EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Minggu, 07 Maret 2010

Penyakit Hewan, Globalisasi dan Terorisme


SUARA PEMBARUAN - 23 Oktober 2008

Oleh: Tri Satya Putri Naipospos

Pada dasarnya penyakit hewan memiliki implikasi sangat luas, mulai dari kesehatan individu dan populasi hewan, kesejahteraan masyarakat sampai pada isu keamanan global. Tetapi, justru menjadi satu hal yang mengkhawatirkan apabila pemerintah dan sebagian besar masyarakat Indonesia belum memberikan prioritas memadai pada bidang kesehatan hewan.

Penyakit hewan memiliki pengaruh besar terhadap kecukupan pangan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin bertambah, dan juga implikasinya yang besar pada perdagangan dunia dan bisnis. Terlebih lagi banyak agen penyakit hewan adalah zoonosis - artinya dapat ditularkan ke manusia - jadi implikasi dramatis dapat terjadi pada kesehatan dan ketentraman manusia.

Pencegahan dan pengendalian penyakit hewan menular sangat kritis bagi kepentingan meningkatkan kesehatan masyarakat dalam skala nasional dan global. Belum lagi besarnya kerugian ekonomi dan sosial di negara-negara pengekspor ternak di seluruh dunia akibat penolakan perdagangan hewan hidup dan produk hewan dengan alasan berjangkitnya penyakit hewan menular.

Lagipula, pada era di mana kekhawatiran tentang ancaman terorisme semakin bertambah, dampak potensial penggunaan secara sengaja agen penyakit hewan bukan hanya menimbulkan penderitaan dan kematian, bahkan sampai pada kerusakan ekonomi yang dahsyat.

Kerangka sistem kesehatan hewan nasional di Indonesia meliputi pusat, provinsi, dan kabupaten/kota yang secara umum memiliki mandat berbeda-beda sesuai dengan dasar hukum di masing-masing daerah, serta pihak swasta dan organisasi masyarakat yang melakukan upaya pemeliharaan kesehatan hewan dengan sasaran dan tujuan masing-masing.

Pada masa sebelum berlakunya otonomi daerah, sistem ini boleh dikatakan cukup efektif merespons berbagai kendala dan tantangan kesehatan hewan.

Salah satu tonggak sejarah kesehatan hewan Indonesia adalah keberhasilan membebaskan seluruh wilayah negeri ini dari penyakit mulut dan kuku (PMK) pada 1986. Status ini kemudian diakui secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada 1990.

Sebagian besar negara-negara Asia Pasifik memuji Indonesia karena keberhasilan ini. Suatu perjuangan panjang yang harus dijadikan catatan bagi kemenangan dokter hewan Indonesia dalam mengatasi suatu penyakit hewan menular yang paling ditakuti di seluruh dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, tantangan kesehatan hewan semakin sulit dan bahkan muncul hal-hal yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Salah satu yang benar-benar menjadi tantangan baru adalah munculnya avian influenza (flu burung) secara tidak terduga pada 2003 dan belakangan menjadi kerikil bagi kesehatan hewan Indonesia mengingat penyebarannya pada populasi unggas sudah bersifat endemis dan meluas di 31 provinsi.

Pemanasan Global

Saat ini, kesehatan hewan berada di simpang jalan. Risiko penyakit datang dari berbagai arah, meliputi pengaruh globalisasi perdagangan, restrukturisasi dan konsolidasi pangan dan produksi pertanian global menuju skala komersial besar, interaksi manusia dan hewan kesayangan, keterlibatan manusia ke dalam habitat satwa liar, ancaman bioterorisme dan pemanasan global.

Dampak dari sumber risiko tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebanyak 75% dari penyakit baru yang muncul di dunia adalah zoonosis. Munculnya PMK, penyakit sapi gila (BSE), SARS, West Nile, Nipah, Ebola, dan flu burung merupakan satu peringatan bahwa penyakit-penyakit tersebut dapat mengakibatkan ancaman terhadap penyediaan pangan, ekonomi global, kesehatan masyarakat dan tingkat kepercayaan konsumen terhadap keamanan pangan hewani.

Pada umumnya, penyakit menular yang baru muncul (emerging infectious diseases) merupakan satu diagram bersinggungan dari interaksi satwa liar, hewan domestik, dan populasi manusia.

Dengan melihat perubahan alamiah dari risiko yang harus diatasi dalam kaitannya dengan penyakit hewan, sangat tidak mungkin filosofi yang ada saat ini tentang pola penanganan kesehatan hewan dianggap memadai untuk dibawa ke masa depan.

Dua puluh tahun mendatang adalah masa paling penting dalam sejarah kesehatan hewan di Indonesia. Suatu tantangan bagi profesi dokter hewan untuk memperbarui tanggung jawab sosialnya.

Tidak hanya dalam bentuk mengamankan kesehatan hewan, tetapi juga berperan dalam penelitian-penelitian biomedis, kesehatan masyarakat, sistem pangan, ekosistem dan lingkungan.

Tantangan kontemporer abad ke-21 tidak lagi hanya tentang hewan dan pertanian, tetapi menyangkut keseluruhan sistem ekonomi.

Sudah waktunya peran dokter hewan Indonesia saat ini merintis jalan bagi generasi penerus untuk mulai memperhitungkan keseluruhan interaksi di atas dengan memulainya dari sistem pendidikan kedokteran hewan.

Episode flu burung adalah suatu contoh dimana implikasi wabah penyakit hewan melampaui batas kapasitas yang dimiliki oleh Departemen Pertanian dan pemerintah daerah dalam merespons keadaan darurat. Ke depan perlu dipikirkan kemungkinan penyakit zoonosis baru lain yang muncul dengan asumsi skenario terburuk.

Tanggung jawab ini bukan hanya pemerintah semata, tetapi seluruh jejaring yang terkait dengan profesi dokter hewan dan semua pihak yang bergerak di bidang kesehatan hewan dan peternakan, termasuk industri, organisasi profesi, asosiasi komoditi dan LSM. Semua mempunyai tanggung jawab dalam mencegah timbulnya ancaman wabah penyakit hewan.

*) Penulis bekerja pada World Organization for Animal Health/Office International des Epizooties (OIE), Regional Coordination Unit for South East Asia

0 Komentar: