EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 30 Oktober 2011

Sirkulasi domestik dan evolusi virus H5N1 di Asia Tenggara

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Film “Contagion” yang dipertunjukkan tahun ini, karya terbaru Steven Soderbergh, seorang sutradara Amerika Serikat terkenal pemenang Academic Award, seakan memperingatkan dunia kembali akan ancaman besar yang bisa muncul akibat pandemi penyakit menular yang ditularkan dari hewan. Meskipun tidak terlalu jelas sampai akhir cerita, bahaya patogen apa sebenarnya yang ingin digambarkan dalam film tersebut. Tapi banyak mengaitkannya dengan flu burung (bird flu) sebagai virus pembunuh yang terus mengintai dan membayangi dunia. [1, 2]

"I haven't seen the film yet but bird flu is the real killer lurking in the shadows," says 
Professor Robert Webster, the world's leading expert on bird flu.

Strain virus H5N1 pertama kali dikenal di dunia pada 1959 yang memusnahkan dua flok di satu peternakan ayam di wilayah Skotlandia, Inggris. Tapi strain ini sangat jauh berbeda dengan strain highly pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 yang bersirkulasi saat ini. Strain dominan H5N1 yang menyebabkan pandemi pada unggas sejak 2003-2004 lalu berevolusi sejak 1999 sampai 2002 menciptakan genotype Z yang kemudian disebut sebagai “Trah Asia HPAI A-H5N1” (“Asian lineage HPAI A-H5N1”). [3]

Sejak kemunculan pandemi pada 2003-2004 tersebut, virus-virus ini telah menyebar pada spesies unggas di Asia, Eropa dan Afrika. Sirkulasi yang terus bertahan telah menghasilkan evolusi filogenetik dengan trah-trah (lineages) yang berbeda. [4] Virus ini masih tetap dianggap sebagai bahaya yang terus mengintai dan membayangi dunia [5], meskipun saat ini perhatian masyarakat dunia terhadap isu ini sudah semakin jauh berkurang.

A/goose/Guangdong/1/1996

Pendahulu semua virus-virus H5N1 yang bersirkulasi saat ini adalah A/goose/Guangdong/1/1996, yang pertama kali diisolasi dari seekor angsa sakit di Guangdong, China pada 1996. Derivat-derivatnyalah yang kemudian menyebar ke Asia Tenggara, Eurasia dan Afrika. Sejalan dengan penyebarannya, virus-virus H5N1 yang telah berdiversifikasi menjadi berbagai trah tersebut, banyak diantaranya terus bersirkulasi secara berbarengan dan menyebabkan infeksi pada manusia sampai saat ini. [4]

Trah-trah ini kemudian diklasifikasi menjadi kelompok-kelompok (clades) 0 sampai 9 dan berbagai sub-kelompok (subclades) berdasarkan genealogi dari gen hemagglutinin (HA). Virus-virus dari kelompok-kelompok berbeda tersebut memperlihatkan juga variasi antigenik yang nyata, sehingga ke depan bisa berpotensi mengacaukan upaya-upaya kesiapsiagaan pandemi. Kompleksitas lain juga muncul sebagai akibat kesulitan dalam penanganan dan pengapalan virus-virus HPAI ke negara-negara maju yang memiliki fasilitas lebih canggih untuk upaya determinasi virus lebih lanjut dan isu-isu kedaulatan negara (sovereignity) seputar hak kepemilikan isolat virus. [4]

Sumber dari virus H5N1 A/goose/Guangdong/1/1996 tidak diketahui secara jelas, akan tetapi seperti halnya virus-virus avian influenza lainnya diduga berasal dari virus dengan patogenisitas rendah (low pathogenicity) yang tidak teridentifikasi dan bersirkulasi pada unggas-unggas akuatik liar [7]. Kasus pertama yang dilaporkan berkaitan dengan virus H5N1 derivat A/goose/Guangdong/1/1996 ini adalah wabah di Hongkong pada 1997 lalu yang berakibat fatal baik pada unggas maupun manusia. [8, 9, 10]

Sebelum munculnya pandemi unggas 2003-2004, virus-virus derivat A/goose/Guangdong/1/1996 terus bersirkulasi pada angsa di wilayah China selatan dan kemudian beberapa genotipe berbeda dideteksi pada itik dan angsa domestik pada akhir 1990-an dan antara 2000-2001. [11, 12, 13] Ekspansi cakupan hospes virus-virus H5N1 dari angsa ke itik inilah yang kemungkinan menjadi kunci peristiwa dari awal epidemi flu burung yang terjadi pada 2003-2004 lalu. [6]

Sejak 2002, virus-virus H5N1 ini terus ditemukan pada unggas-unggas air di China [14], dengan beberapa tapi tidak seluruhnya terkait dengan penyakit yang menyerang itik domestik dan unggas-unggas liar. Dari surveilans yang dilakukan di pasar unggas hidup di China selatan pada awal 2004 terungkap adanya tingkat infeksi tinggi pada itik-itik domestik yang secara klinis normal, dengan sekitar 25% dari sampel menunjukkan virus-virus H5N1 positif. [15]

Penemuan-penemuan diatas memperkuat hipotesa bahwa infeksi pada itik domestik bisa menimbulkan tingkat kontaminasi lingkungan yang tinggi dan sumber infeksi yang signifikan bagi ayam-ayam dan unggas-unggas lainnya. Oleh karenanya tingkat infeksi tinggi dari itik-itik domestik yang secara klinis normal tersebut merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap epidemi flu burung, mengingat penyebaran luas dari pembibitan virus ini di Thailand, Vietnam dan China selatan dimana sangat umum itik-itik dipelihara di peternakan dan mengembara secara bebas di kolam-kolam dan sawah-sawah. [6]

Evolusi virus H5N1

Sebagaimana disampaikan diatas, virus H5N1 A/goose/Guangdong/1/1996 dijadikan titik awal atau dasar pertama (kelompok 0) dari semua virus-virus yang selanjutnya diklasifikasikan ke dalam kelompok (clade) dan sub-kelompok (subclade). Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi, perbandingan dan analisis yang dilakukan terhadap sejumlah trah-trah yang berbeda terbukti menjadi sulit, oleh karena sejumlah nama berbeda digunakan untuk mengelompokkan trah-trah virus H5N1 yang bermunculan dan sedang bersirkulasi saat ini. [15]

Sebagaimana disampaikan diatas, virus-virus H5N1 ini terus menyebar, terus menulari hewan-hewan dan manusia, dan terus berevolusi dan berdiversifikasi. Kebanyakan gen viral telah digantikan melalui cara penataan ulang (reassortment) dan menghasilkan banyak genotipe virus berbeda. Gen H5 hemaglutinin (HA) spesifik yang diidentifikasi pada virus A/goose/Guangdong/1/1996 secara menakjubkan masih tetap ada dalam semua isolat yang ditemukan kemudian. Oleh karenanya, H5 HA dapat digunakan sebagai suatu elemen konstan dimana evolusi dari strain-strain dapat diperbandingkan secara efektif. Atas dasar inilah kemudian disusun suatu sistem nomenklatur virus yang seragam berdasarkan evolusi H5 HA tersebut oleh suatu kelompok ahli internasional yang dibentuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). [15]

Analisis filogenetik dibentuk dengan menggunakan bermacam-macam pendekatan terhadap semua sekuens H5 HA yang berevolusi dari virus H5N1 A/goose/Guangdong/1/1996. Berdasarkan kriteria yang digunakan untuk membedakan berbagai kelompok gen H5 HA tersebut, maka telah berhasil diidentifikasi 20 kelompok virus yang berbeda sejak awal 2008.

Dengan kelompok-kelompok virus ini terus berevolusi, sub-trah baru (berpotensi menjadi kelompok H5N1 baru) muncul secara periodik. Kelompok-kelompok baru ini ditetapkan sebagai kelompok urutan ke-dua, ke-tiga atau ke-empat dan ditandai dengan suatu kode numerik yang mengaitkannya ke sumber awal yaitu kelompok 0, dengan menggunakan sistem penomoran desimal yang hierarkis (lihat Tabel 1). [15]

Tabel 1. Evolusi virus H5N1 Asia
Sumber: [15]

Pada kurun waktu 1996-2001, dari awalnya hanya kelompok 0 kemudian ditemukan 3 kelompok virus H5N1 baru yaitu kelompok 3, 5 dan 9 (lihat Tabel 1). Pada kurun waktu 1996-2004, terbentuk 10 kelompok virus (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9). Pada kurun waktu 1996-2005, terjadi ekspansi dari kelompok 2 menjadi 5 kelompok urutan ke-dua (2.1, 2.2. 2.3, 2.4, dan 2.5). Pada kurun waktu 1996-2008, terjadi ekspansi dari kelompok urutan ke-dua menjadi kelompok urutan ke-tiga (2.1.1, 2.1.2, dan 2.1.3; 2.3.1, 2.3.2, 2.3.3, dan 2.3.4). Pada kurun waktu 1996-2011, terjadi ekspansi dari kelompok urutan ke-satu, ke-dua dan ke-tiga menjadi kelompok-kelompok tambahan urutan ke-dua, ke-tiga dan ke-empat.

Meskipun virus-virus H5N1 terus berevolusi, FAO menyatakan tidak ada bukti saat ini bahwa virus H5N1 tertentu lebih virulen atau lebih mampu menulari unggas. Hanya satu kelompok yang mendapatkan perhatian cukup besar dari para ahli dunia yaitu suatu kelompok urutan ke-empat baru 2.3.2.1 yang diidentifikasi pada Februari 2011, sebagai hasil evolusi dari kelompok 2.3.2 yang semula bersirkulasi di antara unggas di wilayah Asia timur sejak 2005. Penemuan kelompok baru ini pada unggas semakin meningkat di sejumlah negara, dan bahkan di beberapa area menjadi lebih dominan daripada kelompok-kelompok yang bersirkulasi sebelumnya. [16]

Vietnam bahkan menghentikan kampanye vaksinasi masal pada unggas oleh karena ditemukannya kelompok urutan ke-empat 2.3.2.1 ini, terutama di wilayah endemik HPAI di bagian utara dan tengah negara tersebut. Secara perlahan-lahan kelompok 2.3.4 yang tadinya dominan di wilayah utara Vietnam digantikan oleh kelompok baru 2.3.2.1 ini, sedangkan kelompok 1 tetap dominan di wilayah selatan Vietnam. [26]

FAO menyatakan juga tidak ada bukti bahwa strain atau kelompok virus H5N1 tertentu, termasuk kelompok baru hasil evolusi dianggap lebih mampu menulari atau lebih patogenik bagi manusia. Meskipun 3 kasus manusia terinfeksi virus H5N1 dihubungkan dengan virus-virus kelompok 2.3.2.1, namun tidak ada indikasi bahwa kelompok 2.3.2.1 menimbulkan ancaman besar terhadap kesehatan manusia dibandingkan dengan virus-virus H5N1 lainnya. [16] WHO menyatakan hal yang sama menyikapi penemuan virus-virus H5N1 kelompok 2.3.2.1 baru-baru ini. Sirkulasi kelompok ini pada unggas di beberapa wilayah Asia sampai saat ini tidak meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia. [17]

Sirkulasi domestik

Indonesia sampai saat ini masih terus melaporkan wabah HPAI H5N1 pada unggas dengan proporsi yang tinggi dibandingkan dengan negara lain, seperti halnya dalam 3 tahun terakhir. [18, 19] Total kejadian wabah dan sebarannya mulai 1 Januari s/d 30 September 2011 dapat dilihat dalam Gambar 1. Provinsi Gorontalo menjadi provinsi yang terakhir tertular pada Februari 2011, sehingga hanya tinggal satu provinsi yang belum tertular dari keseluruhan 33 provinsi. [19]
 
Gambar 1. Situasi  HPAI H5N1 di Indonesia (1 Januari s/d 30 September 2011)
Total ada 966 wabah HPAI dilaporkan Indonesia dari 1 Januari - 30 September 2011.
• Aceh (17), Bali (39), Bengkulu (35), DI Yogyakarta (61), DKI Jakarta (2), Jambi (30), Jawa Barat (93), Jawa Tengah (87), Jawa Timur (28), Kalimantan Barat (1), Kalimantan Tengah (1), Lampung (117), Riau (74), Sulawesi Selatan (74), Sulawesi Tengah (1), Sulawesi Utara (18), Sumatera Barat (196), Sumatera Selatan (67), Sumatera Utara (23)

Kasus flu burung pada manusia di tahun ini (s/d Oktober 2011) berjumlah 8 orang (6 meninggal, 2 sembuh). Adapun penyebaran kasus, di provinsi Jawa Barat (2), DI Yogyakarta (1), DKI Jakarta (3), dan Bali (2). Seluruhnya dilaporkan terdedah secara langsung maupun tidak langsung dengan unggas. [16a]

Virus H5N1 kelompok 2.1 sudah menjadi endemik di pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan kemungkinan Bali, dengan wabah sporadik dilaporkan di wilayah-wilayah lainnya. [19] Kelompok 2.1 yang bersirkulasi tersebut diintroduksi dari provinsi Hunan, China pada 2002-2003 lalu. [20, 21] Dua representasi virus H5N1 yang diisolasi dari provinsi Hunan (Ck/HN/23/02 dan Dk/HN/795/02) memiliki pola reaksi yang mirip dengan virus-virus yang mula-mula muncul di Indonesia (contohnya: Ck/IDN/BL/03). Analisis filogenetik berhasil membuktikan adanya hubungan yang erat antara virus-virus di China selatan dengan Asia Tenggara. [21]

Rute penyebaran dan penularan dari provinsi Hunan ke Indonesia tetap tidak diketahui sampai sekarang. Analisis sebelumnya menunjukkan bahwa virus H5N1 kelompok 2.1 dihasilkan dari satu kali introduksi pada 2003 lalu, kemungkinan besar ke pulau Jawa dimana kurang lebih 60% produksi unggas terkonsentrasi dan dimana wabah HPAI H5N1 pertama kali dilaporkan. [22] Mengingat pulau Jawa tidak memiliki perbatasan wilayah dengan negara lain, dan antara provinsi Hunan dan pulau Jawa berjarak sekitar 3.600 km, sehingga menimbulkan kemungkinan bahwa penularan virus terjadi lewat migrasi burung. [21]

Kelompok 2.1 kemudian hanya didapatkan di Indonesia dan tidak di wilayah Asia lainnya, tetapi masih tergolong ke dalam genotype Z. Suatu analisa filogenetik terhadap virus-virus H5N1 yang diidentifikasi dari berbagai negara dalam kurun waktu 2005-2008 terungkap adanya 3 sub-genotipe Z yang berbeda satu sama lain. Sub-genotipe Z.1 direpresentasikan oleh virus A/peregrine falcon/Hong Kong/D0028/04, termasuk virus-virus yang ditemukan di danau Qinghai, China dan turunan-turunannya, yang kemudian menyebar ke Eropa dan Afrika. Sub-genotipe Z.2 direpresentasikan oleh virus A/chicken/Yunnan/1252/03, terdiri dari virus-virus yang diisolasi di Thailand dan Vietnam. Sedangkan sub-genotipe Z.3 direpresentasikan oleh virus A/duck/Hunan/782/03, terdiri dari 31 virus-virus yang diisolasi dari ayam di Indonesia. [23]

Sejak awal wabah 2003 sampai dengan saat ini, kelompok 2.1 tersebut terbagi menjadi 3 kelompok urutan ke-tiga yaitu 2.1.1, 2.1.2 dan 2.1.3 (lihat Tabel 2). [22, 24, 25] Virus-virus dari sub-kelompok 2.1.1 kebanyakan diisolasi dari unggas-unggas yang terinfeksi HPAI selama wabah berlangsung antara 2004-2007. Sub-kelompok 2.1.2 terdiri dari virus-virus yang menginfeksi unggas dan manusia, diisolasi terutama dari Sumatra antara 2004-2007. Sub-kelompok 2.1.3 terdiri dari suatu rangkaian virus-virus yang diisolasi baik dari unggas atau manusia sejak 2004. [24]

Saat ini virus-virus sub-kelompok 2.1.3 paling dominan ditemukan di Indonesia, sedangkan jumlah isolasi virus-virus sub-kelompok 2.1.1 dan 2.1.2 semakin berkurang sejak 2005. [25] Virus-virus sub-kelompok 2.1.3 telah menyebar dan menjadi endemik di banyak provinsi di Indonesia, dan hasil evolusi dari sub-kelompok inilah terbentuk beberapa sub-trah baru. [25, 24]

Tabel 2. Pembentukan kelompok-kelompok virus H5N1 Asia
(biru = virus-virus unggas; kuning = virus-virus unggas/manusia)

Selanjutnya berdasarkan studi analisa genetik terhadap virus-virus yang diisolasi dari peternakan itik skala kecil di Jawa Tengah selama 2007-2008, kelompok urutan ke-tiga 2.1.3 dapat dibagi lagi menjadi 3 kelompok baru urutan ke-empat yaitu 2.1.3.1, 2.1.3.2 dan 2.1.3.3 (lihat Tabel 2). [24, 15] Tidak ditemukan pengelompokan dari virus-virus ini menurut spesies, status klinis atau asal kabupaten, mengindikasikan bahwa infeksi menyebar luas dan mempengaruhi baik ayam maupun itik. Berdasarkan analisa antigenik, studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada bukti variasi antigenik signifikan terjadi pada virus-virus yang bersirkulasi selama periode studi tersebut. [24]

Disamping itu studi tersebut juga menyatakan proporsi kasus lebih tinggi pada itik sehat dibandingkan dengan ayam, mengindikasikan bahwa itik lebih mampu bertahan terhadap infeksi HPAI dan sangat mungkin berperan sebagai hospes ‘carrier’ dari virus H5N1 untuk jangka waktu lama. [24]

Monitoring harus berlanjut

Dari awal pandemi 2003-2004 sampai sekarang ini, infeksi virus HPAI pada unggas dilaporkan terjadi di negara-negara di Asia, Afrika, Eropa dan Timur Tengah. Analisa epidemiologik memperlihatkan bahwa virus-virus H5N1 masih terus bersirkulasi di sejumlah negara di Asia, tapi hanya Mesir di Afrika. Indonesia dan Mesir mendeklarasikan ke OIE bahwa negaranya berstatus endemik, sehingga tidak lagi wajib melaporkan apabila ada kejadian wabah HPAI. Ke-dua negara menotifikasi kasus-kasus baru HPAI pada unggas hanya setiap 6 bulan sekali. [26]

Pada dasarnya evolusi virus-virus influenza secara menyeluruh, termasuk virus-virus H5N1 berdampak kepada industri perunggasan, begitu juga kehidupan ekonomi dan ketahanan pangan dari banyak orang terutama di negara-negara berkembang. Seperti diketahui dengan terjadinya evolusi virus-virus H5N1, maka perubahan antigenik dapat mempengaruhi proteksi silang dari vaksin-vaksin yang sudah beredar.

Belajar dari pengalaman Vietnam yang menggunakan vaksin unggas dari virus H5N1 kelompok 0 (sejak tahun 2005 s/d 2010) dan kelompok 2.3.4 (sejak 2011), ternyata vaksin masih tetap efektif untuk kelompok baru 2.3.2.1 meskipun satu varian antigenik ditemukan pada awal 2011. Hal ini menekankan pentingnya monitoring terhadap evolusi virus dilakukan secara regular dan setelah itu memperbaharui vaksin unggas apabila diperlukan, dan juga kepentingan menggunakan vaksin yang strainnya berbeda di wilayah-wilayah berbeda. [26]

FAO, OIE dan WHO menyatakan saat ini tidak ada bukti bahwa kelompok atau strain virus H5N1 tertentu, termasuk kelompok baru yang terbentuk dari evolusi, dinyatakan lebih menular atau lebih patogen terhadap manusia. Sudah jelas bahwa saat ini virus-virus H5N1 menyebar luas dan intensif pada populasi unggas dan burung liar, sehingga pendedahan manusia terhadap unggas terinfeksi cenderung meningkat. Namun demikian, hal ini tidak meningkatkan kemampuan virus-virus H5N1 untuk menginfeksi dan menulari antar manusia. [26]

Meskipun perhatian masyarakat dunia semakin berkurang, akan tetapi pihak otoritas veteriner nasional dan pihak-pihak berkompeten lainnya ditambah lembaga-lembaga non-pemerintah di negara-negara tertular HPAI termasuk Indonesia, harus memperkuat dan mempererat jejaring antar kelembagaan untuk melakukan monitoring seperti disebutkan diatas secara berkelanjutan pada unggas maupun burung liar.

Di negara-negara yang mempraktekkan vaksinasi terhadap HPAI seperti Indonesia, sangat penting untuk selalu menggunakan vaksin bersamaan dengan tindakan-tindakan pengendalian klasik lainnya, seperti deteksi dini, respon cepat, pemusnahan menyeluruh (stamping out) dan pengendalian lalu lintas unggas dan produk unggas untuk keberhasilan penghentian penyakit dan pemberantasannya. [26]

Referensi:
1. http://www.guardian.co.uk/world/2011/sep/17/bird-flu-swine-flu-warning
2. http://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=10753945&ref=rss
3. http://www.news-medical.net/health/Bird-Flu-(H5N1)-Genetics.aspx
4. Ducatez M.F., Bahl J., Griffin Y., Stigger-Rosser E., Franks J., Barman S., Vijaykrishna D., Webb A., Guan Y., Webster R.G., Smith G.J.D., and Webby R.J. (2011). Feasibility of reconstructed ancestral H5N1 influenza viruses for cross-clade protective vaccine development. PNAS, 108(1): 349-354. www.pnas.org/cgi/doi/pnas.1012457108
5. Yen H.L. and Webster R.G. (2009). Pandemic influenza as a current threat. Curr Top Microbiol Immuno 333:3-24.
6. Sims L.D., Domenech J., Benigno C., Khan S., Kamata A., Lubroth J., Martin V., and Roeder P. (2005). Origin and evolution of highly pathogenic H5N1 avian influenza in Asia. Veterinary Record, 157: 159-164.
7. Alexander D.J. (2000). A review of avian influenza in different bird species. Veterinary Microbiology 74:3-13.
8. Claas E.C., Osterhaus A.D., Van Beek R., de Jong J.C., Rimmelzwaan G.F., Senne D.A., Krauss S., Shortridge K.F., and Webster R.G. (1998). Human influenza A H5N1 virus related to a highly pathogenic avian influenza virus. Lancet 351:472-477.
9. Sims L.D., Ellis T.M, Liu K.K., Dyrting K., Wong H., Peiris M., Guan Y., and Shortridge K.F. (2003). Avian influenza in Hong Kong 1997-2002. Avian Diseases 47:832-838.
10. Webster R.G., Guan Y., Peiris M., Walker D., Krauss S., Zhou N.N., Govorkova E.A., Ellis T.M., Dyrting K.C., Sit T., Perez D.R., and Shortridge K.F. (2002). Characterization of H5N1 influenza viruses that continue to circulate in geese in southeastern China. Journal of Virology 76: 118-126.
11. Cauthen A.N., Swayne D.E., Schultz-Cherry S., Perdue M.L., and Suarez D.L. (2000). Continued circulation in China of highly pathogenic avian influenza viruses encoding the hemagglutinin gene associated with the 1997 H5N1 outbreak in poultry and humans. Journal of Virology 74: 6592-6599.
12. Guan Y., Peiris J.S., Lipatov A.S., Ellis T.M., Dyrting K.C., Krauss S., Zhang L.J., Webster R.G., and Shortridge K.F. (2002). Emergence of multiple genotypes of H5N1 avian influenza viruses in Hong Kong SAR. PNAS 99:8950-8955.
13. Chen H., Deng G., Li Z., Tian G., Li Y., Jiao P., Zhang L., Liu Z., Webster R.G., and Yu K. (2004). The evolution of H5N1 influenza viruses in ducks in southern China. PNAS 101: 10452-10457.
14. Li K.S., Guan Y., Wang J., Smith G.J., Xu K.M., Duan L., Rahardjo A.P., Puthavathana P., Buranathai C., Nguyen T.D., Estoepangestie A.T., Chaisingh A., Auewarakul P., Long H.T., Hanh N.T., Webby R.J., Poon L.L., Chen H., Shortridge K.F., Yuen K.Y., Webster R.G., and Peiris J.S. (2004). Genesis of a highly pathogenic and potentially pandemic H5N1 influenza virus in eastern Asia. Nature 430: 209-213.
15. WHO (2011). Updated unified nomenclature system for the highly pathogenic H5N1 avian influenza viruses. October 2011. http://www.who.int/influenza/gisrs_laboratory/h5n1_nomenclature/en/index.html
16. FAO (2011). FAO-OIE-WHO Technical Update: Current evolution of avian influenza H5N1 viruses. 7 September 2011. http://www.fao.org/docrep/014/al874e/al874e00.pdf
16a. WHO (2011). Avian influenza situation update in Indonesia. http://www.who.int
17. WHO (2011). Evolution of H5N1 avian influenza virus does not increase risk to public health. 30 August 2011.
http://www.who.int/influenza/human_animal_interface/avian_influenza/h5n1-2011_08_30/en/index.html
18. FAO (2011). Approaches to controlling, preventing and eliminating H5N1 highly pathogenic avian influenza in endemic countries. Animal Production and Health Paper. No. 171. Rome.
19. FAO (2011). H5N1 HPAI. Global overview – April-June 2011. EMPRES/FAO-GLEWS. Issue no. 28.
20. Pfeiffer D.U., Otte M.J., Roland-Holst D., Inui K., Tung N., and Zilberman D. (2011, in press). Review. Implications of global and regional patterns of highly pathogenic avian influenza virus H5N1 clades for risk management. The Veterinary Journal, doi:10.1016/j.tvjl.2010.12.022.
21. Wang J., Vijaykrishna D., Duan L., Bahl J., Zhang J.X., Webster R.G., Peiris J.S.M, Chen H., Smith G.J.D., and Guan Y. (2008). Identification of the Progenitors of Indonesian and Vietnamese Avian Influenza A (H5N1) Viruses from Southern China. Journal of Virology. P. 3405-3414. Doi:10.1128/JVI.02468-07.
22. Smith G.J.D., Naipospos T.S.P., Nguyen T.D., de Jong M.D., Vijaykrishna D., Usman T.B., Hassan S.S., Nguyen T.V., Dao T.V., Bui N.A., Leung Y.H.C., Cheung C.L., Rayner J.M., Zhang J.X., Zhang L.J., Chen H., Peiris J.S.M., and Guan Y. (2006). Evolution and adaptation of H5N1 influenza virus in avian and human hosts in Indonesia and Vietnam. Virology 359: 258-268.
23. Neumann G., Green M.A., and Macken C.A. (2010). Evolution of highly pathogenic avian H5N1 influenza viruses and the emergence of dominant variants. Journal of General Virology, 91: 1984-1995. DOI 10.1099/vir.0.0.20750-0.
24. Wibawa H., Henning J., Wong F., Selleck P., Junaidi A., Bingham J., Daniels P., and Meers J. (2011). A molecular and antigenic survey of H5N1 highly pathogenic avian influenza virus isolates from smallholder duck farms in Central Jave, Indonesia during 2007-2008. Virology Journal 8(425): 1-17. doi:10.1186/1743-422X-8-425.
25. Takano R., Nidom C.A., Kiso M., Muramoto Y., Yamada S., Sakai-Tagawa Y., Macken C., and Kawaoka Y. (2009). Phylogenetic characterization of H5N1 avian influenza viruses isolated in Indonesia from 2003-2007. Virology 390: 13-21. doi:10.1016/j.virol.2009.04.024
26. FAO-OIE-WHO (2011). FAO-OIE-WHO Technical Update: Current evolution of avian influenza H5N1 viruses. 7 September 2011.

*) Penulis bekerja di Food and Agriculture Organization of the United Nations, Vientiane, Laos

0 Komentar: