan pangan (food safety control). Di mulai dari peternakan (farm), kemudian selama proses pengangkutan dan penanganan, termasuk pemotongan yang humanis (humane), setiap tahapan penanganan dan pemrosesan di pabrik (plant), transportasi sampai ke pasar, distribusi, retail, serta penyiapan dan penanganan akhir. Dalam hal ini dokter hewanlah yang harus memiliki peranan yang semakin penting dan bahkan memimpin dalam konsep industri pangan modern ”from Farm to Consumer”.

Berbagai bidang keahlian di industri pangan yang perlu mendapatkan pelayanan dokter hewan yang dapat dianggap sebagai peluang pasar kerja adalah keamanan pangan (food safety), termasuk pengawasan mutu produk (quality control) dengan penerapan sistem Hazard Analytical Critical Control Point (HACCP).

Khusus untuk dokter hewan yang bekerja di industri obat hewan, maka diperlukan pemahaman yang mendalam tentang keamanan obat hewan (veterinary drug safety), termasuk inspeksi plant dengan penerapan Good Management Practice (GMP), efikasi penggunaan obat hewan untuk pelayanan medik dan keamanan pakan (feed safety), termasuk mekanisme resistensi obat hewan (drug resistance).

Pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh dokter hewan di industri adalah mikrobiologi, toksikologi, farmakologi, dan penyakit ikan (fish diseases), termasuk aquaculture. Selain itu di bidang peternakan lainnya yang memerlukan campur tangan dokter hewan dengan keahlian khusus berupa solusi terhadap masalah lingkungan, inovasi reproduksi (perbibitan sapi, unggas, ruminansia kecil).

Beberapa pengetahuan tambahan yang diperlukan untuk meningkatkan posisi tawar profesi dokter hewan dalam peluang pasar kerja di industri, yang tidak kalah pentingnya dengan pengetahuan teknis adalah manajemen, sistem produksi ternak (livestock production system), analisa risiko (risk analysis), ekonomi, dan pemasaran (marketing).

Dokter hewan praktek swasta

Pasar kerja dokter hewan praktek swasta terutama sangat terbuka dengan dukungan industri obat hewan serta industri penyedia bahan dan peralatan medik yang dapat mendorong terwujudnya pelayanan yang profesional dan mandiri. Bidang spesialisasi sangat bergantung kepada pasar kerja yang tersedia, mulai dari pelayanan medik oleh individual, kelompok (klinik dan rumah sakit), pet shop, kebun binatang, pusat olahraga kuda, sirkus maupun LSM.

LSM yang memerlukan dokter hewan sangat bervariasi mulai dari yang bergerak di bidang pengembangan ternak dengan pendekatan community work, konservasi, rehabilitasi primata, rehabilitasi satwa liar dan sebagainya.

Spesialisasi yang diperlukan untuk mendukung pasar kerja swasta tersebut adalah medik hewan kecil (small animal medicine), medik hewan besar (large animal medicine), medik perkudaan (horse medicine), medik hewan eksotik (exotic animal medicine), medik satwa liar (wild life medicine), dan medik hewan air (water animal medicine).

DRH TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS MPHIL PHD
Direktur Kesehatan Hewan
Direktorat Jenderal Peternakan
Departemen Pertanian

2 Komentar:

dedy sp [Reply] mengatakan...

Informasi yang sangat bermanfaat khususnya bagi para calon dokter hewan yang sedang menempuh pendidikan. Ternyata bidang profesi veteriner sangatlah luaskfourth

dedy sp [Reply] mengatakan...

Informasi yang sangat bermanfaat khususnya bagi para calon dokter hewan yang sedang menempuh pendidikan. Ternyata bidang profesi veteriner sangatlah luas