EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 18 Maret 2012

Pertanian dan Kesehatan: Hubungan inter-sektoral yang tak pernah putus

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Dunia menyadari bahwa meningkatnya ancaman dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh penyakit-penyakit berasal dari hewan atau zoonosis di wilayah Asia dan Pasifik nampak semakin nyata dengan munculnya wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) pada tahun 2003 dan highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada tahun 2004. Potensi geografis yang dijangkau oleh ke-dua wabah penyakit ini, begitu juga dampak sosio-ekonomi dan respon tindakan yang dijalankan telah mengubah lansekap atau bentangan kesehatan manusia. [1]

Metafora globalisasi, urbanisasi, dan ekspansi populasi yang selama ini membentuk lintasan pembangunan Asia juga cenderung merusak kelestarian lingkungan dan kesehatan hewan. Konvergensi dari kecenderungan ini – berbarengan dengan faktor-faktor determinasi budaya, seperti pola makan dan praktek-praktek pertanian tradisional – telah menghubungkan secara erat kesehatan dengan satwa liar, manusia dan hewan domestik. [1]

Patogen zoonotik diperkirakan akan menjadi tiga kali lebih mungkin untuk menjadi penyakit-penyakit menular baru muncul (emerging infectious diseases). Suatu sinyal yang mengindikasikan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk memperluas ruang lingkup kesehatan masyarakat dengan lebih mempertimbangkan secara hati-hati kesehatan hewan beserta faktor penentu lingkungannya. [1]

Pertanian dan kesehatan

Pertanian adalah sumber primer penghidupan dari mayoritas penduduk miskin yang pada gilirannya merupakan bagian dari masyarakat dunia yang paling rentan terhadap masalah penyakit. Sesungguhnya interaksi antara pertanian dan kesehatan berjalan dua arah bolak-balik: pertanian mempengaruhi kesehatan dan kesehatan mempengaruhi pertanian. Proses produksi pertanian dan output yang dihasilkannya bisa berkontribusi bagi baik dan buruknya kesehatan, baik bagi produsen maupun kalangan yang lebih luas. [2, 5, 6, 9]

Panoramic view of a rice paddy field in Bali
Pertanian menjadi sangat mendasar bagi kesehatan baik melalui produksi pangan, serat dan material untuk bernaung, dan pada masyarakat tertentu sebagai tumbuhan obat. Bagi penduduk pedesaan, pertanian berkontribusi terhadap penghidupan dan ketahanan pangan serta sumber penghasilan yang dapat digunakan untuk perawatan kesehatan dan pencegahan penyakit. [2] Disamping itu, pertanian sangat kritikal bagi kesejahteraan manusia karena menyediakan lapangan pekerjaan dan merupakan aset penting bagi produsen. [3]

Pada prinsipnya sasaran Millenium Development Goals (MDGs) dalam mengurangi tingkat kemiskinan menyediakan kesempatan untuk mengatasi perbedaan dan mendorong hubungan yang efektif antara pertanian dan kesehatan. Baik pertanian dan kesehatan menjadi sama pentingnya bagi pencapaian hampir semua aspek MDGs. Pada dasarnya sinergi positif perlu dilakukan untuk menghubungkan sektor pertanian dengan kebijakan, pembuatan program, dan penelitian di sektor kesehatan, sehingga menguntungkan ke-dua sektor dan secara keseluruhan meningkatkan pencapaian MDGs. [4]

Di masa lalu, penelitian dan pengembangan pertanian kebanyakan difokuskan kepada peningkatan produksi, produktivitas dan keuntungan usaha pertanian. Nutrisi dan keuntungan lainnya dari pertanian tidak selalu dioptimalkan, sementara dampak negatif terhadap kesehatan, kesejahteraan dan lingkungan seringkali diabaikan. Hal ini terutama sekali menjadi problematik apabila dikaitkan dengan peternakan, karena timbulnya potensi dampak negatif maupun positif yang komplek terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia. [3]

Kesehatan yang baik dan pertanian yang produktif, ke-duanya esensial bagi perang melawan kemiskinan. Dalam dunia yang berubah secara cepat, pertanian menghadapi banyak tantangan, baik tantangan lama seperti hambatan sumberdaya alam, kondisi iklim yang ekstrim dan hama pertanian, maupun juga tantangan baru seperti globalisasi, degradasi lingkungan, masalah produksi dalam situasi konflik dan lain sebagainya. Pada saat yang sama, ancaman kesehatan global baru muncul seperti HIV/AIDS, SARS, dan avian influenza, sementara ancaman lama masih terus terjadi. [5]

Bukan hanya malaria, tuberkulosis, penyakit-penyakit diare, infeksi pernafasan dan malnutrisi yang terus menjadi beban berat, akan tetapi sektor kesehatan juga semakin sering menghadapi permasalahan penyakit kronis, resistensi obat dan insektisida, serta efektivitas intervensi yang semakin menurun. Dunia semakin terintegrasi, demikian juga halnya dengan permasalahan pertanian dan kesehatan yang dihadapi dunia. [5]

Dengan demikian menyelidiki kesehatan dalam konteks pertanian menjadi sangat penting, oleh karena pertanian bukan hanya memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesehatan, tetapi juga menimbulkan risiko bagi kesehatan. Sampai saat ini antara sektor pertanian dan sektor kesehatan dirasakan kurang terintegrasi dengan baik. Pertimbangan kesehatan hanya memainkan peran kecil dalam pengambilan keputusan petani/peternak dalam berproduksi atau dalam hal pembuatan kebijakan di Kementerian Pertanian. Sebaliknya kebijakan pertanian berperan sangat terbatas dalam pembuatan kebijakan di Kementerian Kesehatan. [9]

Kaitan dengan peternakan

Permintaan global terhadap daging meningkat sangat nyata dalam dekade belakangan ini. Antara 1975 dan 1990, konsumsi daging per kapita diestimasi meningkat 1,4% per tahun. Produksi daging dunia diharapkan akan menjadi dua kali lipat pada 2020, sebagian disebabkan oleh regulasi nasional dan internasional yang mengizinkan agribisnis peternakan mengeksternalisasi biaya produksi dan secara agresif melakukan kampanye korporasi pasar. Sebagai akibatnya terjadi kenaikan terus menerus promosi dan permintaan produk hewan, sehingga berangsur-angsur praktek-praktek budidaya tradisional mulai digantikan dengan operasi peternakan intensif. Di negara-negara berkembang, pergantian ini berlangsung dengan kecepatan lebih dari 4% per tahun. [7]

http://www.inforesources.ch/images/news/
Di sisi lain, industrialisasi peternakan menjadi kontributor penting bagi degradasi lingkungan global dan perubahan iklim. Peternakan menghasilkan berturut-turut 37%, 65% dan 64% emisi anthropogenik gas methan, oksida nitrogen, dan amonia yang berasal dari fermentasi ruminansia, limbah ternak, penggunaan pestisida dan faktor-faktor lainnya. Gas methan dan oksida nitrogen berturut-turut berpotensi 23 dan 297 kali dalam menimbulkan pemanasan global CO2. [7]

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mendeklarasikan bahwa peternakan berkontribusi sebanyak 18% emisi anthropogenik gas rumah kaca per tahun (yang diukur dengan ekuivalen CO2), lebih besar dari kontribusi sektor transportasi di seluruh dunia. Dampak kesehatan sebagai akibat dari perubahan iklim ini sudah dirasakan di seluruh dunia dan United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change memproyeksikan bahwa dampak ini secara signifikan akan semakin memburuk. [7]

Peternakan menempati 30% dari total permukaan lahan, penggunaan terbesar dari keseluruhan lahan oleh manusia. Dari jumlah tersebut, 33% lahan tanaman digunakan untuk memproduksi palawija dengan input energi yang jauh tidak seimbang dibandingkan dengan output. Begitu juga peternakan mengkonsumsi 70% air tawar dan berkontribusi secara ekstensif terhadap polusi lahan, udara dan air. Pestisida, pupuk termasuk kotoran ternak juga mengkontaminasi sumber air. [7]

Kombinasi dampak lingkungan sebagai hasil intensifikasi peternakan tersebut telah mendorong FAO untuk mendeklarasikan pada tahun 2006 lalu bahwa sektor peternakan menduduki peringkat teratas dari dua atau tiga kontributor degradasi lingkungan dari yang paling signifikan sampai yang paling serius di semua tingkatan mulai dari lokal sampai global. [7]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan FAO pada tahun 2004 lalu melaporkan bahwa secara global kenaikan permintaan protein hewani bagi diet manusia yang berhubungan dengan ekspansi dan intensifikasi peternakan, transpor jarak jauh hewan hidup dan faktor-faktor lainnya, bertanggung jawab sebagian terhadap kemunculan zoonosis dalam dekade belakangan ini. Praktek-praktek peternakan industrial dipersalahkan mengakibatkan munculnya bovine spongiform encephalopathy, resistensi bermacam jenis obat terhadap bakteri penyebab penyakit yang ditularkan lewat makanan (foodborne bacteria), dan strain virus avian influenza yang sangat patogen.

Pembuangan limbah
kotoran ternak
Selain itu limbah peternakan adalah sumber dari lebih seratusan patogen zoonotik yang dapat mengkontaminasi suplai makanan dan air. Air irigasi yang terkontaminasi limbah peternakan bisa menjadi sumber dari Escherichia coli O157:H7 yang menulari manusia. Begitu juga penggunaan massal antibiotik di peternakan sangat mungkin bertanggung jawab atas sebagian besar peningkatan kuman-kuman isolat manusia yang resisten terhadap antibiotik. [7]

Penyakit-penyakit berkaitan dengan pertanian

Seperti sudah disampaikan diatas, suatu dampak negatif penting dari intensifikasi pertanian adalah penyakit. Avian influenza adalah contoh buruk dari suatu penyakit yang didorong oleh intensifikasi produksi pertanian dan menyebar melalui perpanjangan dan perluasan rantai pemasaran unggas dan pergerakan global manusia dan hewan. Begitu juga proyek-proyek irigasi skala besar yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas pertanian, telah menciptakan ekosistem yang kondusif bagi penyakit-penyakit seperti schistosomiasis dan Rift Valley Fever (RVF). [3, 7]

Saluran-saluran irigasi dan bendungan tersebut menjadi habitat yang ideal untuk siput yang bertindak sebagai reservoir spesies hospes perantara bagi penyebaran schistomiasis. Selain itu ladang-ladang persawahan irigasi meningkatkan areal pembibitan nyamuk, mendorong terjadinya peningkatan penularan malaria, lymphatic filariasis, Japanese encephalitis dan RVF. [7] Begitu juga penyakit-penyakit yang dikaitkan dengan sistem pertanian yang spesifik seperti brucellosis, keracunan pestisida dan aflatoksikosis. [6]

Irrigation Dam and Canal
at Ban Mae Khri
Dalam kenyataannya sistem pertanian sangat bervariasi – menurut jenis komoditi, praktek-praktek dan teknologi pertanian yang digunakan, lokasi dan sistem kepemilikan. Oleh karenanya jenis dan tingkat keparahan dari penyakit-penyakit berkaitan dengan pertanian juga bervariasi mengikuti perbedaan masing-masing faktor. Di subsektor peternakan, spesies hewan yang berbeda dikaitkan dengan zoonosis yang berbeda pula, seperti bekerja dengan sapi perah atau domba adalah faktor risiko untuk terjadinya brucellosis. [9]

Pada dasarnya penyakit-penyakit tersebut dapat dikaitkan dengan input pertanian, produksi pertanian primer, pengelolaan pasca panen dan penanganan sepanjang rantai pemasaran, atau bahkan pada penyiapan final oleh konsumen. [3]

Tipologi dari penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pertanian tersebut dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) yaitu (1) zoonosis dan penyakit-penyakit menular baru muncul lainnya, (2) penyakit-penyakit yang ditularkan lewat air (water-associated diseases), (3) penyakit-penyakit yang ditularkan lewat makanan (food-associated diseases), dan (4) penyakit-penyakit berkaitan dengan pekerjaan (occupational diseases) dan resistensi obat. [3]

Paling tidak 61% dari seluruh patogen yang menyerang manusia adalah zoonotik, dan 75% dari penyakit-penyakit menular yang baru muncul adalah zoonosis. Suatu penyakit baru muncul setiap 4 bulan sekali, banyak diantaranya yang bisa disepelekan, akan tetapi HIV/AIDS, SARS dan avian influenza mengilustrasikan potensi dampak yang luar biasa besarnya. Zoonosis akhir-akhir ini bertanggung jawab atas 7% beban penyakit di negara-negara kurang berkembang (least developed countries). [3]

Kesakitan dan kematian akibat HIV/AIDS, malaria, tuberkulosis, dan penyakit-penyakit lainnya menurunkan produktivitas pertanian melalui kehilangan tenaga kerja, penurunan pengetahuan orang dewasa produktif dan berkurangnya aset untuk upaya mengatasi penyakit. Mengingat mayoritas penduduk miskin dunia bekerja di sektor pertanian serta menderita sakit dan penyakit secara tidak proporsional, maka dirasakan sangat perlu adanya pandangan terintegrasi antara pertanian dan kesehatan untuk menanggulangi kemiskinan dan promosi pembangunan pertanian. [6]

Implikasi kebijakan

Kita menyadari bahwa hubungan inter-sektoral antara pertanian dan kesehatan sudah berlangsung begitu lama [3] dan berjalan dua arah bolak-balik (bi-directional). [9] Sifatnya yang dua arah bolak-balik ini menawarkan insentif bagi sektor pertanian dan kesehatan untuk bekerjasama – mengorientasikan sistem pertanian untuk kepentingan kesehatan, dan mengorientasikan sistem kesehatan untuk keuntungan pertanian. [9]

Pemisahan antara ke-dua sektor tersebut masih sangat lebar dan sulit dijembatani. Upaya menyediakan ruang serta insentif dan sumberdaya memadai untuk kegiatan kolaborasi antar ke-dua sektor memerlukan perubahan dalam kebijakan pemerintah dan hal ini bukanlah suatu upaya yang dianggap akan terjadi dengan sendirinya. Pemerintah harus memprioritaskan alokasi sumberdaya dibawah kewenangannya untuk hal-hal yang dirasakan menjadi minat terbesar masyarakat. Dengan demikian, advokasi untuk terciptanya aksi bersama antar ke-dua sektor harus diikutsertakan dalam proses kebijakan pemerintah jika isu-isu kesehatan-pertanian akan ditangani dengan cara substantif dan berkesinambungan. [10]

Penyakit pada dasarnya dipengaruhi oleh sosio-ekonomi, lingkungan dan kebijakan. Basis pembuatan suatu kebijakan bukan hanya memerlukan tersedianya informasi tentang dampak penyakit lintas sektor dan biaya-keuntungan (cost-benefit) dari operasi pengendalian, akan tetapi juga kesinambungan, kelayakan dan akseptabilitas dari opsi pengendalian yang dipilih. [3]

Banyak dari penyakit-penyakit tersebut diatas dikarakterisasi oleh kompleksitas, ketidakpastian dan dampak potensial yang tinggi. Untuk itu dibutuhkan suatu pemikiran analitik (analytic thinking) untuk memecahkan permasalahan penyakit tersebut menjadi komponen-komponen yang bisa dikelola dari waktu ke waktu. Demikian juga, pemikiran holistik (holistic thinking) untuk mengenali pola dan implikasi yang lebih luas serta juga potensial keuntungan yang akan diperoleh. [3]

Pendekatan baru terintegrasi seperti ”One Health”*) dan ”Eco-Health”**) yang diaplikasikan terhadap permasalahan komplek seperti diatas memerlukan penataan institusional (institusional arrangements) baru. Ke-dua pendekatan tersebut banyak mempunyai kesamaan dan terhubung satu dengan lainnya. Ke-duanya menekankan kepada aksi multidispliner dan pentingnya intervensi berbasis pertanian dan ekosistem. [3]

Sektor pertanian, lingkungan dan kesehatan umumnya tidak didesain khusus untuk mempromosikan pendekatan terintegrasi dan multi-disiplin untuk mengatasi permasalahan komplek dan lintas sektoral sebagaimana disampaikan diatas. Oleh karenanya ke depan, pendekatan sistemik One Health dan EcoHealth perlu diaplikasikan dengan mengembangkan dan menguji metodologi dan perangkat secara berkelanjutan untuk mengelola penyakit-penyakit berkaitan dengan pertanian secara lebih baik. [3]
____________________________________________________________

*) One Health didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang fokus pada integrasi antara kedokteran manusia, kedokteran hewan dan sains lingkungan. Pendekatan One Health memerlukan upaya kerjasama berbagai disiplin untuk memperoleh kesehatan optimal bagi orang, hewan dan lingkungannya.

**) EcoHealth didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik, transdisiplin dan partisipatif untuk memahami dan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan manusia dalam konteks interaksi sosial dan ekologik.

Referensi:

1. Hammill A., Giannikopoulos D., and Karesh W. (2004). SARS and Avian Influenza: Exploring the Role of Conservation and Veterinary Health in Addressing Zoonotic Diseases in Asia. Poverty, Health and Ecosystems: Experience from Asia. pp. 69-78.
2. Gillespie S., Ruel M., and von Braun J. (2008) Building Bridges between Agriculture and Health. Prepared for the Global Ministerial Forum on Research for Health, Bamako, 17-19 November 2008.
3. McDermott J. and Grace D. (2011). Agriculture-associated Diseases: Adapting Agriculture to improve Human Health. Leveraging Agriculture for Improving Nutrition & Health. 2020 Conference Brief 18. February 2011.
4. von Braun J., Ruel M.T., and Gillespie S. (2011). Bridging the Gap between the Agriculture and Health Sectors. Leveraging Agriculture for Improving Nutrition & Health. 2020 Conference Brief 14. February 2011.
5. Hawkes C., and Ruel M.T. (2006). Overview. In: Understanding the Links between Agriculture and Health. Hawkes C., and Ruez M.T. (Eds). 2020 Vision for Food, Agriculture and the Environment. Focus 13. Brief 1 of 16. May 2006.
6. World Bank (2008). The two-way links between agriculture and health. focus H. pp: 224-225. http://siteresources.worldbank.org/INTWDR2008/Resources/2795087-1192112387976/WDR08_18_Focus_H.pdf
7. Akhtar A.Z., Greger M., Ferdowsian H., and Frank E. (2009). Health Professionals’ Roles in Animal Agriculture, Climate Change, and Human Health. Am J Prev Med, 36(2): 182-187.
8. Patz J.A., Confalonieri U.E.C, Amerasinghe F.P., Chua K.B., Daszak P., Hyatt A.D., Molyneux D., Thomson M., Yameogo L., Lazaro M.M., Vasconcelos P., Palis Y.R., Lendrum D.C., Jaenisch T., Mahamat H., Mutero C., Walter-Toews D., and Whiteman C. (2005). Chapter 14. Human Health: Ecosystem Regulation of Infectious Diseases. In: Ecosystems and Human Well-being: Current State and Trends. Hassan R.M., Scholes R., and Ash N. (Eds), pp. 391-415.
9. Hawkes C., and Ruel M. (2006). Policy and Practice. The links between agriculture and health: an intersectoral opportunity to improve the health and livelihoods of the poor. Bulletin of the World Health Organization. December 2006, 84(12): 984-990.
10. Benson T. (2006). Agriculture and Health in the Policymaking Process. In: Understanding the Links between Agriculture and Health. Hawkes C., and Ruez M.T. (Eds). 2020 Vision for Food, Agriculture and the Environment. Focus 13. Brief 15 of 16. May 2006.

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases di Laos

0 Komentar: