EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 07 Maret 2010

Evolusi Virus Influenza A-H1N1

KOMPAS, 6 Mei 2009 – RUBRIK HUMANIORA
Rabu, 6 Mei 2009 | 03:25 WIB

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Para ahli dunia mengatakan, banyak faktor yang memengaruhi dan mengawal epidemiologi dan evolusi virus influenza A-H1N1 sampai pada bentuknya sekarang.

Lebih lanjut dikatakan, apabila strain baru yang berbahaya meloncat kembali ke manusia, sudah pasti akan timbul konsekuensi mengerikan.

Wabah influenza A (H1N1) di Meksiko dan Amerika Serikat yang menular dari manusia ke manusia membuat dunia khawatir akan potensinya menyebar ke seluruh dunia. Pastinya penyebab wabah ini tidak sama dengan virus influenza klasik yang biasa menyerang manusia (seasonal influenza).

Sejak dulu para ahli mengetahui bahwa virus influenza mempunyai kemampuan saling mempertukarkan komponen genetik satu sama lain. Kelihatannya yang terjadi dalam wabah kali ini sangat unik karena penyebab wabah adalah virus influenza tipe A H1N1 strain baru yang dihasilkan dari percampuran berbagai versi virus influenza yang biasanya menyerang berbagai spesies (manusia, unggas, dan babi) tanpa memiliki riwayat kontak dengan babi.

Evolusi virus influenza sangat ditentukan oleh peran babi yang bertindak sebagai reservoir utama dari virus ini dan babi juga memainkan peranan penting dalam ekologi virus influenza manusia. Virus influenza H1N1 dan H3N2 sudah menjadi endemik pada populasi babi di seluruh dunia dan dianggap sebagai penyebab penyakit pernapasan yang paling berbahaya pada babi.

Epidemiologi

Awal sejarah virus influenza A dimulai pada saat berlangsungnya pandemi influenza Spanyol 1918. Hasil studi genetika mengindikasikan bahwa virus penyebab pandemi yaitu virus influenza tipe A H1N1 sangat mungkin menular dari manusia ke babi. Meskipun ada ahli lain mengatakan bahwa virus penyebab pandemi 1918 adalah murni virus influenza unggas yang menular ke manusia.

Setelah itu virus influenza H1N1 mulai secara alamiah bersirkulasi pada populasi babi di Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Amerika Selatan. Virus ini stabil setidaknya selama 60 tahun tanpa menunjukkan perubahan antigenik maupun genetik. Virus ini disebut H1N1 klasik.

Virus influenza manusia mampu menular ke babi semakin dapat dibuktikan dengan diisolasinya virus H3N2 dari babi yang mirip dengan virus influenza manusia (human-like virus) di Taiwan pada tahun 1970. Beberapa tahun kemudian, virus H3N2 ini juga muncul secara reguler pada populasi babi di Asia, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Afrika.

Kemudian virus H1N1 yang mirip dengan virus influenza unggas (avian-like virus) ditemukan pada populasi babi di Eropa pada tahun 1979. Virus ini berbeda secara antigenik dan genetik dari virus H1N1 klasik. Semua segmen gen yang membentuk prototipe virus ini bersumber dari unggas.

Virus H3N2 yang mengandung campuran segmen gen yang sama dengan virus influenza manusia dan virus klasik babi diisolasi dari populasi babi di AS pada tahun 1998. Penemuan ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses penataan ulang (reassortment) dari gen-gen virus influenza A yang selama ini bersirkulasi pada populasi babi di AS.

Evolusi virus

Tanda bahwa virus influenza A di seluruh dunia mulai berevolusi secara cepat dan memicu timbulnya berbagai varian baru setiap tahun mulai terlihat dalam 10 tahun terakhir. Proses evolusi mengindikasikan bahwa babi berperan sebagai induk semang perantara atau tabung pencampur (mixing vessel) bagi penataan ulang gen-gen antara virus manusia dan unggas.

Dari hasil penelusuran virus H3N2 sepanjang 1998-1999 di AS, para ahli menemukan baik virus double reassortant yang mengandung campuran gen-gen virus manusia dan babi begitu juga virus triple reassortant yang mengandung campuran gen-gen virus influenza manusia, babi, dan unggas.

Introduksi virus H1N1 dari unggas ke babi terjadi di wilayah timur selatan China dan sejak tahun 1993 virus ini biasa bersirkulasi pada populasi babi di Asia Tenggara dan bercampur dengan virus H1N1 klasik. Tahun 2008 ditemukan virus H3N2 double reassortant yang mengandung gen-gen virus manusia dan unggas, serta triple reassortant—membawa virus gen manusia, babi, dan unggas.

Pembentukan virus triple reassortant yang terjadi melalui proses genetic drift mempunyai implikasi baik bagi manusia maupun hewan. Virus triple assortant lain diisolasi dari babi di AS pada 2006. Virus ini mengandung gen-gen virus manusia yang sama dengan isolat virus H2N2 manusia penyebab pandemi influenza Asia 1957.

Penularan ke manusia

Setelah pandemi influenza 1918 sampai saat ini, penularan virus influenza A ke manusia dikatakan terbatas. Infeksi virus H3N2 dan H1N1 pada manusia dideteksi sporadis sejak 1950. Tercatat 50 kasus zoonosis influenza A terjadi di AS (32), Ceko (6), Belanda (4), Rusia (3), Swiss (3), Kanada (1) dan Hongkong (1).

Kejadian sekarang mengingatkan para ahli dunia pada peristiwa 1976 di AS. Sebanyak 200 tentara di pusat pelatihan militer Fort Dix di New Jersey jatuh sakit dan 4 orang menderita radang paru-paru, seorang meninggal dunia. Virus penyebab diidentifikasi virus influenza A-H1N1 turunan langsung dari virus pandemi flu 1918.

Virus H3N2 triple assortant berhasil diisolasi dari seorang bayi berumur 7 bulan di Kanada pada tahun 2007. Mengingat tidak ada riwayat kontak dengan babi, dipercaya virus ini menular dari manusia ke manusia.

Zoonosis baru

Para peneliti mengatakan, terbentuknya virus influenza A secara dramatis berbeda dari sebelumnya dapat menjadi ancaman zoonosis baru bagi manusia. Meskipun masih banyak misteri dalam proses evolusi virus influenza yang belum terungkap, para ahli memprediksi kecenderungan peningkatan penularan antarmanusia berpotensi memunculkan pandemi berikutnya.

Ada sejumlah faktor yang mempercepat potensi virus influenza ini menjadi zoonosis baru. Pertama, babi sering kali kontak baik dengan manusia dan unggas, terutama di China, AS dan Brasil. Kedua, strain virus yang sama bisa menginfeksi dan menyebar baik di populasi manusia dan babi, seperti H1N1 1918 atau H3N2 1968. Ketiga, manusia bisa terinfeksi dengan virus asal unggas, tetapi virus influenza A dari babi diketahui bisa menyebar antarmanusia, seperti di Fort Dix.

Keempat, penataan ulang gen-gen virus influenza sering kali terjadi pada babi. Kelima, babi memiliki reseptor sel permukaan baik untuk manusia dan unggas. Keenam, dilaporkan bahwa virus triple reassortant asal babi telah menyebabkan dua anak sakit di Eropa.

*) TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS Pengamat Zoonosis, Bekerja di OIE Regional Coordination Unit for Southeast Asia di Bangkok

0 Komentar: