EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 07 Maret 2010

Strategi mengurangi risiko penyakit dengan fokus pada interaksi manusia, hewan dan lingkungan – Kontribusi bagi konsep “One World, One Health”

Peringatan Ulang Tahun ke-3 Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS). Seminar Setengah Hari dengan tema "Konsep 'One Health' dalam rangka penanggulangan penyakit zoonosis" di Bogor, 20 Desember 2008.

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Di abad ke-21 ini, sejumlah penyakit baru muncul (emerging diseases) dalam kecepatan yang sulit diduga pada populasi hewan maupun manusia telah menyebabkan berbagai gangguan dan ketidaknyamanan bagi kehidupan dunia. Baik disebabkan oleh agen penyakit yang dahulu diketahui sudah ada, tetapi kemudian menemukan populasi induk semang baru atau muncul di wilayah geografis yang sama sekali tidak pernah tertular sebelumnya.

Dari kiri ke kanan: Prof Dr dr Nasrin Kodim MPH (FKM UI), Drh Tri Satya Putri Naipospos MPhil PhD (CIVAS), Prof Drh Bambang Ponco Priosoeryanto MS PhD (FKH IPB), Drh Bagoes Poermadjaja MSc (Direktorat Kesehatan Hewan Departemen Pertanian) dan Drh Wilfried Purba MKes (Direktorat P2B2 Departemen Kesehatan)

Disadari atau tidak, kemunculan berbagai penyakit baru terutama yang dapat menular ke manusia (zoonosis) berlangsung paralel dengan fenomena kehidupan yang terjadi di sekeliling kita.

Indikasi yang kemudian memunculkan persepsi para ahli bahwa musuh dunia yang paling berbahaya di masa mendatang mungkin bukan perang dunia berikutnya, bom nuklir atau bahkan terorisme, tetapi hal-hal yang sifatnya sangat alamiah yaitu bahaya munculnya penyakit baru (Brown, 2004).

Secara historis dipelajari bahwa berbagai penyakit baru maupun penyakit yang dulu sudah diketahui kemudian muncul kembali (emerging and reemerging diseases) bersumber dari apa yang dikenal dengan istilah “zoonotic pool”. Suatu sumber yang kaya dan berpotensi sebagai penghasil mikroorganisme penyebab zoonosis apabila ditemukan kondisi yang tepat untuk berjangkit.

Sampai dengan saat ini diketahui ada sekitar sejuta organisme yang hidup di dunia ini, mulai dari jamur, algae, insekta, arthropoda, protozoa, bakteri, virus dan lain sebagainya. 99,8% dari jumlah tersebut masih ditemukan sampai dengan saat ini (Morse,1995).

Zoonosis yang muncul di dekade belakangan ini telah menciptakan suatu lensa kaleidoskop baru di dalam kita memandang dunia ini. Kemunculan penyakit-penyakit baru diprediksi bukan hanya akan terus berlanjut, tetapi kemungkinan juga meningkat dengan kecepatan tertentu. Oleh sebab itu suatu tantangan baru bagi kita adalah bagaimana agar lensa kaleidoskop bisa diubah menjadi suatu bola kristal, sehingga kita mampu melihat secara lebih jelas seperti apa kemunculan zoonosis baru akan mempengaruhi masa depan dunia.

Zoonosis

Pengertian zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan secara alamiah antara manusia dan hewan domestik atau satwa liar. Sebenarnya dalam pengertian tersebut terkandung beberapa perbedaan sesuai dengan gambaran epidemiologi penyakit (Slingenbergh et al, 2004).

Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada 1.415 spesies yang mampu menular ke manusia, terdiri dari 217 virus dan prion, 538 bakteri dan rickettsia, 307 jamur, 66 protozoa dan 287 jenis cacing.

Dari jumlah 1.415 spesies tersebut diatas, 868 (68%) diklasifikasikan sebagai agen penyebab zoonosis dan 175 spesies patogen diasosiasikan dengan penyakit baru. Dari kelompok 175 patogen yang baru muncul ini, 132 (75%) adalah agen penyebab zoonosis (Cleaveland et al, 2001).

Sejumlah agen penyebab zoonosis lebih banyak memanfaatkan tubuh hewan sebagai ‘reservoir’, kasus pada manusia sangat jarang terjadi atau hanya menjadi sasaran akhir (dead end), contohnya seperti anthrax, rabies, West Nile dan Nipah/Hendra. Agen penyebab zoonosis yang lain hidup dengan baik dalam tubuh hewan maupun manusia, contohnya seperti bovine tuberculosis atau salmonellosis.

Sebaliknya ada agen penyakit yang berada di posisi ditengah dimana hewan sebagai induk semang utama, tetapi wabah kadang-kadang terjadi pada manusia, hanya perluasan rantai penularannya lambat laun padam, contohnya seperti monkeypox, Hanta, Lassa dan Ebola.

Begitu juga ada sejumlah agen penyebab zoonosis yang secara bertahap beradaptasi terhadap penularan dari manusia ke manusia dan saat ini sudah biasa menular antar manusia, contohnya seperti tuberculosis. Akhirnya ada juga sejumlah patogen asal hewan yang secara tiba-tiba muncul di populasi manusia, contohnya seperti human immunodeficiency virus (HIV), influenza tipe A dan severe acute respiratory syndrome (SARS).

Faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit baru

Sebagaimana halnya dunia kita yang selalu berubah, organisme hidup juga mengalami evolusi yang terus berlanjut. Evolusi yang sangat terkait dengan perubahan ekologi atau kondisi lingkungan dimana kita hidup.

Pada dasarnya dunia kita berubah tidak lagi seperti sebelumnya. Berbagai perubahan yang terjadi ditandai dengan pertumbuhan populasi manusia, perubahan iklim, masyarakat semakin ‘mobile’, mikroba beradaptasi, risiko kimia, radiasi dan pangan semakin meningkat, serta ketahanan kesehatan manusia terhadap berbagai penyakit juga berubah.

Di dekade ini berbagai faktor diketahui berkontribusi terhadap kemunculan penyakit baru atau penyakit yang sudah ada tetapi muncul kembali. Faktor ekologi seperti perubahan demografi dan ekosistem dianggap sebagai faktor utama yang berperan dalam memunculkan penyakit. Populasi dunia akan meningkat dari 6,5 milyar saat ini menjadi 9 milyar di tahun 2050. Sebagai akibatnya permintaan protein hewani akan meningkat, sehingga mendorong peningkatan perdagangan dan konsolidasi kemitraan rantai pangan internasional.

Tingkat urbanisasi yang tinggi di negara-negara berkembang juga mempengaruhi kemunculan zoonosis. Di tahun 2000 ada 47% penduduk dunia yang tinggal di wilayah urban dan akan meningkat menjadi 60% pada tahun 2030.

Faktor sosial, ekonomi dan politik seperti perjalanan internasional dan perdagangan, kemiskinan dan ketimpangan sosial serta pengungsian besar-besaran akibat bencana alam ataupun perang juga berpengaruh terhadap kemunculan penyakit. Pergerakan orang dari satu benua ke benua lainnya tergambar dari jaringan lalu lintas udara yang saling mengait, sambung menyambung dan tidak pernah terputus. Tidak ada satu wilayahpun di dunia yang dianggap terpisah jauh dan tidak seorangpun diperkirakan bisa terputus dengan lainnya.

Kecepatan perjalanan global sebanding dengan pertumbuhan populasi dunia. Data menunjukkan bahwa ada sekitar 689 juta orang melakukan perjalanan internasional dengan penumpang pesawat udara sekitar 1,4 milyar per tahun.

Dengan percampuran berbagai spesies baik yang ditujukan untuk perdagangan, kepuasan pribadi atau kemajuan teknologi telah menyebabkan pula mikroorganisme berpindah untuk menemukan tempat yang cocok. Perpindahan mikroorganisme seringkali memicu timbulnya patogenisitas, sehingga memungkinkan berjangkitnya penyakit.

Tabel 1: Faktor yang berkontribusi terhadap kemunculan penyakit (King, 2005)



Tabel 1 menggambarkan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kemunculan penyakit secara berurutan mulai dari yang tertinggi yaitu perjalanan internasional dan perdagangan (77%) sampai kepada yang terendah perusakan secara sengaja (18%).

Globalisasi berhasil menciptakan kekuatan pasar yang bukan hanya mengaitkan industri dengan budaya, tetapi juga dengan organisme. Dunia semakin tidak mengenal batas dan memunculkan sebutan dunia sebagai suatu “global village”. Hal yang menyebabkan semua bangsa di dunia rentan terhadap zoonosis, bukan hanya terhadap ancaman invasi patogen ke wilayah teritorialnya akan tetapi juga goncangan ekonomi, politik dan sosial yang bakal terjadi (Brown, 2004).

Pergerakan hewan juga berpotensi memunculkan penyakit dan volume perdagangan hewan di seluruh dunia terus meningkat. Hewan yang ditransportasikan bisa meliputi ternak dan unggas, hewan eksotik sebagai hewan peliharaan, hewan kesayangan dan satwa liar.

Pada tahun 2007 lalu, lebih dari 21 milyar hewan pangan diproduksi untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 6 milyar penduduk dunia dengan nilai mencapai trilyunan dollar AS yang didistribusikan ke seluruh dunia. Revolusi peternakan yang bakal terjadi di dekade ini mengindikasikan bahwa berdasarkan proyeksi permintaan protein hewani akan meningkat 50% di tahun 2020, terutama di negara berkembang.

Begitu juga perdagangan hewan eksotik, dimana setiap tahunnya 4 juta burung, 640 ribu reptil, 40 ribu primata dan termasuk juga perdagangan ilegal yang diestimasi bernilai sekitar 4-6 milyar dollar AS.

Gambar 1 dibawah ini menunjukkan bagaimana gambaran keterkaitan antara tiga dimensi penyakit yang baru muncul pada manusia, hewan domestik dan satwa liar serta faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan penyakit tersebut.



Gambar 1: Keterkaitan penyakit yang baru muncul pada manusia, hewan dan satwa liar serta faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan penyakit tersebut (Daszak et al, 2000)

Interaksi ternak dan satwa liar

Isu kesehatan hewan bukan hanya penting bagi industri pertanian, tetapi juga bagi konservasi satwa liar. Faktor yang menjadi kepedulian bagi kedua sektor ini adalah dampak dari berbagai penyakit hewan yang bisa menjangkiti satwa atau populasinya. Tidak tertutup kemungkinan terjadi interaksi antara hewan industri dengan satwa liar yang bisa menyebabkan introduksi dan penularan penyakit antar keduanya.

Sejumlah penyakit penting yang dikaitkan dengan satwa liar diketahui menyebabkan penyakit pada hewan domestik. Faktor yang bertanggung jawab dalam memunculkan wabah bisa bersifat kontak langsung atau tidak langsung (melalui vektor) antara satwa liar atau populasi satwa liar yang terinfeksi dengan hewan domestik yang peka pada habitat dimana keduanya bertemu. Umumnya percampuran terjadi di wilayah terbuka dimana hewan domestik biasa hidup atau dimana satwa liar biasa diburu. Penularan bisa juga melalui sumberdaya air yang digunakan bersama (Bengis et al, 2002).

Penyakit-penyakit yang umumnya ditularkan dari satwa liar ke hewan domestik diantaranya yang penting adalah Penyakit mulut dan kuku (PMK), trypanosomiasis, African swine fever, Rift Valley fever, Bluetongue, Lumpy skin disease, Malignant catarrhal fever dan lain sebagainya. Mekanisme penularan bisa terjadi melalui aerosol atau kontaminasi sumber air dan padang terbuka seperti halnya pada PMK. Kemungkinan lain adalah lewat vektor seperti African swine fever, Rift Valley fever atau trypanosomiasis.

Zoonosis satwa liar

Sejak dahulu diketahui bahwa satwa liar juga bertindak sebagai sumber zoonosis, baik penyakit yang sudah diketahui sebelumnya maupun penyakit baru. Faktor yang memicu timbulnya zoonosis bersumber dari satwa liar diantaranya adalah ekspansi populasi manusia dan penguasaan manusia terhadap habitat satwa liar. Campur tangan manusia tersebut diantaranya meliputi kegiatan pertambangan dan perambahan hutan, perubahan praktek-praktek pertanian, perdagangan satwa liar dan translokasi satwa liar (Chomel, 2007).

Zoonosis yang berkaitan dengan habitat satwa liar, contohnya seperti rabies yang bersumber dari kelelawar atau serigala. Penyakit satwa liar yang ditularkan melalui vektor seperti Lyme disease dan ehrlichioses atau juga penyakit parasit seperti Baylisascaris procyonis. Tuberculosis pada rusa liar atau babi hutan atau ‘possum’. Begitu juga penyakit yang ditularkan dari monyet liar yang hidup di hutan, seperti Human T-lymphotropic virus (HTLV) atau Ebola.

Begitu juga SARS yang baru ditemukan belakangan ini dikaitkan dengan perdagangan carnivora liar dan yang diduga sebagai ‘reservoir’ adalah musang. Penyebaran Avian influenza ke wilayah lain di belahan dunia, juga dikaitkan dengan migrasi burung liar.

One Health

Wabah virus West Nile, Ebola hemorrhagic fever, SARS, monkeypox, Bovine spongiform enchelopathy (BSE), dan avian influenza yang muncul belakangan ini mengingatkan kita bahwa ada keterkaitan yang esensial antara kesehatan manusia, hewan domestik dan satwa liar. Oleh sebab itu penanganan wabah mau tidak mau harus dilakukan dengan suatu pendekatan terpadu antara kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang disebut ‘One Health’.

One Health’ adalah upaya kerjasama multi disiplin dan lintas sektor baik di tingkat lokal, nasional dan internasional guna mencapai kesehatan optimal manusia, hewan dan lingkungan. Konsep ini diwujudkan dalam bentuk integrasi yang kuat dan sinergis antara bidang kedokteran dan kedokteran hewan dalam memerangi zoonosis dengan membangun kolaborasi, koalisi dan komunikasi antar dokter, dokter hewan, ahli kesehatan masyarakat, ahli kesehatan lingkungan dan lain sebagainya.

Perwujudan ‘One Health’ juga dilakukan dengan membangun sumber pengetahuan bersama terutama di bidang epidemiologi, mikrobiologi, patologi, bio-molekuler, komunikasi risiko dan lain sebagainya, serta pelaksanaan studi zoonotik yang berjalan simultan terhadap orang, hewan domestik dan satwa liar.

Fenomena seperti punahnya sejumlah spesies, degradasi habitat, polusi, invasi spesies asing, dan perubahan iklim global secara mendasar telah merubah kehidupan planit kita. Semuanya terpengaruh, mulai dari kehidupan di perkotaan yang padat penduduk, samudera yang dalam sampai kehidupan di hutan belantara yang masih liar sekalipun.

Kenaikan penyakit baru dan penyakit lama yang muncul kembali bukan hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga fauna dan flora. Fauna dan flora secara kritis memerlukan biodiversitas yang mampu mendukung seluruh kehidupan mahluk hidup di dunia. Zoonosis yang sangat berbahaya memiliki kekuatan untuk menganggu keseluruhan sistem global sedemikian rupa, sehingga perang melawan zoonosis tidak bisa ditangani hanya oleh satu bangsa saja.

Untuk memerangi penyakit di abad ke-21 ini, sambil menjamin bahwa integritas bumi untuk generasi berikutnya tidak terganggu, diperlukan suatu pendekatan interdisipliner dan lintas sektoral terhadap pencegahan penyakit, surveilans, monitoring, pengendalian dan pengurangan risiko dan juga konservasi lingkungan.

Sudah jelas bahwa tidak ada satu disiplin ilmu atau satu sektorpun yang memiliki pengetahuan dan sumberdaya yang memadai untuk mencegah penyakit baru muncul atau kembalinya penyakit yang dahulu pernah berjangkit. Tidak ada satu bangsapun di dunia yang dapat mengembalikan kelestarian dan mencegah rusaknya habitat dengan mengabaikan kesehatan manusia, hewan domestik dan satwa liar.

Dengan memutus halangan struktural, birokrasi, politik maupun kultural yang terjadi di antara berbagai lembaga, individu, spesialisasi dan sektor, maka semua inovasi dan keahlian yang diperlukan dapat disalurkan untuk menjawab berbagai tantangan serius yang mengganggu kesehatan manusia, hewan domestik dan satwa liar serta integritas ekosistem bumi.

Strategi ‘One Health’ dari sudut pandang kedokteran hewan

Pada dasarnya, strategi ‘One Health’ dititikberatkan pada empat hal dibawah ini yaitu:
1. Reduksi risiko pada posisi keterkaitan antara manusia, hewan dan lingkungan (animal human ecosystems interface);
2. Surveilans terpadu untuk deteksi dini dan peringatan dini;
3. Respon terpadu dalam menangani wabah; dan
4. Kerjasama penelitian pada posisi keterkaitan hewan, manusia dan lingkungan.

Untuk menjalankan strategi ‘One Health’ sudah jelas diperlukan kader-kader dokter hewan yang punya pengetahuan dan ketrampilan yang dipersiapkan dengan matang, baik yang berkarier di pemerintahan maupun swasta. Hal lain yang diperlukan adalah kepemimpinan yang kuat dengan kemampuan advokasi dan penguasaan keahlian dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan zoonosis yang sifatnya endemik, eksotik maupun penyakit baru.

Kerangka strategi diatas menekankan pada penanganan sejumlah faktor pendorong timbulnya, menyebarnya dan bertahannya suatu penyakit yang baru muncul. Tujuan dari kerangka ini adalah membangun pola terbaik dalam mengurangi risiko dan meminimalkan dampak global epidemi dan pandemi yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Tujuan dicapai melalui upaya peningkatan terpadu penyelidikan penyakit (disease intelligence), surveilans lintas spesies serta sistem kesiapsiagaan dan respon darurat (emergency preparedness and response).

Dalam implementasinya, upaya diatas dapat dilakukan apabila didukung oleh sistem kesehatan hewan nasional yang kuat dan stabil serta komunikasi kesehatan hewan yang efektif. Konsep ‘Performance of Veterinary Services’ (PVS) yang menetapkan kualitas dan tingkat kompetensi berdasarkan standar internasional yang diterbitkan OIE harus diadopsi oleh setiap negara. Konsep ini paralel dengan International Health Regulation (IHR) yang diterbitkan oleh WHO.

Saat ini dunia sepakat untuk memberlakukan sistem kesehatan hewan nasional sebagai suatu ‘international public good’. Ini berarti sistem ini menyangkut kepentingan semua negara, semua orang dan bahkan antar generasi. Suatu negara yang gagal melaksanakan sistem ini akan memberikan dampak kepada seluruh planit.

Disamping itu kerjasama penelitian diperlukan untuk memahami berbagai aspek seperti faktor pemicu dan sumber munculnya penyakit, faktor penyebaran, faktor bertahannya penyakit, biologi patogen pada sistem yang berbeda, pengembangan alat baru untuk diagnosis dan pencegahan, studi sosio-ekonomi dan budaya serta studi kompleksitas dan keragaman institusional.

Keluaran potensial yang bisa diperoleh dari ‘One Health’ mencakup perluasan ruang lingkup dan penguatan pendidikan kedokteran dan kedokteran hewan, perbaikan tindakan pencegahan dan manajemen pasien yang berisiko terinfeksi zoonosis, perbaikan deteksi dini dan pengendalian zoonosis, perbaikan tingkat cakupan vaksinasi, perbaikan pengembangan diagnostik, therapeutik dan peralatan melalui penelitian biomedik terpadu.

Kesimpulan

Di abad ke-21 ini, era zoonosis akan terus berlanjut. Faktor–faktor yang berkontribusi dan memicu terjadinya era tersebut tidak memperlihatkan gejala akan berkurang. Pengalaman dengan wabah zoonosis yang muncul di era ini menunjukkan bahwa penyakit secara cepat menyebar ke berbagai belahan dunia. Signifikansi dan implikasi zoonosis yang baru muncul meningkat secara cepat baik lingkup, skala maupun kepentingannya.

Sekarang ini kita berada di era ‘One World, One Health” yang menuntut kita untuk lebih adaptif, melihat ke depan, dan dengan solusi multi disiplin untuk menjawab tantangan zoonosis yang tidak diragukan lagi menghadang di depan kita.

Referensi
1. Bengis R.G., Kock R.A. & Fischer J. (2002). Infectious animal diseases: the wildlife/livestock interface. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 21 (1), 53-65.
2. Brown C. (2004). Emerging zoonoses and pathogens of public health significant – an overview. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 23 (2), 435-442.
3. Cleaveland D., Laurenson M.K. & Taylor M.H. (2001). Diseases of humans and their domestic mammals: pathogen characteristics, host range and the risk of emergence. Philos. Trans. roy. Soc. Lond., B, biol. Sci., 356 (1411), 991-999.
4. Chomel B.B. (2007). Wildlife zoonosis. Emerg. infect. Dis., 13 (1).
5. Daszak P., Cunningham A.A. & Hyatt A.D. (2000). Emerging infectious diseases of wildlife – threats to biodiversity and human health. Science 287 (5452), 443-449
6. FAO, OIE, WHO, UNICEF, UN System Influenza Coordination and the World Bank (2008). Contributing to One World, One Health: A Strategic Framework for Reducing Risks of Infectious Diseases at the Animal–Human–Ecosystems Interface. Consultation document.
7. Morse S.S. (1995). Factors in the emergence of infectious diseases. Emerg. infect. Dis., 1 (1), 7-15.
8. OIE and FAO (2007) ‘Ensuring good governance to address emerging and re-emerging animal disease threats – supporting the veterinary services of developing countries to meet OIE international standards on quality’ (revised September 2007).
9. Slingenbergh J., Gilbert M., de Balogh K. & Wint W. (2004). Ecological sources of zoonotic diseases. Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz., 23 (2), 467-484.

0 Komentar: