EPIDEMIOLOGI Veteriner

Calvin Schwabe, widely known as the "father of modern epidemiology". His insightful words, "The critical needs of man include the combating of diseases, ensuring enough food, adequate environmental quality, and a society in which humane values prevail," are even more compelling today.

Senin, 02 Mei 2016

Sebaran Flu Burung Setelah H5N1

KOMPAS, SABTU, 9 APRIL 2016 – OPINI

Oleh TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS

Belakangan ini kita menyaksikan virus flu burung masih berjangkit di beberapa daerah. Kita tidak menyadari selama dua tahun terakhir di seluruh dunia telah muncul subtipe-subtipe baru selain H5N1.

Masalahnya ada 18 tipe H dan 11 tipe N yang berbeda. Kombinasi apa pun mungkin saja terjadi, dan ada galur berbeda dalam setiap subtipe virus, seperti H5N2, H5N3,H5N6, H5N8, H7N2, H7N3, H7N6, H7N8, H7N9, H9N2, dan H10N8. Di antaranya wabah H5N2 dan H7N9 jadi berita utama media internasional.

Para ahli masih mengkhawatirkan virus-virus ini berpotensi menular secara mudah ke manusia dan mengarah pada munculnya pandemi. Adaptasi virus-virus AI dimungkinkan karena perubahan gen virus secara konstan, baik lewat mutasi gen atau pertukaran gen dengan virus influenza yang lain.

Perubahan genetik bisa memodifikasi karakteristik biologis virus, sehingga meningkatkan patogenisitasnya terhadap unggas atau meningkatkan daya penularannya ke manusia. Dengan cara ini terbentuk virus-virus H5N2, H5N6, dan H5N8 yang berasal dari pertukaran gen dengan virus H5N1 yang zoonotik.

Setelah H5N1 deteksi pertama pada 2003 di Tiongkok, virus ini seakan hampir lenyap pada 2004. Begitu kembali, gerakan virus ini tidak terkendali, menyebar ke seluruh Asia di akhir 2004, Eropa Timur (2005), dan bergerak ke Timur Tengah, Afrika dan merebak hampir ke seluruh Eropa pada 2006.

Kenyataannya, virus H5N1 telah menyebar pada populasi unggas di 55 negara. Wabah di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dalam skala rendah masih terus berlangsung hingga kini. Sampai Maret 2016, ada 846 kasus manusia tertular, separuhnya meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, ada 199 kasus manusia tertular, tetapi yang meninggal dunia lebih tinggi (84 persen). 

Wabah unggas 

Sebanyak 309 wabah AI pada unggas dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada 2015, 147 persen lebih tinggi daripada 2014. Sampai musim panas 2014, wabah AI mereda di wilayah Asia Timur. Namun, pada September 2014, selain H5N1, wabah H5N2, H5N3, H5N6 dan H5N8 pada unggas mulai terdeteksi di Tiongkok. Wabah H5N6 dilaporkan di Laos, Vietnam, dan Hongkong.

Wabah yang disebabkan virus H5N8 berpatogenisitas tinggi terjadi Januari-April 2014 di Korea Selatan dan Jepang. Setelah lima bulan tidak dilaporkan, virus H5N8 terdeteksi lagi pada September di Korea Selatan dan November di Jepang. Wabah H5N2, H5N3 dan H5N8 dilaporkan di Taiwan awal 2015.

Virus H5N8 yang dimulai di Korea Selatan dan Jepang diasumsikan bergerak ke Eropa akhir 2014 melalui invasi burung migran. Sejak itu, terjadi sejumlah wabah di sejumlah negara di Eropa dari subtipe virus H5N8 dan H5N2 yang bertukar gen.

Wabah H5N8 pada unggas komersial pertama kali terdeteksi di Jerman pada November 2014, diikuti Belanda, Inggris dan Italia. Akibat wabah ini, Indonesia menutup impor bibit ayam dari Jerman, Belanda dan Inggris.

Virus H5N8 di AS pertama kali diisolasi dari burung-burung liar hasil tangkapan, kemudian dari ayam belakang rumah pada Desember 2015. Virus ini kemudian ditemukan juga pada peternakan kalkun komersial pada Januari 2015. Wabah H5N2 terburuk yang menyerang peternakan unggas komersial secara luas terjadi di AS pada Maret 2015. Akibat wabah ini, 50 juta ekor unggas telah dimusnahkan dengan penyebaran di 20 negara bagian. Dampaknya lebih dari 40 negara (termasuk Indonesia) melarang impor unggas dari AS.

Begitu juga wabah yang disebabkan subtipe H7 muncul dalam dua tahun terakhir. Wabah H7N3 dilaporkan di Meksiko, wabah H7N7 di Inggris dan di awal 2016 wabah H7N8 di AS.

Sejumlah virus AI, selain H5N1, yang dapat menular ke manusia, meliputi H7N3, H7N7, H7N9, H9N2, dan H10N8. Beberapa dari infeksi bisa sangat hebat dan bisa menimbulkan kematian, tetapi banyak juga yang ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala pada orang.

Virus baru hasil pertukaran gen yang muncul pada 2013 di Tiongkok adalah H7N9. Sampai Maret 2016, 791 kasus manusia dilaporkan dan 38 persen diantaranya meninggal dunia. Sifat patogenisitas virus H7N9 pada unggas rendah dan tidak menunjukkan gejala klinis, sehingga sulit mendeteksinya pada populasi unggas.

Infeksi sporadis pada manusia dengan virus-virus H5N6, H9N2, dan H10N8 juga dilaporkan. Kasus H5N6 pertama kali menular ke manusia terjadi di Tiongkok pada Mei 2014, menyebabkan tiga orang terinfeksi dan dua meninggal dunia.

Virus H9N2 perlu diamati secara cermat karena jadi pendonor gen bagi virus H5N1 dan H7N9. Mesir juga melaporkan kasus H9N2 pada manusia.

Virus H10N8 pertama kali dilaporkan pada November 2013 juga di Tiongkok, menyebabkan tiga orang terinfeksi dan dua meninggal duna. Hasil penelitian menunjukkan, pasar unggas hidup merupakan sumber infeksi virus H10N8 tersebut.

Dinamika global

Virus AI menyebar melalui kotoran dan cairan hidung dari burung-burung liar. Sebagian besar burung-burung ini tidak menunjukkan gejala klinis terinfeksi. Burung-burung yang sehat ini terus terbang mengikuti jalur terbang masing-masing.

Secara kasar di dunia ini ada sembilan pola jalur terbang burung yang berbeda satu sama lain. Selain jalur terbang Amerika Utara yang terpisah, kebanyakan saling tumpang tindih di Kutub Utara. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan burung-burung liar dari Asia, menyebarkan virus ke burung-burung liar lainnya yang kemudian membawa virus tersebut ke berbagai negara.

Meskipun tidak diketahui pasti kemana arah dinamika global virus AI, tetapi dunia harus tetap waspada. WHO telah mengingatkan tentang diversitas dan distribusi geografis virus-virus AI yang bersirkulasi pada unggas domestik dan liar yang memang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sinyal yang mengindikasikan virus influenza, terutama milik unggas, saling menukarkan material genetik memicu munculnya virus baru. Untuk itu, para ahli harus menggunakan surveilans modern dan alat analisis genetika secara berkelanjutan.

TRI SATYA PUTRI NAIPOSPOS
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies

0 Komentar: